PERSPEKTIF

Minggu, 18 November 2018 - 12:43

4 minggu yang lalu

logo

Yukon – via yukon-news.com

Yukon, Halmahera dan Antagonisme Pertambangan

Peradaban manusia telah mengenal produk pertambangan sebagai komoditas langka yang sangat berharga sejak berabad-abad lampau, produk-produk ini bagaimanapun telah menjadi simbol kekuasaan dan juga kemakmuran yang bertahan hingga saat ini, di pasar global produk hasil tambang seperti emas bahkan tidak tersentuh oleh pengaruh inflasi. Karena itulah, di tempat di mana terdapat pertambangan emas dan perak (serta komoditas tambang lainnya), isu-isu kesejahteraan senantiasa berhembus secara antagonistik, berdampingan dengan realitas terbalik yang diwarnai dengan hegemoni, konflik, kemiskinan serta masalah-masalah lingkungan.

Ilustrasi Pertambangan Emas – via Tribunnews.com

Apakah pertambangan selalu membawa mitos kesejahteraan ataukah ada trayek tertentu di mana kesejahteraan dapat hadir secara nyata dalam masyarakat, paling tidak di sekitar lingkar tambang? Jawaban atas pertanyaan ini tidak sekedar didapat dengan melihat realitas, namun juga prinsip ideal yang seringkali diabaikan dalam kebijakan pertambangan. Fakta bahwa terpinggirkannya masyarakat dalam wacana pertambangan sesungguhnya justru dimulai ketika kampanye pertambangan untuk pembangunan digaungkan, seharusnya ini menjadi titik berangkat kita untuk mendiskusikan ulang kebijakan industri pertambangan yang cenderung memarjinalkan masyarakat sekitar serta pengabaian masif terhadap sektor lain di luar pertambangan.

 

Dari Yukon ke Halmahera

Jauh sebelum geolog Belanda bernama Jean Jacques Dozy menemukan potensi tambang emas Ertsberg di Papua, yang kemudian menjadikannya sebagai satu-satunya tempat dengan cadangan pertambangan emas, perak dan uranium terbesar di dunia, aktivitas pertambangan rakyat di Yukon (daerah perbatasan di Alaska-Kanada) telah bergeliat, persis 50 tahun setelah Amerika Serikat membeli daratan Alaska dari Rusia dengan biaya hanya sebesar 7,2 juta dollar Amerika Serikat pada tahun 1867.

Meski menambang emas dengan peralatan sederhana hanyalah upaya mencari peruntungan semata, namun usaha tersebut memiliki potensi yang menggiurkan, tak heran, sampai detik ini banyak penduduk dari luar Alaska yang berbondong-bondong datang ke Yukon, tidak jarang mereka menginvestasikan ratusan ribu dollar untuk menyewa alat-alat berat dan peralatan pertambangan yang mempunyai mobilitas untuk menjangkau kawasan-kawasan tertentu yang mereka perkirakan terdapat kandungan emas.

Sungai Klondike, Yukon – via travelyukon.com

Tanpa adanya perusahaan tambang raksasa multinasional yang beroperasi secara masif, Yukon telah memberikan gambaran dari trayek baru aktivitas pertambangan rakyat yang menjanjikan kesejahteraan yang episentrumnya tidak hanya terletak pada pertambangan itu sendiri (Saxinger & Gatler, 2015). Di sisi yang lain eksotisme Yukon juga membuat orang-orang datang ke sana sebagai wisatawan, bukan hanya sebagai pencari emas. Laporan terbaru menunjukkan bahwa ekonomi daerah berpenduduk kecil tersebut dari tahun 2017 meningkat 4,4 % di tahun 2018, selain sektor pertambangan, penguatan ekonomi tersebut juga ditunjang dari sektor pariwisata, di Yukon, industri pertambangan telah sukses mendongkrak industri pariwisata.

Sebagaimana Yukon, pulau Halmahera di Maluku Utara adalah satu di antara sedikit tempat di bumi yang ‘beruntung’ karena dilimpahi oleh kandungan emas, perak dan nikel. Bagaimana tidak? Emas, perak, uranium dan beberapa komoditas unggulan pertambangan adalah materi yang tidak dibuat di bumi, ia berasal dari luar angkasa, elemen-elemen ini hanya dapat diproduksi melalui proses yang rumit dari ledakan bintang (supernova) yang kemudian menyebarkannya ke seluruh penjuru alam semesta, butuh waktu bermilyar-milyar tahun agar elemen-elemen berbentuk partikel ini membentuk materi emas yang mengendap di perut bumi (Helgren, 2016). Karenanya, riset terbaru yang menyebutkan bahwa di perut Halmahera terkandung cadangan emas, perak dan produk pertambangan yang berlimpah, seharusnya menjadi kabar yang patut disyukuri oleh seluruh penduduk pulau itu.

Halmahera – via Okezone.com

Selain cadangan sumberdaya pertambangan yang melimpah, Halmahera juga dikaruniai oleh pemandangan alam yang luarbisa, kontur alam khas pinggiran pasifik dengan nuansa tropis menjadi andalan yang juga bisa dikembangkan menjadi destinasi unggulan di sektor pariwisata. Namun begitu, Halmahera berbeda nasib dengan Yukon. Di sini, pertambangan adalah eksklusifitas tanpa batas, pembangunan ekonomi mungkin sepenuhnya bergantung pada sektor ini, akibatnya sektor-sektor lain tidak dikembangkan secara serius dan cenderung diabaikan.

Tidak adanya ‘sektor satelit’ yang menopang pembangunan ekonomi tentunya mengancam keberlanjutan proses pembangunan di Halmahera itu sendiri, sebab kita tahu bahwa industri pertambangan adalah industri yang terbatas. Sebagai gambaran, andaikata sumberdaya pertambangan di Yukon habis, masih ada sektor pariwisata yang bisa diandalkan untuk mendongkrak perekonomiannya, pikirkan, jika sumberdaya pertambangan di Halmahera habis, sektor apa yang benar-benar siap menggantikannya?, tentu belum ada, oleh karena itu maka orientasi industri pertambangan seperti yang ada saat ini harus ditinjau kembali.

 

Mengeliminir Pertambangan Antagonistik

Selama ini kesejahteraan yang selalu diiming-imingi oleh industri tambang yang dijalankan oleh korporasi adalah berjalannya fungsi produksi negara. Secara teknis, pertambangan menghasilkan output tenaga kerja, modal, energi, material dan berbagai output lainnya (Davis & Tilton, 2002). Dengan mengandalkan industri pertambangan, maka suatu negara atau daerah dapat menyokong proyek pembangunan, seperti infrastruktur jalan, perumahan, rumah sakit serta beragam fasilitas publik lainnya. Selain itu, pemerintah dan masyarakat lokal sekitar kawasan tambang juga diharapkan mendapatkan efek menetes (trickle down effect) dari aktivitas industri pertambangan seperti terbukanya lapangan pekerjaan, pembelian lahan, investasi berbasis komunitas, kompensasi, dan tentunya aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR).

Jargon-jargon bahwa masyarakat sekitar dapat mengembangkan kehidupan ekonominya berkat adanya aktivitas pertambangan yang dijalankan oleh korporasi seperti ini nampaknya tidak begitu terlihat menunjukkan hasil yang baik bagi masyarakat Halmahera, watak ekonomistik jangka pendek yang selama ini dijalankan oleh pemerintah nyatanya hanya memunculkan wajah industri pertambangan secara antagonis di dalam proses pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan, pun muaranya pada pembangunan infrastruktur publik tidak selalu bertujuan untuk meningkatkan berbagai sektor kehidupan ekonomi masyarakat namun justru untuk mendorong kelancaran investasi industri pertambangan itu sendiri.

Pemerintah daerah di pulau Halmehara perlu belajar dari otoritas di Yukon, bahwa industri pertambangan tidak hanya berperan secara praktis dalam pembangunan berbasis infrastruktur, namun juga berperan untuk menunjang tereksplorasinya sumberdaya-sumberdaya di sektor lain, sebutlah sektor pariwisata, kelautan, perikanan dan atau pertanian. Prinsip yang perlu diterapkan dalam konteks ini adalah pengelolaan hasil sumberdaya terbatas (pertambangan dll) untuk merintis jalan menuju pengelolaan sumberdaya alam yang tak terbatas (pariwisata, kelautan dll).

Pariwisata Halmahera – via Liputan6.com

Wajah lama industri pertambangan yang penuh dengan isu-isu negatif seperti ancaman keberlangsungan lingkungan, pencemaran air, praktik korupsi pejabat daerah hingga konflik-konflik sosial dengan masyarakat sekitar tentu dapat diubah menjadi lebih ‘protagonis’ dengan sedikit mengalihkan orientasi ke pengembangan sektor lain. Ide pembangunan lintas sektor di mana suatu sektor unggulan mendongkrak sektor lain untuk berkembang maju, sepertinya menarik untuk dicoba di pulau Halmahera. Namun begitu, lagi-lagi ini semua bergantung pada kebijakan pemerintah daerah, apakah pemerintah di Halmahera memiliki isi pikiran yang sama seperti otoritas di wilayah Yukon? Entahlah!.

 

Referensi

  • Davis & Tilton, Graham A. dan John E. 2002. “Should developing Countries Renounce Mining? A Perspective on The Debate”. Versi 12 Desember. Diunduh dari http://inside.mines.edu/~gdavis/papers/davis_and_tilton_2002.pdf (17/11/2018).
  • Helgren, Vide. 2016. Asteroid Mining – A Review of Methods and Aspects. Tesis di Department of Physical Geography and Ecosystem Science, Lund University. Diunduh dari https://lup.lub.lu.se/luur/download?func=downloadFile&recordOId=8882371&fileOId=8884121 (17/11/2018)
  • Saxinger, Gerti dan Gatler, Susan. 2015. Behind the Scenes in Yukon Mining. 5 Oktober 2015, Mayo. Dipresentasikan pada LACE Project di Mayo. Diunduh dari http://yukonresearch.yukoncollege.yk.ca/wpmu/wp-content/uploads/sites/2/2014/05/LACE-folder.pdf (17/11/2018)

 

Penulis:

Muhammad Guntur Cobobi

(Redaktur Jalamalut.com)

Baca Lainnya