JELAJAH

Senin, 11 Februari 2019 - 21:30

5 bulan yang lalu

logo

Tiba di Tidore, Pinisi Bakti Nusa Menyapa Nusantara

“Jalesveva Jayamahe..!!!, Jalesveva Jayamahe..!!!

Seruan itu menggelegar dari mulut salah seorang Anak Buah Kapal (ABK) Pinisi Bakti Nusa, dari atas tiang layar secara berulang. Pria berambut gondrong itu menggunakan sarung warna hitam,  serta kaos hitam bertuliskan ‘Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa’, dengan penutup kepala khas Bugis Maksssar.

Sesaat kemudian, kapal buatan warga Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan itu, berlabuh sempurna di Dermaga Trikora, Kota Tidore Kepulauan, Senin 11 Februari 2019.

Rombongan disambut dengan doa yang dipanjatkan oleh tokoh adat Kesultanan Tidore, lalu dibarengi dengan tarian kapita atau tarian perang, yang dimainkan oleh tujuh orang bocah.

“Terima kasih atas sambutannya. Sungguh kami sangat terharu,” ujar Ade Suraatmaja, Koordinator dan Penanggung Jawab Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa.

Koordinator dan Penanggung Jawab Ekspedisi Bakti Nusa, Ade Suraatmaja [Berambut gondrong mengenakan topi], Nakhoda atau Skipper lapal layar Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa, Irdham Awie [tengah mengenakan kacamata] dan salah satu kru kapal. Ketiganya didampingi Sekretaris Kota Tidore Kepulauan, Asrul Sani Soleman dan perangkat adat Kesultanan Tidore. Foto | Nurkholis/Jalamalut

Dijelaskan Suraatmaja, Tidore adalah titik ke 17 dari rencana 74 titik yang akan disinggahi. Sebelumnya, mereka telah menyinggahi Pelabuhan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat dan Kota Ternate.

Dikatakan Suraatmaja, ekspedisi semestinya dilakukan pada 17 Agustus 2018. Namun terkendala, termasuk bencana alam. “Jadi kita turun dulu di lokasi bencana alam. Nanti Desember baru bisa berangkat,” jelasnya.

Di hadapan jajaran Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, Suraatmaja memperkenalkan para kru dan latar belakang relawan, yang ikut dalam ekspedisi tersebut.

“Jumlah ABK 6 orang. Sedangkan relawan 14 orang. Mereka terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda, namun punya satu visi dan misi yang sama. Ada seniman, bahkan ada orang kehutanan juga,” ungkapnya.

Suraatmaja memaparkan, ada yang naik dari Makassar, kemudian turun di Kendari. Naik dari Kendari, turun di Manado, kemudian dari Manado akan ikut bertolak ke Raja Ampat, Papua.

“Begitu seterusnya. Kita in-out. Jadi kita buka kesempatan yang mau ikut dalam ekspedisi ini. Ada website kita. Jadi siapapun yang mau ikut, silahkan mendaftar. Karena tidak secara full kita terima,” tuturnya.

Usai acara penyambutan, Sekretaris Kota Tidore Kepulauan, Asrul Sani Soleman, beserta rombongan diajak naik mengelilingi seisi kapal berkapasitas 55 Gross Tonage (GT) dengan panjang 24 meter, lebar 6 meter, dan memiliki dua tiang layar setinggi 10 meter itu.

Tarian Kapita yang diperagakan oleh tujuh orang bocah saaat menyambut kedatangan rombongan Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa | Foto : Nurkholis/Jalamalut

Di hadapan kru kapal, Asrul bilang dulunya hubungan antara Kerajaan Tidore, Bone, dan Gowa sangat dekat. “Jadi prosesi penyambutan secara adat tadi adalah pengulangan peristiwa sejarah. Itu adalah cara kesultanan Tidore menyambut para raja-raja di nusantara,” jelas Asrul.

Setelah diluncurkan di Makassar pada 15 Desember 2018, kapal dengan nama KLM Pinisi Pusaka Indonesia untuk Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa ini, bertolak ke Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba, atau tepat di pesisir selatan Sulawesi.

Kapal yang dinakhodai oleh Irdham Awie, pria kelahiran Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan ini, tiba pada Selasa 18 Desember 2018. Di sinilah kapal yang sempat bikin heboh di era Soeharto itu berasal.

Setelah dari Bira, kapal lanjut berlayar, setidaknya akan mengarungi 11 ribu mil laut dan menyinggahi 74 titik pelabuhan untuk melaksanakan serangkaian kegiatan. Seperti kampanye konservasi, riset kelautan, aksi panggung maritim, hingga penyerahan bantuan kepada masyarakat pesisir. Rencanannya, misi pelayaran berakhir menjelang ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2019 mendatang.

Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa adalah bagian dari peristiwa yang sangat fenomenal. Pinisi Bakti Nusa adalah bukti keunggulan tradisi maritim Indonesia, yang mampu berlayar melintasi luasnya lautan Indonesia, bahkan dunia.

Ekspedisi ini bakal membuktikan ketangguhan perkawinan kreasi maritim nusantara dengan perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi modern dunia yang serba canggih

Berangkat dari Keprihatinan

Ingatan Suraatmaja melayang ke beberapa tahun silam, ketika bercerita tentang kapal dengan nama KLM Pinisi Pusaka Indonesia ini. Dia bilang, kehadiran kapal ini berawal dari ide dan khayalan beberapa kawan-kawan di Makassar.

Mereka mengaku prihatin. Sebab ketika berbicara maritim, saat itu justru Pinisi belum diakui oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). “Ironis banget,” tutur pria gondrong ini, saat ditemui di atas kapal di Pelabuhan Trikora, Tidore.

Sehingga perlahan-lahan, beberapa di antaranya mencoba mewujudkan dengan berbagai cara. Mulai dari patungan, hingga sumbangan dari para dermawan. “Ada yang nyumbang uang hingga kayu,” jelasnya.

Kapal pun dibuat di salah satu kawasan pantai di Makassar. Sengaja dibuat di situ agar masyarakat juga ikut menyaksikan proses pembuatannya.

Sementara, tukangnya didatangkan langsung dari Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba. Salah satu wilayah yang terkenal dengan pembuatan kapal pinisi. “Akhirnya, kurang lebih 4 bulan kita bisa wujudkan ini, walaupun belum cukup sempurna,” ujar dia.

Terkait rute yang akan dilayari, dikatakan Suraatmaja, ada beberapa titik yang tidak sempat disinggahi. Seperti Wakatobi di Sulawesi Tenggara. Karena gelombang cukup besar. Sebab jika dipaksakan, maka akan terlambat untuk tiba di titik selanjutnya.

“Kendala saat ini adalah tiupan angin barat. Sehingga harus berhati-hati dengan kondisi cuaca. Karena bagaimana pun juga, safety adalah hal utama,” katanya.

Soal kondisi kru kapal, mereka masih dapat menjaga ritme semangatnya. Diakui Suraatmaja, perjalanan yang sudah memakan waktu beberapa bulan ini tentu memiliki kendala.

Kapal Pinisi Bakti Nusa berlabu di Pelabuhan Trikora Tidore | Foto Nurkholis/Jalamalut

“Pastilah, sudah beberapa bulan berlayar ini kadang-kadang ada yang tidak mood, ada yang sakit, ada yang mabuk laut. Tapi masih bisalah dilanjutkan perjalanannya,” tuturnya.

Dalam ekspedisi, ada beberapa Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) yang terlibat sehingga dibagi dua tim, yakni laut dan darat. Ketika tim darat membuat kegiatan, tim laut akan mendukung.

“Jadi saling mendukung. Kalau kita cuma jalan di laut, orang di darat tidak ada kegiatan, kan percuma. Jadi seperti jaring laba-laba gitu. Jadi ekspedisinya dibuat pararel,” jelasnya.

Dijelaskan Suraatmaja, untuk di Tidore, selain ada kegiatan berupa membawa anak-anak berkeliling, ada juga open ship. Kemudian penanaman terumbu karang yang akan dilakukan di taman pantai Tugulufa, Soasio. “Kebetulan kita dapat bantuan alat selam dan kompresor,” katanya.

Rencanannya, jika cuaca memungkinkan, kapal akan menuju ke Ternate untuk pengisian bahan bakar minyak. Setelah itu bertolak ke Raja Ampat. “Kita rencana ke Pulau Bacan, tapi kalau cuaca tidak memungkinkan kita akan skip (melewati) di situ (Bacan),” tambahnya.

Terkait bantuan finansial, dikatakan Suraatmaja, mereka tidak dibackup oleh orang berduit. Tetapi semua benar-benar murni patungan. Seperti dari ISKINDO, yayasan, bahkan dari perorang. “Ada yang nyumbang genset. Pokoknya yang kecil-kecil begitulah,” tuturnya.

“Perjalanan kami masih panjang. Mudah-mudahan, dari sini kita mendapat semangat untuk menyelesaikan ekspedisi ini,” harap Suraatmaja menutup wawancara.

 

Penulis : Nurkholis Lamau/Kru Jalamalut

Baca Lainnya