TELAAH

Senin, 29 April 2019 - 21:40

3 minggu yang lalu

logo

Pulau Ternate/jalamalut/ Faris Bobero

Ternate dan Kenangan yang Tak Habis Dicatat

Catatan sejarah, menjadi salah satu bukti, mengapa Ternate, sebuah kota kecil di timur Indonesia begitu memesona. Sebelum eksotisme teluk Sulamadaha dan pesisir pantai Tobololo dikenal para pengunjung atau pendatang, kota ini telah menandai suatu sejarah panjang.

Alfonso de Albuquerque, tokoh besar Portugis di masa lalu, barangkali tak menduga, Francisco Serrao yang diutusnya beserta armada ke Ternate untuk mencari rempah-rempah, adalah kota atau pulau paling berkesan bagi beberapa penjelalah dunia.

Alfred Russel Wallace, sosok peletak dasar pengetahuan modern, bahkan pernah bermukim di kota ini selama empat tahun. Dari pulau kecil inilah, Wallace menandai sejarah flora dan fauna. Dari sini pula, ia menulis surat kepada Charles Darwin, yang berada jauh di kepulauan Galapagos.

Surat itu kemudian, menjadi narasi penting bagi Darwin menerbitkan karyanya, Origin of Species, pada 1859. Wallace memang punya banyak kenangan di kota ini. Pengembaraannya di Ternate dan pulau-pulau sekitar, bahkan dikisahkannya.

Dalam beberapa catatan sejarah, saat tiba di Ternate, pada 8 Juni 1858, Wallace menulis, “Letaknya sangat strategis sehingga pemandangan di segala penjuru tampak jelas. Di balik kota, berdiri gunung api yang lerengnya landai dan tertutup pohon buah-buahan.” Barang kali bukan hanya Wallace, ada banyak penjelajah yang mencatat kesannya saat tiba di Ternate.

Ternate memang telah melintasi fase paling bersejarah di Nusantara. Meski jejak kolonisasi membekas, tak membuat pulau ini tergerus. Ternate hari ini adalah wajah kota masa depan di timur Indonesia. Ruang kota yang penuh dengan jejak sejarah disertai bangunan publik yang artistik, membuat sisi lain kota ini semakin menarik.

Meski begitu, tantangan terberat hari ini adalah merawat ekosistem kota menjadi lebih ramah. Belajar dari kota-kota maju di dunia, pemanfaatan ruang publik kota selalu disertai dengan kaidah-kaidah, seperti yang ditulis Ernest Callenbach, dalam buku Kota dan Lingkungan (1999).

Memiliki sejarah kesultanan yang besar, kaidah pembangunan kota ini tentu perlu mengikuti narasi atau nilai yang mengitarinya. Ernest menggunakan istilah “kaidah lama” dan “kaidah baru”.

Selain menjaga ekosistem kota, masyarakat perkotaan dituntut untuk memperbaiki sikap dengan membuang kaidah lama. Sampah atau limbah, misalnya. Kaidah lama menjelaskan masyarakat lebih instan, seperti membeli tisu atau minuman kaleng. Bisa langsung dibuang setelah dipakai. Ernest menyebutnya “etika pemborosan” atau hanya memikirkan hidup dari aspek ekonomi semata.

Namun, untuk kota yang ramah, ruangnya harus diisi dengan perilaku kaidah baru, yang mementingkan dampak terhadap tujuh generasi mendatang. Hal ini juga bisa dilakukan pada penanganan penduduk, energi, transportasi, hunian, kebahagiaan, dan investasi.

Ternate telah memulai. Beberapa ruang publik ramai dikunjungi dan diisi dengan kegiatan-kegiatan yang sarat nilai sejarah. Salah satu benteng peninggalan Belanda di kota ini, yakni Fort Oranje, juga diaktifkan untuk rutinitas para pelaku komunitas kreatif.

Ruang publik telah menemukan definisinya di kota ini. Sebagaimana gagasan Jurgen Habermas, sosiolog dari Jerman. Ruang publik harus terlepas dari tendensi yang menjajah atau memaksa. Biarkan masyarakat mandiri memanfaatkan ruang, membicarakan seni, karya buku, atau sekadar kongko mendiskusikan minat dan tujuan.

Rutinitas inilah yang membuat beberapa orang atau pengunjung kerap sulit melupakan keramahan Ternate. Seberapa lama pun mereka di sini; menikmati kopi atau sekadar duduk di tepi kota, kenangan itu sungguhmembekas.

Penulis: Rajif Duchlun | Kru Jalamalut

 

 

Baca Lainnya