PERSPEKTIF

Rabu, 5 Desember 2018 - 11:41

2 minggu yang lalu

logo

Surat dari Pulau Doom

Aku ingin menyapa kalian yang jauh di sana, bahwa di pulau kecil ini, kami merindukan tanah asal, sejarah, dan falsafah nilai yang masih melekat diingatan kami. Tempat dimana sejarah masa lampau dilahirkan, yang takkan pernah kami lupakan selamanya.

Pada 24 November 1989, aku lahir di pulau kecil nan indah ini, Pulau Doom, Distrik Kepulauan Sorong, tepatnya di Provinsi Papua Barat. Meski terlahir di tanah Papua, aku tak mungkin lupa, dari mana leluhurku berasal, di Kepulauan Halmahera-Maluku Utara, tempat dimana setiap kisah didengungkan para keluarga soal kekayaan alam, budaya dan literatur sejarah dunia yang dilupakan. Yang kutahu, di sanalah, tempat rempah-rempah pernah menjadi kiblat dunia.

Dermaga Pulau Doom, 4 Desember 2018 (Foto.Nurmawati Karim)

Kita tak akan membicarakan soal identitas dan informasi Pulau Doom, sebab pastinya banyak sumber yang didapat untuk mencari tahu informasi di sini. Internet, baik blog, media online, serta literatur buku, banyak memuat soal informasi pulau itu. Namun saya akan bercerita soal beragam suku masyarakat perantauan Maluku Utara yang berdomisili di pulau ini, tak terkecuali tempat darimana leluhurku berasal Tidore.

Sebagian dari perantauan Maluku Utara tak hanya meliputi warga Tidore semata, ada juga yang berasal dari pulau Halmahera, Kepulauan Sula, Bacan, dan Ternate. Tak hanya itu, berbagai penduduk multi-etnis selain Maluku-Utara pun juga berdomisili di sini sejak puluhan bahkan ratusan tahun.

Hubungan Kekerabatan

Di sini, Anda setiap saat akan menjumpai orang-orang asal Maluku Utara. Meski terbilang banyak, tak  ada paguyuban yang mengatur pertemuan kami. Sifat kekerabatan kami selalu dimulai dengan komunikasi. Semua berubah usai paguyuban baru Maluku-Utara terbentuk di tahun ini.

Kemarin, tepat pada Minggu 18 November 2018, untuk pertama kalinya Musyawarah Ikatan Keluarga Besar Maluku Utara Distrik Sorong Kepulauan Kota Sorong diselenggarakan di Pulau Doom. Pada sidang pleno pemilihan Formatur, terpilih 3 (Tiga) Kandidat Calon Formatur. Proses dilakukan dengan pemilihan secara demokratis dan transparan. Hebohnya, namaku masuk dalam bursa pencalonan, tapi dengan berat hati, aku mengundurkan diri. Jujur aku belum siap untuk mengelola organisasi sebesar ini.

Dari ketiga calon kandidat, Junaidi Aufat berhasil terpilih. Pria asal Sanana (Kepulauan Sula) itu yang juga aktif bekerja sebagai anggota Polisi di kesatuan Brigadir mobil (Brimob) Detasemen C, Sorong, POLDA Papua-Barat bersedia terpilih menjadi ketua.

Posisi Wakil Ketua, dijabat oleh Syahban Ade Bani, pria asal Ternate yang kini aktif sebagai Anggota Polisi Air dan Udara (POLAIRUD) Manokwari Kepolisian daerah (POLDA) Papua Barat, yang sedang ditugaskan di pulau Doom.

Sedang jabatan Sekretaris, Ali Mailera, pria berdarah Tidore-Soasio yang juga merupakan Anggota  TNI yang bertugas di Komando Distrik Militer (KODIM) Sorong Papua Barat akhirnya terpiih.

Jejak Terbentuknya Paguyuban Maluku Utara

Ikatan Keluarga Besar Maluku Utara (IKBMU) di sini memiliki kisah panjang. Ide berdirinya ikatan ini berawal dari inisiatif 3 pemuda yang berniat membentuk paguyuban Maluku-Utara guna mempererat tali silaturahmi antar warga perantauan Maluku-Utara di sini, tepatnya di Pulau Doom. Inisiatif itu muncul setahun lalu (2017). Ketiga pemuda itu yakni Zulfikar, Amin Yusuf dan Munawir Yunus.

Musyawarah pertama, Ikatan Keluarga Besar Maluku-Utara Distrik Sorong Kepulauan, Kota Sorong, 18 November 2018 di Pulau Doom. (Sumber : Nurmawati Karim)

Zulfikar adalah pemuda rantauan asal Kota Ternate, sedang Amin Yusuf dan Munawir Yunus adalah pemuda asal kepulauan Joronga, Kabupaten Halmahera-Selatan. Ketiganya bekerja sebagai juru mudi ‘Taxi laut’ jalur Doom-Kota Sorong dan sebaliknya.

Sebutan ‘Taxi laut’ di sini adalah sebutan bagi kendaraan umum laut kapal perahu motor yang menawarkan jasa penyeberangan penumpang. Meski ketiganya hanya bekerja sebagai juru mudi, ketiganya sangat menginginkan terbentuknya paguyuban untuk mengayomi para warga perantauan Maluku-Utara di sini.

Ide itu mereka sampaikan ke para tetua Maluku Utara di sini. Mereka bertemu bapak Hi.Bafadal untuk menyampaikan pendapat ini. Bukannya memberi pertimbangan, beliau langsung merespon baik dan menyetujui ide ketiganya.

“Kenapa dari dulu tidak jalan? Bergerak…! tidak apa, sebab dengan adanya kegiatan bagini kita tahu bahwa warga Maluku-Utara di Pulau Doom ini ternyata banyak, intinya kebersamaan,” ujar Hi Bafadal yang dulu merupakan seorang Imam Masjid di sana.

Foto. Warga Maluku Utara yang hadir dalam Musyawarah (Sumber. Nurmawati Karim)

Usai mendapat respon baik, ketiganya mulai mensosialisasikannya ke para perantauan warga Maluku-Utara di sana. Ada yang setuju, adapula yang kurang menanggapi usaha mereka. Namun ketiganya semangat menjalankan usaha mereka. Hampir setahun, paguyuban kian tak jelas, rencana menggelar Musyawarah pun tak pernah terwujud. Hingga pada akhirnya momentum itu terselenggarakan, niat mereka kini pun terwujud.

Warga perantauan Halmahera-Maluku Utara di Pulau Doom terbilang banyak. Entah sejak kapan para perantau telah berada di sini. Lagipula jarak dari kota Sorong ke Pulau Doom tak terbilang jauh, sekitar 15 menit menggunakan perahu motor untuk tiba di sini. Bahkan dari Maluku-Utara, kami dapat mengakses perjalanan ke sana dengan Kapal laut (PELNI) hanya dengan waktu sehari.

Meski jauh dari negeri asal, kami masih tetap mewariskan falsafah negeri kami (Maluku-Utara) yakni “Marimoi ngone futuru”, yang tak lain berarti “bersatu kita teguh”. Suatu nilai yang tak mungkin kami tukar dengan ego dan amnesia historis yang pernah mengisahkan bagaimana kejayaan lama pernah terpatri di pesisir barat Pulau Cendrawasih ini. Demikian kisah yang dapat kuceritakan dari negeri kami. (*)Nurmawati Karim(Warga Pulau Doom asal Tidore, Maluku-Utara)

 

Baca Lainnya