JEJAK

Selasa, 5 Februari 2019 - 01:23

5 bulan yang lalu

logo

Serba-serbi Kendaraan Oto Di Tidore

Di Maluku Utara, istilah ‘Oto’ adalah sebutan yang disematkan bagi kendaraan roda 4 atau mobil. Meski demikian, tak hanya Maluku Utara saja yang menggunakan istilah oto, sebagian daerah kawasan timur pun menggunakan istilah ini, sebut saja di Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Maluku.

Walaupun kata Oto sudah mewakili kendaraan mobil secara keseluruhan, namun terlebih di Maluku Utara turunan definisi Oto sendiri mencabangkan berbagai definisi berdasarkan fungsinya.

Misalkan mobil pribadi, di daerah ini disebut nya’Oto pribadi’ sedang mobil angkutan umum di sebutnya pula ”Oto umum’ atau Oto penumpang’.

Bicara soal Oto penumpang, di Tidore, salah satu kawasan definitif Provinsi Maluku Utara memiliki cabang definisi turunan. Berbeda dengan beberapa wilayah lain di Maluku Utara akan definisi tunggal Oto penumpang, di Tidore

Di Tidore, kendaraan umum (Plat kuning) roda empat (Mobil) disebut dengan 2 sub istilah, pertama adalah Oto Mikro dan kedua adalah Oto pangkalan. Namun sebelumnya ada 1 jenis angkutan umum yang telah kian sirna ditelan zaman, yakni ‘Oto keri’ . Kita akan bahas satu per satu soal mengapa ketiga sub jenis ini diistilahkan demikian.

Oto pangkalan

Oto pangkalan adalah angkutan umum mobil yang berbeda dengan jenis Oto penumpang lainnya. Meski oto umum  penumpang banyak diketahui menggunakan jenis mobil Mistusbishi Colt TS-T120SS dan Suzuki Carry van 5 Speed 1989 dan Suzuki Carry Extra 1000 5 Speed. Pada oto pangkalan kebanyakan menggunakan mobil jenis Kijang tipe Grand dan LX.

Adnan, seorang pengemudi layanan umum oto di Pelabuhan Rum mengungkapkan kapan pertama kali maraknya jasa layanan dan pendapatan oto dari tahun ke tahun di Tidore. Menurutnya dari waktu ke waktu tarif kendaraan cenderung naik.

“Usaha ini mulai muncul pertama kali di Tidore pasca tahun 2000 namun hanya satu dua mobil saja. Saat itu tarif jasa antar sekisar 50 ribu Rupiah per sekali antar (Dari Pelabuhan Rum ke kota Soa Sio), namun kini Tarif sekarang berkisar 150 ribu hingga 200 ribu rupiah”.

Tiap Kelurahan memiliki pengusaha oto

Adnan menambahkan “Oto pangkalan rata-rata bukan milik para pengemudi, melainkan milik para penyedia atau majikan. Hampir semua kelurahan di Tidore bisnis oto pangkalannya sendiri, para pemodal ini mereka majikan. Mereka memiliki mobil yang dibisniskan.”Tiap kelurahan memiliki juragannya masing-masing. Seperti saya, juragan  atau majikan saya dari Tomalou”.

Majikan mentaksir para sopirnya yang menjalankan bisnis oto pangkalan dengan biaya setoran 3 juta rupiah per-bulannya. Para driver menanggung biaya bensin, kecuali biaya perawatan mobil yang sepenuhnya ditanggung oleh majikan.

“Sebelum sudah ada kesepahaman hitam di atas putih. Setoran ke majikan net 3 juta rupiah, sedang sisa keuntungannya jadi milik kita. Bila beruntung, kadang sebulan sisa setoran dapat kami raup 1 hingga 1,5 juta rupiah”.

Mengaku bila di bulan puasa pendapatannya menurun. Para sopir sering meminta keringan setoran. “Bila tidak mendapat target setoran (3 juta rupiah), saya kadang menawarnya sekisar 2,5 juta”.

Oto keri di Tidore

Sebelum itu, Tidore dihuni kendaraan umum jenis Mistubishi Carry van 5 Speed. Keberadaannya kini sudah kurang. Beberapa masih berfungsi namun difokuskan melayani para pedagang pasar tradisional.  Seperti memuat para pedagang ikan kering yang berjualan di pasar hingga pulangnya.

Oto Mikrolet di Tidore

Mobil Mikrolet pertamakali muncul di Tidore sekisar tahun 2000. Orang yang pertamakali memiliki kendaraan angkot jenis Mikrolet bernama Mansur Oya, seorang Tomalou. Mikrolet miliknya berwarna hijau tua.

Mikrolet ini pertamakali beroperasi di daratan pulau Halmahera, tepatnya di kawasan desa Oba. Sayang karena terjadi bencana banjir, mobil itu ikut hanyut tak terselamatkan. Mobil Mikrolet itu dibeli di Kota Manado yang dibawanya ke pulau Tidore.

Sebelum itu, mobil jenis Suzuki ST 20 merajai era 90-an beberapa tahun kemudian lahirlah nama Mikrolet. Ada 3 generasi penyebutan nama angkutan umum di Indonesia. Yakni Opelet, Mikrolet, dan Angkot.

Opelet, dari masa jaya hingga pesan terselebung

Adalah angkutan umum sedan klasik berjenis Moris Minor 1000 Traveller. Kendaraan ini muncul di era tahun 1950-an tepatnya di Jakarta. Seiring bertahan dan kurangnya pelayanan suku cadang membuat kendaraan kian usang dan tak layak digunakan.

Gubernur DKI Jakarta (1977-1982) Letjend TNI (Purn) Tjokropranolo mengeluarkan kebijakan untuk menghapus Opelet dan digantikan dengan kendaraan jenis baru dengan istilah Mikrolet.

Opelet dan simbol historis perfilman

Sebuah film sinetron yang pernah tayang di stasiun TV swasta RCTI berjudul ‘Si Doel Anak Sekolahan’ pernah menggunakan Opelet sebagai objek bisu yang memberi pesan soal penolakan kebijakan kota (Jakarta) yang terlalu ganas bagi eksistensi minoritas suku pribumi Betawi. Di film itu, Opelet dijadikan sebagai simbol perjuangan politis strata dan identitas minoritas masyarakat kota yang terpinggirkan.

Meski Opelet dijumpai di kota Jawa, di Maluku Opelet tak ditemukan kecuali kendaraan umum beroda bertenaga kuda atau dokar. Namun di Maluku Utara istilah bagi kendaraan dokar disebut ‘Bendi’, hal ini wajar sebab kata ‘Bendi’ lebih akrab dengan istilah dokar di Sumatera Barat. Maluku Utara sendiri memiliki hubungan historis dengan Sumatera yang dapat diketahui lewat arfefak dan literatur.

Zaman Mikrolet

Nama Mikrolet pertamakali muncul di Ibukota Jakarta tepatnya pada tahun 1970 menggantikan keberadaan angkutan umum jenis Opelet yang dinilai sudah tua dan tak layak pakai. Istilah Mikrolet adalah sematan bagi kendaraan Kijang yang dimodifikasi menjadi angkutan umum diberi warna khas biru muda untuk membedakannya dengan kendaraan mobil pada umumnya.

Dari Mikrolet ke identitas Angkot

Di tahun 2000, nama mikrolet kemudian tergeser dengan nama ‘Angkot’ meski demikian, di berbagai daerah lainnya di Indonesia, penggunaan nama Mikrolet masih tetap digunakan. Nama Mikrolet mulai muncul di Pulau Tidore di tahun 2000-an yakni setiap kendaraan angkutan umum diseragamkan dengan warna angkutan umum Indonesia secara keseluruhan, yakni warna biru muda.

Masa viral

Ketua DPD Organisasi angkutan darat (ORGANDA) Jakarta, Shafruhan mengatakan, nama ‘Angkot’ sendiri muncul pertama kali di tahun 2000-an tepatnya di Kota Jakarta. Kata ‘Angkot’ sendiri adalah singkatan dari kalimat ‘Angkutan kota’, istilah yang disematkan oleh masyarakat setempat. Tak lama, nama ini kian tren dan perlahan mengganti peran nama Mikrolet di masa lalu meski tidak mempengaruhi secara garis besar jenis kendaraan yang digunakan Mikrolet terdahulu.

Identitas Mikrolet masih hidup di Tidore

Meski nama Angkot kian meluas, namun tidak di Tidore. Istilah Mikrolet masih dipertahankan hanya saja penyebutannya tak selengkap namanya.

Nama mikrolet dipangkas namanya menjadi nama ‘Mikro’. Uniknya nama tersbut dipertahankan bagi angkutan umum masyarakat di Tidore hingga kini. Masyarakat masih belum mampu membedakan mana jenis Mikrolet dan mana Angkot. (Kompas.com : Sekilas perjalanan Opelet, Mikrolet, dan Angkot, 23 Januari 2018)

Beberapa dari mereka menilai Mikrolet dan angkot adalah sama. Sebab hanya berputar pada soal nama, padahal terdapat jenis kendaraan dan informasi historis yang berbeda (*)

Penulis : Fatir MN / Kru Jalamalut

Baca Lainnya