JELAJAH

Rabu, 23 Januari 2019 - 21:48

4 bulan yang lalu

logo

Aliran sungai Soasio yang juga merupakan "kampung tua", adalah bukti sekaligus jejak Kerajaan Loloda/Foto: Arief/Jalamalut

Sejarah Besar Loloda di Kampung Kecil

Cerita mengenai kerajaan Loloda memang jarang terdengar. Literatur salah satu kerajaan tertua di pulau Halmahera, Maluku Utara itu, terkesan sulit diakses. Harus diakui, selama ini kisah heroik raja-raja di Maluku yang paling sering dibicarakan adalah Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Meski begitu, Loloda, negeri yang dalam Encyclopaedy van Nederland Indie 1918, disebut sebagai “Gerbang Maluku” itu tentu patut dibicarakan.

Kamis, 13 Desember 2018, Jalamalut berkesempatan mengunjungi pedalaman Loloda di barat Halmahera. Wilayah Loloda sendiri secara administratif, ada yang masuk wilayah Kabupatan Halmahera Utara, ada juga di Kabupaten Halmahera Barat. Wilayah pedalaman yang kami datangi kala itu meliputi Desa Salu, Bakun, Laba Kecil, dan Laba Besar.

Cerita warga, wilayah pedalaman Loloda merupakan wilayah bersejarah. Kampung-kampung di Loloda seperti Soasio, Kahatola, dan sekitarnya diakui hasil eksodus orang-orang dari pedalaman Loloda. Belum begitu jelas alasan apa mereka meninggalkan wilayah pedalaman. Dalam sumber yang lain, mereka direlokasi ke daratan Kedi setelah Perang Dunia II. “Soasio memang berasal dari pedalaman Loloda,” ujar Uhud Abdullah, salah satu warga Soasio.

Perjalanan ke daerah pedalaman melalui Pelabuhan Kedi, salah satu pelabuhan Loloda di barat Halmahera, yang menjadi akses transportasi laut orang Loloda. Kapal dari Ternate, maupun dari Kecamatan Ibu, rutin berlabuh di sini. Hasil-hasil kebun warga yang akan dijual keluar juga melalui pelabuhan ini.

Siang itu, dari Pelabuhan Kedi, kami menggunakan perahu bermesin, menuju pedalaman Loloda. Belum ada akses darat ke daerah pedalaman. Bahkan dari cerita warga, anak-anak sekolah yang berasal dari pedalaman, sejak pagi buta sudah melewati sungai kemudian menerobos hutan agar bisa sampai ke sekolah yang berada di Desa Kedi.

Perjalanan ke pedalaman, tepatnya di Desa Salu, kami melewati bantaran sungai. Ada dua sungai besar di pedalaman Loloda yang bisa menjadi akses untuk sampai di pedalaman, yakni sungai Soasio dan Laba Besar. Saat berkunjung, kami memilih melalui sungai Soasio.

Ada Sejarah di Tepian Sungai

Rindang pepohonan mangrove dan pohon sagu berderat sepanjang tepian sungai. Sungai Soasio begitu tenang. Deru mesin perahu warga yang pulang-pergi dari pedalaman terdengar jelas. Perahu kami perlahan menepi, tepat di dermaga kecil, di pinggir sungai Desa Salu.

Heras Siliba, tokoh masyarakat Desa Salu, menceritakan bahwa di tepian sungai itu terdapat jejak kerajaan Loloda. Desa Salu sendiri, yang jaraknya tidak jauh dari sungai Soasio, diakuinya sebagai tempat berkumpulnya raja dan masyarakat, sementara di tepian sungai yang disebutnya memiliki jejak kerajaan adalah bekas permukiman Soasio. “Di sana itu bekas kerajaan. Tapi, di Salu juga tempat bersejarah. Dulu sering dijadikan lokasi bermusyawarah para raja,” katanya.

Mustafa Mansur, dosen sejarah Universitas Khairun, kepada Jalamalut membenarkan, bahwa di tepian sungai Soasio tesebut merupakan permukiman Soasio tua. Soasio tua atau lama itu dipercaya sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Loloda.

Tampak hamparan perkebunan adalah bekas atau jejak permukiman Soasio tua/Foto: Ipang Mahardika/Jalamalut

Mengenai sejak kapan Kerajaan Loloda terbentuk, belum dapat dijelaskan secara jelas dengan menggunakan sumber tertulis. Dalam artikel yang ditulis Tim Pendataan Potensi Cagar Budaya, BPCB Maluku Utara, dijelaskan, sejarawan Paramita Abdurrahman mencatat, sumber dari Nagarakertagama Majapahit sebagaimana ditulis oleh MPU Prapanca, menyebutkan bahwa pada masa paling tua telah berkuasa seorang kolano di Loloda. Kolano di sini berarti seorang raja.

Abdul Hamid Hasan, pemerhati sejarah lokal, dalam bukunya Aroma Sejarah dan Budaya Ternate, menyebutkan bahwa Kerajaan Loloda dan Moro adalah dua kerajaan tertua di Halmahera, yang berdiri pada abad-13.

Dijelaskan Mustafa, adapun Desa Salu yang terletak tidak jauh dari aliran sungai Soasio, dulu bukanlah sebuah perkampungan. Tetapi merupakan tempat pertemuan raja dengan masyarakat. Tempat pertemuan atau rumah pertemuan itulah yang disebut dengan “Salu”. Rumah Salu itu yang kemudian menjadi ciri khas rumah adat Loloda, sebagaimana rumah adat di sejumlah daerah.

Dalam perjalanannya, Salu yang awalnya sebagai rumah atau balai pertemuan itu kemudian dihuni oleh warga dari kampung Bakun, yang juga jaraknya tidak jauh dari rumah pertemuan tersebut. Sebelum menjadi desa, permukiman tersebut memang sering disebut sebagai permukiman “Bakun Salu”.

Letak kerajaan yang berada di aliran sungai, diakui Mustafa, adalah sesuatu yang lumrah. Sebab sungai pada masa lampau menjadi penting dalam membangun interaksi masyarakat dan kekuasaan. Selain itu, keberadaan kerajaan yang tepat di pinggir sungai, menunjukkan ciri khas perpaduan Kerajaan Loloda sebagai kerajaan agraris dan maritim.

Kerajaan Loloda sebagai kerajaan agraris, menurutnya, relatif sama dengan kerajaan-kerajaan pra Islam di Jawa dan Kalimantan yang berkedudukan di daerah pedalaman, yang menggunakan eksistensi sungai sebagai penghubung masyarakat dengan kekuatan eksternal. Sementara ciri dari kerajaan maritim tampak dari masyarakat Loloda yang juga cenderung menjadikan laut sebagai sumber kehidupan, selain hasil-hasil hutan.

Cerita kerajaan Loloda juga ditulis oleh Wuri Handoko, dalam risetnya, Kerajaan Loloda: Melacak Jejak Arkeologi dan Sejarah, pada 2017, yang diterbitkan Kapata Arkeologi. Ia menemukan beberapa bukti arkeologi dan temuan bekas kerajaan Loloda, yang berada tepat di sisi sungai Soasio, sekaligus membuktikan bahwa situs kampung tua itu sebagai kerajaan yang sangat strategis menghubungkan wilayah pedalaman dan pesisir.

Melalui penelitian itu, ditemukan data-data arkeologi yang mendukung bahwa wilayah tersebut merupakan situs permukiman. Data-data itu seperti sisa-sisa lantai bangunan kedaton, keramik Cina, Thailand dan Eropa, serta batu wudu yang merupakan alat kelengkapan masjid.

Temuan itu sekaligus mengonfirmasi, bahwa adanya relasi ekonomi antara Kerajaan Loloda dengan daerah-daerah luar. Diperkirakan, wilayah pesisir Loloda, baik di barat maupun utara Halmahera, merupakan rute atau lintasan pelayaran dan niaga yang keluar masuk ke daerah kerajaan.

Meski begitu, sejauh ini Kerajaan Loloda tidak begitu familiar seperti kerajaan lainnya di Maluku Utara. Riwayat sejarah politik di Maluku Utara, dijelaskan bahwa Kerajaan Loloda adalah salah satu kerajaan di Maluku yang tidak terikat dalam kesatuan Moloku Kie Raha, yang di dalamnya ada Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo.

Dalam beberapa sumber dijelaskan, kala itu Kerajaan Loloda memang tidak sempat menghadiri pertemuan raja-raja Maluku di Pulau Moti pada 1322 yang diprakarsai oleh raja atau kolano Ternate, Sida Arief Malamo. Ketidakhadiran itulah yang membuat Kerajaan Loloda kurang mendapat perhatian dalam narasi sejarah politik di Maluku Utara.

Cerita kerajaan Loloda mulai redup ketika dianeksasi Ternate, sekiranya pada abad ke-16, kala bangsa Eropa mulai berdatangan di Maluku. M. Adnan Amal, dalam Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, menulis, saat Ternate di bawah kendali Sultan Hamzah (1627-1648), Kerajaan Loloda praktis tenggelam.

Meski Kesultanan Ternate tampil mendominasi pengaruh terhadap Kerajaan Loloda, tetapi sebenarnya tidak mengakhiri atau menenggelamkan eksistensi kerajaan. Menurut Mustafa, yang juga saat ini menjabat sebagai Tuli Lamo atau Sekretaris Kerajaan Loloda, pada awal abad ke-20, yakni pada 1908 barulah kerajaan Loloda dilikuidasi oleh pemerintah kolonial.

Setelah tahun-tahun berat itu, menjadikan kerajaan Loloda nyaris tidak mendapat tempat dalam pembicaraan sejarah. Kendati begitu, sejarah besar Loloda itu hingga kini masih terus bereksistensi di tengah minimnya kepedulian terhadap situs kampung tua, di sisi sungai Soasio itu, yang saat ini hanya hamparan perkebunan. Pohon-pohon tumbuh gagah seperti sedang melawan kesunyian di pedalaman Loloda.

Perjalanan kami kala itu terus berlanjut ke Desa Bakun, Laba Kecil, dan Laba Besar. Melewati kebun-kebun warga dan beristirahat di pinggir sungai Desa Laba Besar, sembari menunggu motoris yang akan mengantar kami kembali ke Pelabuhan Kedi. Seperti sungai Soasio, perjalanan kembali melalui sungai Laba Besar pun begitu menyenangkan; teduh dan tenang. (*)

 

Penulis: Rajif Duchlun/Kru Jalamalut

Baca Lainnya