JELAJAH

Rabu, 19 Desember 2018 - 18:45

4 bulan yang lalu

logo

Rorasa, Narasi Toleransi di Negeri Gapi

Selasa 18 Desember 2018 sore, langit Ternate mendung. Ribuan orang di depan Sigi Lamo (Mesjid Besar), Kesultanan Ternate dibuat tertegun dalam harmoni lantunan rorasa yang dibacakan Jou Kalem (Imam Besar), Sigi Lamo Hi Ridwan Dero.

“…Ino fomakati nyinga, doka gosorse balawa, om doro yoma mote-mote magogoru fo ma dudara (Mari kita bersatu hati bagaikan biji pala dan fulinya, masak jatuh bersama-sama dilandasi sifat kasih dan sayang).

Gogoru bobula nyinga dudar ua bubula gate, nyinga ma poga rasai gate pana wa nyinga (kasih bagiannya nurani, sayang bagiannya hati, nurani patah seketika hati penawar nurani).

Ngone doka dai loko amoi yoma fara fara, ino fo rubu se fo rame doka saya rako moi (kita hidup disuatu tempat berbeda suku, ras dan agama mari bersatu dan beramai-ramai bagai seindahnya seikat kembang).

Eli-eli sosonyinga, sosonyingo demo ma dero afa mara cobo, ma cobo sala demo kanang ne, guraci ne nyige ua kara banga la no gonofo. (kenang dan ingatlah pesan yang kuberikan padamu jangan sampai salah berpegang pendapat sekarang ini, emas tidak engkau eluk-elukan, tembaga engkau besar-besarkan).

Gam ma cahaya jang, ma gogasa diri ngone manusia, marimoi ngone futuru makusidika ngone fo duro. (Negeri bercahaya indah, pembawaanya diri kita manusia, bersatu kita teguh bercerai-berai kita runtuh),” tutup Ridwan sembari menyerukan Suba Jou, sebagai salam khas ala Ternate yang menjunjung tinggi nilai ketuhanan di tengah ragam perbedaan.

Jou Kalem (Imam Besar), Sigi Lamo Kesultanan Ternate, Hi Ridwan Dero saat membacakan rorasa | Foto : Faris Bobero/Jalamalut

Lantunan rorasa itu menjadi salah satu persembahan Sigi Lamo sebagai tuan rumah sekaligus yang dipilih menjadi lokasi penutupan, Parade Ternate Harmoni Hari Jadi Kota Ternate ke-768.

Sebelumnya, Parade Harmoni memulai rute pertamanya dari Kantor Walikota Ternate menuju Gereja Santo Pedro. Tiba di gereja tersebut, Walikota Ternate memberikan segelas minuman khas, Sarabati kepada Imam (pastor) untuk diminum sebagai simbol kebersamaan. Setelah itu, rombongan disambut dengan paduan suara dari jemaat gereja.

Kekokohan Gereja Santo Pedro menjadi bukti Ternate yang harmoni sekaligus penanda penyebaran agama katolik di Ternate. Tak hanya itu, gereja ini menjadi tempat pertama berdirinya gereja katolik di Indonesia yang dibangun oleh St. Fransiskus Xaverius, pada 1523. Orang-orang yang tinggal dan mendiami Ternate menyebut gereja ini dengan nama Gereja Batu.

Di gereja ini terdapat pula genta perunggu milik warga Katolik, dibuat tahun 1603 oleh Perio Diaz Boccaro. Terdapat kata-kata latin yang terukir di genta tersebut dengan terjemahannya “Ya Maria, Bunga segala perawan, Indah bagaikan mawar, Murni laksana Bakuing, doakanlah keselamatan umat beriman pada putramu,”

Setelah disambut meriah di Gereja Santo Pedro, meriam bambu yang didorong menggunakan gerobak ditembakkan sebagai penanda rombongan parade menuju ke Gereja Imanuel yang hanya berjarak sekira 100 meter dari Gereja Batu. Tempat ibadah umat Kristen ini lebih dikenal dengan Gereja Ayam.

Tembakan meriam di luar gereja, disambut dengan lagu “Pela Gandong” oleh paduan suara jemaat di dalam gereja. Rombongan pun ikut bernyanyi bersama sebagai wujud persaudaraan dan kebersamaan. Keberadaan gereja ini menunjukkan penyebaran Kristen juga ada di Ternate.

Usai di Gereja Ayam, rombongan parade menuju ke Klenteng. Rombongan Parade disambut oleh tarian payung oleh anak-anak Tionghoa. Tarian tradisional itu memberi nuansa haru karena Tionghoa menjadi etnis minoritas di kota Ternate. Meski begitu, dari banyak literatur menyebutkan kedatangan bangsa Tiongkok jauh lebih dulu sebelum kedatangan bangsa Eropa di Ternate

Tari Payung, Tarian Tradisional Tiongkok yang ditampilkan dalam penyambutan rombongan Parade Ternate Harmoni, di Klengteng Thian Hou Kiong, Selasa 18 Desember 2018 | Foto : Risman Rais/Jalamalut

“Klenteng ini dibangun pada 1602. Klenteng Thian Hou Kiong telah berdiri di Ternate bangunan aslinya ada sejak zaman VOC, Tanah Klenteng Thian Hou Kiong diwakafkan oleh Almarhumah  Liem Tji Kung, kemudian juga dengan Masjid Al-Muttaqqin, Pekuburan Islam dan Pekuburan China,” kata Pendeta di Klenteng Thian Hou Kiong, Boy Anggrek dalam sambutannya.

Rombongan melakukan sesi foto bersama dengan penari usai pendeta memberikan sambutan. Mereka kemudian menuju ke Masjid Al-Muttaqqin yang berjarak tak jauh dari klenteng. Gema Salawat Nabi terdengar dari kejauhan saat rombongan menuju ke tempat yang pernah menjadi Mesjid Raya Ternate. Salawat dipimpin oleh Imam Besar Mesjid Al-Muttaqqin, Hi Ummar Assagaf.

Kemegahan Mesjid Al-Muttaqqin menandai keberadaan keturunan Arab dan syiar Islam di Ternate. Pembangunan mesjid ini diprakarsai oleh Habib Alwi bin Ahmad Al hadar. Pemugaran masjid tersebut pertama kali tahun 1890. Setelah selesai dipugar dinamai Masjid Al Habib yang berarti masjid tercinta, sedangkan nama yang popular adalah masjid Arab.

Imam Mesjid AL-Muttaqqin, Umar Assagaf bersama Walikota Ternate, Burhan Abdurahman dan Wakil Walikota, Abdullah Taher (baju putih dari kiri) | Foto : Rajif Duchlun/Jalamalut

Nama Masjid Muttaqien sendiri baru digunakan setelah adanya pemugaran besar di tahun 1958, dan diadakannya musyawarah yang menyetujui usul dari Al-Ustadz Abdurrahman Assagaf untuk merubahnya nama masjid menjadi Al-Muttaqqin yang artinya masjid bagi orang yang bertaqwa.

Setelah bersalawat, parade pun dilanjutkan ke tempat terakhir yakni Sigi Lamo Ternate. Setelah berjalan kaki kurang 30 menit, rombongan Parade Ternate Harmoni tiba di Sigi Lamo. Merak disambut oleh Kolano Masoa, Sultan Ternate Sariffudin Syah dan Bobato atau perangkat adat dan agama di Kesultanan Ternate.

Sekadar diketahui, Sigi Lamo ini mulai dibangun sejak pemerintahan Sultan Zainal Abidin (1486-1500). Namun beberapa sumber lain juga menyebutkan bahwa Mesjid ini baru dibangun pada awal abad ke-17 saat Sultan Saidi Barakati memerintah.

Terlapas dari perbedaan referensi itu, keberadaan Sigi Lamo bukan hanya dipandang sebagai tempat ibadah biasa tetapi kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Tidak hanya nilai-nilai Islam yang terkandung dalam keberadaannya, namun mesjid ini juga telah menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan masyarakat Ternate sejak masa lampau.

Pluralisme Ternate
Setelah diterima secara adat, Walikota Ternate, Burhan Abdurahman dalam sambutannya mengatakan, kondisi keberagaman di Ternate telah berlangsung cukup lama. Bukti artefak dan keturunan masih ada dan mendiami Kampung China, Kampung Sarani, kampung Makassar, Kampung Arab. “Sudah sejak dahulu kita hidup berdampingan, memupuk kebersamaan, kerukunan dan hari ini kita tetap bersama dalam perbedaan agama dan etnis,” ucap Burhan.

Jamaah Salawat Wali Songo, Ikatan Keluarga Persaudaraan Jawa (IKPJ), saat berpose bersama di depan Sigi Lamo, Kesultanan Ternate | Foto : Faris Bobero/Jalamalut

Kehidupan harmonis yang sempat digoyah karena konflik tahun 1999, kini telah kembali berubah. Dengan hadirnya kegiatan yang melibatkan umut beragama dan juga etnis yang ada di Kota Ternate.

“Keberagaman yang terbangun hingg saat ini harus kita pertahankan. Jadi, dengan Parade Ternate Harmoni kita wujudkan kebersamaan. Kita aman dan damai,” ucapnya.

Sementara itu, Pegiat Budaya dan Ketua Bukusuba Institute, Sukarno M. Adam, mengatakan, acara Ternate Harmoni menjadi penting untuk menjaga kerukunan dan menegaskan keragaman di Ternate sekaligus pengakuan bahwa berbeda itu indah. Namun, kedepannya diharapkan memperhatikan esensi dari narasi keberagaman yang dibangun dalam tema besar Ternate Harmoni.

“Ternate adalah Kedaton. Pertanyaannya, kenapa tidak dimulai dari kedaton sebagai simbol awal Ternate,” katanya.

Sukarno berharap, kedepannnya ini menjadi catatan pemerintah agar tidak menegasikan sejarah dan budaya Ternate melainkan mendudukkan adat dengan atoran-nya. Selain itu kedaton yang berisikan perangkat yang   disebut bobato nyagimoi se tufkange (Bobato delapan belas) merupakan representasi berbagai daerah, etnis, agama di Moluku Kie Raha. Artinya bahwa kedaton merupakan simbol dari pluralisme.

“Karena balutan simbolik mempunyai nilai yang begitu dalam,  jangan sampai salah menggunakan dan menempatkan simbol, sebab dapat membelokkan makna budaya yang sejatinya,” ungkapnya.

Penulis : Risman Rais,  Kru Jalamalut

Baca Lainnya