WARTA

Jumat, 8 Februari 2019 - 14:09

5 bulan yang lalu

logo

Rencana Geowisata Berbasis Komunitas di Daerah Rawan Bencana

Kota Ternate yang termasuk daerah Ring of Fire (cincin api) memiliki potensi geowisata. Namun, rencana pengembangan geowisata memerlukan keterlibatan dan kesadaran komunitas agar potensinya bisa diarahkan menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat rawan bencana.

Secara umum, dikutip dari mongabay.co.id,  empat kelurahan tanggung bencana di Ternate, yakni, Kelurahan Tabam, Tubo, Sangaji Utara dan Loto. Ada juga 27 kelurahan siaga bencana yang ada di Kota Ternate Tengah, Ternate Utara dan Pulau Ternate.

Menurut Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGA), Dedi Arif, perencanaan geowisata harusnya dibarengi dengan mitigasi bencana berbasis komunitas. Untuk itu, komunitas yang dibentuk nantinya berbasis wisata.

“Komunitas harus mampu dirangsang agar masyarakat dapat membangun komponen usahanya. Olehnya itu, perlu adanya sosialisasi,” kata Dedi, di Aula Kantor Camat Ternate Utara, Kamis 7 Februari 2019.

Sosialisasi Potensi Geowisata Camtara (Kecamatan Ternate Utara), Kamis 7 Februaru 2018 di Aula Kantor Camat Ternate Utara

Berdasarkan Hasil Seminar Nasional tentang Geowisata pada 1999 yang diselenggarakan di Bandung oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G), Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral RI, merumuskan geowisata sebagai pariwisata yang memanfaatkan seluruh aspek geologi, dengan ruang lingkup mengenai unsur abiotik seperti bentang alam, batuan, mineral, fosil, tanah, air, dan proses, termasuk di dalamnya sejarah geologi.

Berdasarkan definisi tersebut di atas Kecamatan Kota Ternate Utara (Camtara) memiliki potensi Geowisata untuk dikembangkan, terutama di jalur lava Gamalama yang sudah membatu (Batu Angus) dari Kelurahan Tubo ke Utara sampai dengan Kelurahan Tarau. Disamping itu, juga DAS Tugurara dari hulu ke hilir yang melalui Kelurahan Tubo, Akehuda dan Dufa-dufa.

Selain komunitas, pengembangan geowisata perlu sinergisitas antara pihak stakeholder dan pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah kecamatan untuk persiapan musyawarah rencana pembangunan (Musrembang) pada 12 Februari mendatang.

Ketua IAGA yang berdomisili di kelurahan Kasturian bilang, kendala yang paling krusial di masyarakat saat ini yaitu sandaran material ekonomi apabila ekonomi terpenuhi maka edukasi bencana juga demikian.

“Kondisi curah hujan kota Ternate yang berubah-ubah ini, faktor utamanya yaitu kondisi Gunung Gamalama yang fluktuatif. Adapun curah hujan yang terjadi pada bulan Desember, Januari dan Februari kemudian disusul pada Mei dan Juni olehnya itu, perlu adanya kajian lanjutan,” papar Sukimin Kepala Badan Meterologi dan Geofisika Provinsi Maluku Utara yang juga diundang dalam Sosialisasi Geowisata Kecamatan Ternate Utara

Sumber Dana Geowisata

“Untuk mencapai program-program kami akan memanfaatkan dana dari pemerintah pusat yang telah disiapkan sebesar Rp.350 juta. Kami akan mengambil skala prioritas saja, justru dengan dana akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan ekonomi kreatif dan lahir inovasi-inovasi baru,” kata Penggagas Konsep Geowisata, Zulkifli.

Camat Ternate Utara itu mengatakan, plot anggaran disiapkan pada dana fisik dan dana non fisik. “Skala prioritas pada fisik kami mengambil program mitigasi bencana untuk model pencegahan, penanganan, sistuasi bencana kekeringan dan kebakaran,”ucap Camat yang biasa disapa Ipin itu.

Sebagai langkah awal, pihaknya juga membentuk tim advokasi dan pemberdayaan di tingkat kelurahan dan tenaga sukarelawan kebencanaan mitigasi bencana. Olehnya itu, pihaknya bekerjasama dengan dinas terkait seperti BMKG, Pemantau Gunung api, BPBD, IAIG dan lurah.

Zulkifli menambahkan, sharing oleh dinas terkait dan kolaborasi diperlukan agar tercipta sinergi program. Sistem pengangarannya juga dikolaborasikan dengan pihak kelurahan agar lebih konferhensif,” tuturnya.

Baca Lainnya