JELAJAH

Kamis, 17 Januari 2019 - 15:11

5 bulan yang lalu

logo

Di suatu belokan sungai, terdapat sebuah batu dinding yang bagi masyarakat setempat diberi nama “Batu Kapal” Foto: Doc Rizal Syam

Pulau Obi, Bukan Hanya Tentang Pertambangan

Apa yang ada di kepala kita ketika mendengar kata ‘Obi’? Ya, sebagian dari kita mungkin akan memikirkan tentang sebuah daerah penghasil batu akik yang dulu sempat booming. Sebagian lagi membayangkan sebuah kawasan pertambangan nikel berskala internasional di Desa Kawasi.

Tak salah memang, walau merupakan wilayah dengan potensi tinggi dan menyumbangkan pemasukan besar ke kas pemerintah, pemberitaan tentang Obi tak banyak terdengar. Dengan begitu, tak mengherankan jika kemudian tingkat pembangunan pun berjalan bak kura-kura encok.

Tapi percayalah, Obi bukan hanya tentang batu akik berwarna-warni, atau ihwal pertambangan yang walau bercokol lama, tapi tak berpengaruh apa-apa pada pulau itu. Ada banyak tempat dan kisah istimewah yang tersimpan di pulau Obi.

Salah-satu spot menarik dari pulau ini terletak di sebuah desa bernama Fluk yang tepat berada di selatan pulau Obi. Untuk mencapai desa Fluk, dibutuhkan sekitar satu hari perjalanan laut dari Laiwui –kecamatan Obi Utara, Maluku Utara. Ya, saya tahu dahi anda akan mengkerut ketika mengetahui jauhnya perjalanan ke sana. Tapi tolong, sekali lagi, pindahkan gerutuan anda ke pemangku kebijakan, kenapa selama ini jalan lintas Obi belum juga terlaksana, padahal jutaan dollar dihasilkan dari sana.

Fluk adalah desa dengan jumlah populasi sekitar 1000 orang. Desa ini dihimpit oleh dua sungai besar, yakni sungai Fluk dan sungai nike. Kedua sungai inilah yang banyak menyimpan spot menarik bagi mereka yang menggilai petualangan dengan pemandangan menakjubkan.

***

Di hari kamis 22 November 2018, waktu mentari belum terlalu tinggi, sebagian masyarakat baru saja meninggalkan kampung untuk pergi ke kebun masing-masing. Dengan menggunakan dua perahu, saya, Om Mito, Yasir, dan Oka, berangkat menuju Air Ngute-Ngute, yang berada sekitar 5 Km dari kampung.

Sejujurnya, niat kami berangkan pagi itu bukanlah untuk sebuah trip wisata, melainkan ingin mengecek camp para penambang getah damar yang kebetulan berada di sekitar Air Ngute-Ngute. Saya yang awalnya enggan ikut, tak kuasa juga menahan rasa penasaran ketika diiming-imingi pemandangan menakjubkan oleh Om Mito.

Berangkatlah kami. Sebenarnya untuk mencapai lokasi bisa dengan berjalan kaki, namun kami memilih untuk menggunakan perahu. Alasannya karena agar tak perlu susah-payah memikul barang.

Menyusuri sungai fluk, yang terbayangkan oleh saya adalah scene-scene dalam film The Secret Life of Walter Mitty, bedanya dalam film tersebut, Ben Stiller sebagai aktor menyusuri jalanan ber-landscape perbukitan yang menawan dengan menggunakan sepeda, sedangkan saya menyusuri sungai dengan mendayung perahu, sepanjang mata memandang adalah perbukitan nan hijau dan asri. Udara yang masih segar menambah keintiman dengan alam. Baru-baru ini lokadata merilis statistic dari kementerian lingkungan hidup tentang daerah-daerah yang memiliki kualitas udara baik hingga buruk. Dan Maluku Utara keluar sebagai peringkat pertama dengan indeks kualitas udara paling baik se-Indonesia.

Sekitar setengah jam perjalanan, kami sampai di sebuah lokasi yang bagi masyarakat Fluk menyimpan banyak cerita. Seperti wilayah-wilayah lain, Fluk juga memiliki mitos yang berkembang dan menjadi kepercayaan turun-temurun. Di sebuah lokasi dengan kontur tanah yang cenderung datar di antara perbukitan itu, masyarakat menamaninya sebagai “Kota Maruba”, yang jika diterjemahkan berarti “Kota yang runtuh/rubuh”.

Syahdan. Pada sebuah titimangsa yang lampau, sewaktu sungai masih belum mengalami pendangkalan. Kapal-kapal dengan ukuran yang cukup besar kerapkali masuk hingga berkilo-kilo meter dari hilir sungai. Di sebuah tanah lapang yang jauh dari pesisir inilah permukiman dibangun. Kita tahu bahwa mitos adalah seperangkat alegori yang memiliki sifat distorsi, yang artinya kikisan terjadi seiring dengan berjalannya waktu. Pada suatu waktu tanah tersebut ambruk ditelan bumi, permukiman tersebut pun lenyap. “Dia pe material tanah kayak beda bagitu. Trus kayak tadolom kabawah”. Jelas seorang warga bernama Jabir mengenai Kota Maruba.

Menurut Om Mito, puluhan tahun lalu, di Kota Maruba itu ditemukan sebuah meriam peninggalan colonial. Kabarnya, bukti meriam tersebut sekarang berada di Mako Koramil di Laiwui.

Sungai yang terdapat di samping Kota Maruba. Anda dapat menikmatinya saat lelah dalam perjalanan. Foto doc: Rizal Syam

Ada sekitar 1 km dari Kota Maruba, terdapat sebuah spot yang juga menyimpan kisah menarik. Di suatu belokan sungai, terdapat sebuah batu dinding yang bagi masyarakat setempat diberi nama “Batu Kapal”. Sepintas kita kemudian sudah bisa menebak bagaimana penamaan itu terjadi. Bahwa dinding batu itu dipercaya merupakan bagian belakang dari sebuah kapal. Bentuknya yang seperti lengkungan itu memberi alasan bagi masyarakat untuk meyakini hal itu.

Saat menggunakan sampan menuju batu dunding yang disebut batu kapal. Foto Doc; Rizal Syam

Ada rasa skeptic yang menyertai saya sewaktu diceritakan tentang lokasi ini. Bahwa sepintas lekukan pada dinding batu ini hanyalah hasil dari pengikisan yang terjadi selama bertahun-tahun oleh air maupun material lainnya. Hal ini didasari oleh fakta bahwa lokasi tersebut berada tepat pada belokan sungai yang notabene memberikan daya lebih dalam kecepatan arus. Benturan demi benturan yang kemudian membuat dinding batu tersebut menjadi lekukan bak sebuah bagian belakang kapal. Tapi kemudian saya tak bisa membantah ketika disodorkan keterangan bahwa di balik dinding tersebut terdapat gua di mana di dalamnya terdapat pelbagai macam benda-benda seperti piring yang memiliki bermacam motif khas. Adapula belanga dan benda-benda lainnya.

Jika semua itu memang benar, walau kita tahu sejarah tak mengenal kata andai, akan tetapi perkiraan-perkiraan bukan merupakan barang haram, terlebih lagi dengan minimnya kajian ihwal pulau Obi ini.

Dalam Kepulauan Rempah-rempah; Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, Adnan Amal menjelaskan bahwa dulunya Pulau Obi memiliki sebuah “…kerajaan kecil namun tak jelas”. Kerajaan tersebut kemudian hanya menjadi vazal bagi kesultanan Bacan. Obi, sejak dulu, boleh dibilang memiliki kedudukan antara “penting dan tak penting”. Hal itu terlihat dari pelbagai kebijakan yang dilakukan terhadap pulau ini.

Pada masa pemerintahan Alaudin II (ia dikukuhkan sebagai sultan pada tahun 1580), terjadi kehebohan karena kesultanan Bacan sempat menjual pulau Obi kepada colonial seharga 800 ringgit. Sedangkan pada 1676, kesultanan Bacan melakukan menandatanganan integrasi Obi di bawah kompeni. Obi menjadi berada di bawah perlindungan colonial.

Kendati begitu, tidak lantas membuat pengaruh Bacan hilang di sana. Masih menurut Adnan Amal, Obi sejak dulu menjadi sumber bahan makanan bagi Bacan, sebab di sana terdapat banyak sekali sagu dan juga kaya akan hasil laut. Apakah sejarah tersebut terus berlanjut hingga hari ini dengan segala perubahannya?

Saat beristirahat di atas batu di tengah air Ngute-ngute. Foto Doc: Rizal Syam

Kembali ke pemandangan alam yang menakjubkan. Iming-iming Om Mito kepada saya sebelumnya terbukti bukan isapan jempol belaka. Sepanjang perjalanan itu saya disuguhkan berbagai macam view yang sukar ditemukan. Bebatuan raksasa yang entah bagaimana caranya bisa berada di tengah sungai, patahan-patahan tebing memukau, juga derasnya air terjun yang melubangi sebuah batu besar. Dan yang paling saya suka adalah deretan batu yang membentuk lingkaran, yang mana menciptakan semacan laguna mungil nan cantik.

Salah satu spot pemandangan alam di Sungai Ngute-ngute. Foto doc: Rizal Syam

Setiap daerah di Maluku Utara memilki kisah maupun tempat yang unik untuk dijelajahi. Dengan menjelajahi Obi, setidaknya kabar tentangnya bukan hanya sekadar kerusakan hutan, pembangunan yang lambat, atau sengketa lahan.

Penulis: Rizal Syam/ kru jalamalut

Baca Lainnya