PERSPEKTIF

Senin, 22 Oktober 2018 - 09:09

2 bulan yang lalu

logo

PSU : Negara Apa Maumu?

Aku lahir di negeri sulap (negeri sulap)
Aku besar di republik sulap (republik sulap)
Negerinya pakar pesulap, suka menyulap apa saja
Dari gak ada hingga di ada-ada, dari yang ada hingga tiada
(Tony Q rastafara)

Mana yang lebih pahit, mencintai meski tidak dianggap atau terbalas cintanya namun menikah dengan yang lain?. Seperti yang manis dan putih tidak selamanya berarti gula, bisa jadi paras perempuan cantik bergincu yang berulangkali mencoba muda tapi tergerus waktu.

Kukatakan ini soal pacaran bukan tanpa sebab, saat rumah tangga pecah akibat perselingkuhan dengan konflik horizontal pada tahun 1998, datang surat cinta pertama pada tahun 1999 dengan bingkai peraturan pemerintah Noo 42 dikirim negara (selaku orang tua dari Halmahera Utara dan Halmahera Barat) dengan maksud melamar enam desa untuk masuk ke wilayah Halmahera Utara, sedangkan enam desa telah lebih dulu menukar cincin dengan Halmahera Barat. Jadi tolong maklumlah cinta monyet ini terus berlanjut hingga sekarang, sebab keduanya direstui.

Setidaknya letupan-letupan akibat gesekan keduanya ini telah berlangsung selama 17 tahun. Lama-kelamaan menjadi serupa kembang api, enak dilihat tapi tidak untuk dipegang. Masyarakat menjadi penonton setia drama yang mirip film Korea, kini berubah nama dari drama negara yang tidak becus mengurus rakyat, menjadi kisah cinta yang cintanya terbalas namun menikah dengan yang lain. Yang lain ini bernama PSU (pemungutan suara ulang).

PSU dikemas dengan gaun pengantin cinta yang terbalas, sebab dianggap sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan masyarakat atas hak-hak untuk bisa memilih nyatanya di tengah nasionalisme yang gamang ini PSU tidak lain hanya cinta yang tidak terbalas. PSU adalah harapan ideal dari konsep yang telah jenuh untuk bertahan dalam cinta segitiga, sebab dengan mengada sesuatu butuh pengakuan secara objektif bahwa ia ada bukan tidak ada.

PSU menjadi daftar panjang prahara yang lama terpendam, kehadirannya berarti memberi ruang negara mengamini konflik, memelihara kelupaan bahwa masalah mendasar yang tidak kunjung selesai memang diinginkan.

Dengan ini negara menunjukan bahwa Halut, dan Halbar tidak lain adalah lelaki hidung belang yang senantiasa mencari perawan di tengah status tanpa kejelasan, mencintai tapi memilih yang lain, sedangkan masyarakat enam desa bak perempuan yang harus menerima takdir tiap waktu digilir tanpa henti, sesuka hati datang, sesuka hati pergi pula.

Jika demkian pantaskah negara kita sebut ibu pertiwi yang mengandung anak-anak zaman seperti ini? Jika kita sebut negara yang berdaulat ini mencintai rakyatnya, apakah PSU ini membuktikannya sebagai sebuah bentuk cinta?. Orang-orang boleh beranggapan bahwa PSU itu kemenangan untuk bisa memilih, tapi kepalaku menerima PSU sebagai daftar pembodohan yang terus diperpanjang.

Ketidakjujuran dalam pengawalan pemilu yang sejak awal memang tidak diperhatikan, akibat kesengajaan yang disebut tidak sengaja ini dijaga demi kepentingan yang lain, sebab dengan mengakui status cinta seolah-olah ia memiliki segalanya.

Dengan berat hati kukatakan, enam desa hanyalah orang-orang yang mencintai tapi tidak pernah dianggap. Silahkan saja leluhurnya berjuang untuk kemerdekaan, silahkan saja korbankan tanah-tanah untuk tambang, silahkan saja kau kasih hutan untuk ditebang, silahkan saja kau relakan raibnya teri, silahkan saja berjuang demi memenuhi cinta masyarakat terhadap negaranya, hasilnya tetap sama, tidak pernah dicintai meski itu harus dengan iba. Ironis []

 

Penulis

Immamuddin Ayub

Petani Tomat Asal Desa Akelamo

Baca Lainnya