JELAJAH

Sabtu, 3 November 2018 - 06:58

1 bulan yang lalu

logo

Pohon Cengkeh Tertua, Wisata Masa Lalu Ternate

Saat ini, hampir seluruh daerah sedang gencar-gencarnya membangun destinasi wisata dengan berbagai cara dan konsep. Salah satunya wisata masa lalu yang ditawarkan Ternate, Maluku Utara. Di negeri rempah-rempah ini, orang-orang dapat menikmati heroisme masa lalu Ternate hanya dengan berkunjung ke beberapa destinasi, seperti benteng-benteng peninggalan bangsa Eropa, kedaton kesultanan Ternate, hingga wisata cengkeh tertua.

Rabu (31/10/2018), Jalamalut bersama sejumlah komunitas berkunjung ke wisata Cengkeh Afo, salah satu jejak cengkeh tertua di Ternate. Wisata masa lalu yang berada di kompleks Air Tege-Tege, Kelurahan Marikurubu itu semakin eksotis sebab posisinya tepat di perbukitan.

Dari ketinggian tersebut, kita dapat menyaksikan hamparan rumah-rumah dan selat yang membelah Pulau Tidore dan Ternate. Menariknya, di lokasi Cengkeh Afo, suasana kejayaan rempah-rempah sangat terasa. Masih tampak sejumlah pohon pala serta cengkeh dengan diameter pohon seperti lingkaran pelukan tiga orang dewasa.

Salah satu kerabat jalamalut saat berada di sekitar Cengkeh Afo foto; Rajif Duchlun/Jalamalut

Video: Pohon Cengkeh Tua, Wisata Masa Lalu Ternate

Kata “Afo” sendiri berasal dari bahasa Ternate yang berarti tua. Di daerah tersebut, memang terdapat dua pohon cengkeh yang dipercaya usianya sudah mencapai ratusan tahun. Dalam riwayat sejarahnya, Ternate di masa lalu memang dikenal sebagai pusat rempah-rempah. Sebagai bukti, jejak kedatangan bangsa-bangsa Eropa salah satunya adalah ingin menguasai kekayaan rempah-rempah yang dimiliki Ternate.

Tidak hanya itu saja, M Adnan Amal, dalam karya magnum opus-nya, Kepulauan Rempah-Rempah, menulis, tanaman rempah-rempah itulah yang membuat para pedagang dari Cina, Melayu, Jawa, Arab, Persia, dan Gujarat datang di daerah ini dengan membawa tekstil, beras, perhiasan, dan kebutuhan hidup lainnya untuk ditukar dengan rempah-rempah.

Salah satu Mushollah dalam area wisata cekih afo

Heroisme masa lalu itulah yang membuat lokasi wisata Cengkeh Afo sangat kuat nilai sejarahnya. Kris Syamsudin, Founder Gamalama Spices Community, yang juga sosok dibaliknya pengembangan wisata Cengkeh Afo, saat dihubungi Jalamalut, mengatakan, sebenarnya Cengkeh Afo merupakan destinasi lama yang dikembangkan dengan konsep atau atraksi pariwisata yang berbasis konservasi.

“Destinasi lama yang menurut saya belum dikembangkan dan belum dikelola dengan atraksi pariwisata yang seharusnya. Sekarang kita membuatnya sebagai wisata yang berbasis perlindungan. Jadi Cengkeh Afo itu ikon sejarah Maluku Utara dan ini adalah titik di mana komoditi bernilai tinggi ini dapat menggerakan orang untuk berwisata,” jelasnya.

Kris menjelaskan, bahwa tujuan dikembangkannya wisata Cengkeh Afo untuk menjaga serta melindungi ekosistem dan nilai sejarah rempah-rempah yang dimiliki Ternate. Menurutnya, selain difungsikan untuk kawasan wisata berbasis kearifan lokal, juga akan ikut mendorong peningkatan ekonomi masyarakat lokal. “Kawasan wisata Cengkeh Afo nantinya akan membuat ekonomi masyarakat lokal tumbuh,” katanya.

Wisata Cengkeh Afo sendiri bukan destinasi wisata massal, melainkan wisata dengan pendekatan berbasis ekologi, yakni turut mempertimbangkan daya dukung pengunjung atau kawasan. “Jadi orang-orang datang berwisata sekaligus ikut terlibat menjaga kawasan wisata,” paparnya.

Dijelaskan, wisata Cengkeh Afo juga sebagai kawasan edukasi, yakni para peneliti, dosen, mahasiswa atau pelajar dapat berwisata sembari mempelajari kejayaan rempah-rempah masa lalu Ternate. Wisata Cengkeh Afo adalah laboratorium alam rempah-rempah, karena selain menawarkan eksotisme masa lalu, di lokasi itu juga disediakan sejumlah kuliner yang diolah dari rempah-rempah.

Benar saja, kami sempat menikmati hidangan atau kuliner lokal yang disediakan di lokasi wisata. Minuman seperti kopi dan teh benar-benar beraroma rempah. Penyajiannya pun cukup unik. Minuman disajikan menggunakan gelas yang diukir dari batok kelapa, sementara piring yang digunakan juga dibuat dari ukiran bambu dan dialasi dengan daun pisang.

Lokasi ini juga terdapat beberapa sabua kecil yang diukir dari bambu. Arsitektur sabua yang sangat kental dengan corak tradisional ini menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, surau atau tempat sembahyang yang berada di tempat wisata tersebut juga dibangun menggunakan bambu. Diakui memang, kawasan sekitar Cengkeh Afo, banyak tersebar pepohonan bambu.

Suasana yang nyaman dan sejuk itu membuat kami tak sadar suara azan magrib baru saja usai. Matahari sudah tenggelam dan langit Ternate tampak kuning kemerah-merahan. Sembari menunggu angkutan, kami sempat berbagi cerita bersama sejumlah komunitas, di antaranya Ternate Azik, Komunitas Fotografer Indonesia (KFI) Maluku Utara, dan Komunitas Guraici.

Menariknya, suatu pemandangan eksotis ketika kembali ke pusat kota. Saat perjalanan pulang, kami dapat menyaksikan pancaran lampu dari rumah-rumah maupun gedung-gedung yang berada tepat di kaki gunung Gamalama. Perjalanan hari itu membuat ingatan kami kembali ke masa lalu, ke dalam cerita-cerita dan kejayaan Ternate di tempo itu. (*)

Penulis: Rajif Duchlun/Kru Jalamalut

Baca Lainnya