WARTA

Minggu, 24 Februari 2019 - 21:51

4 minggu yang lalu

logo

Perpaduan Imajinasi dan Kreativitas Arsitek

Menjadi arsitek profesional tidak mudah. Dibutuhkan ketekunan, kemampuan menggambar, kekuatan berimajinasi dan kreativitas dalam menemukan desain-desain bangunan yang unik dan menarik. Namun demikian menjadi arsitek adalah sesuatu yang menyenangkan.

Itulah ulasan yang tengah dibahas di ruang terbuka pelataran utara Benteng Oranje yang didesain oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Maluku Utara, Sabtu (23/02/2019). Kayu rongsokan disusun berbentuk logo dihiasi kelap-kelip lampu pijar turut meramaikan acara ngopi bareng sekaligus launching Rakernas IAI 2019 di Ternate.

Dentuman tifa oleh Walikota Ternate Hi. Burhan Abdurahman, Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda, Kepala BPCB Maluku Utara Muhammad Husni dan Dandramil Pulau Ternate, menandakan Pembukaan Rapat Kerja Nasional IAI resmi diadakan di Ternate pada 13-16 Maret 2019.  Begitupula, Lampion yang ikut mewarnai langit Ternate.

Pemukulan Tifa sebagai tanda pembukaan Rakernas IAI

Dialog publik yang dipandu oleh Dr. Herman Oesman, menampilkan pemateri yaitu Walikota Ternate, Pembina Jarkot dan Ketua IAI Malut.

Doktor Sosiologi UMMU itu, mengawali pemantik diskusi dengan pembangunan ruang publik Kota Ternate yang semakin menjamur dimana-mana seperti Taman Nukila, Landmark, Taman Falajawa begitu juga Benteng Oranje yang telah direvitalisasi. Bagaimana kebijakan Pemerintah Kota Ternate kedepan?.

“Pemerintah Kota Ternate akan menggenjot berbagai event, kami mengupayakan penyedian sarana dan prasarana karena dengan adanya event ekonomi masyarakat akan tumbuh,” kata Burhan Abdurahman, Wali Kota Ternate.

Burhan menjelaskan, revitalisasi Benteng Oranje sebagai bentuk penyediaan ruang publik bagi komunitas yang berjejaring. Olehnya itu, Kebijakan pemerintah Kota Ternate kedepan menjadikan Ternate sebagai Kota destinasi wisata.

Sementara itu, Pembina Jarkot Rizal Marsaoly mengatakan, “pembentukan Jaringan Kota Ternate (Jarkot) sebagai medium pengembangan kreatifitas anak muda, karena itu perlu kolaborasi jejaring agar komunitas tetap hidup,” katanya.

Selain Pembina Jarkot, Rizal yang juga Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman Kota Ternate  menambahkan,  “Kota Ternate akan menjemput dua event besar nantinya pada Maret Rakernas IAI sedangkan ICCF pada September 2019,” ucap Rizal.

Terpisah, ketua IAI Maluku Utara, Iksan Teng menambahkan, Arsitek dalam pengetahuan ruang ialah implementasi di lapangan, konteks lingkungan binaan perlu menghadirkan yang belum ada. Arsitek memandang ruang sangat sederhana, ruang itu bermakna apabila ada manusianya.  Perlu mengelola pola pikir manusia lebih tepat dibanding tempat tinggalnya.

“Arsitek seharusnya keluar dari pakem tumpukan kertas dan meja di ruang kerja, para arsitek perlu berjejaring untuk membangun ruang sempit yang ada di Kota Ternate. Selain itu, event yang ada mampu membedakan setiap tempat dan waktu sehingga manusianya memaknai berbeda-beda,” tambah Iksan.

Sebagai penutup diskusi, Dr.Herman Oesman juga mempunyai  disertasi tentang kota. Menurutnya, dalam rasionalitas barat memandang ruang itu tidak terbatas sedangkan perspektif timur sangat kecil. Olehnya itu, peran Arsitek dalam pemanfaatan ruang kecil ini sangat penting untuk membangun ruh sekaligus imajinasi untuk Kota Ternate.

Penulis : Risman Rais/Kru Jalamalut

Baca Lainnya