WARTA

Selasa, 4 Desember 2018 - 07:46

2 minggu yang lalu

logo

Perdagangan Burung Endemik Asal Malut Masih Marak

Perdagangan satwa liar yang dilindungi, terutama burung nuri, kakatua dan bayan, marak terjadi. Burung endemik asal Maluku Utara ini adalah jenis yang paling sering diselundupkan dari kawasan timur Indonesia melalui jalur laut dan udara.

Amatan Jalamalut di grup-grup komunitas atau pecinta burung paruh bengkok di media sosial Facebook, terjadi transaksi secara bebas. Beragam jenis burung difoto lalu diunggah. Harga yang dilepas bervariasi, mulai dari Rp500 ribu, Rp700 ribu, hingga Rp1 juta-an.

“Kalau mau pesan, nanti tunggu kapal dari Bacan yang ke Ternate. Karena saya masih di Bacan,” kata salah seorang pengguna akun Resha Oey, yang menjual burung jenis Bayan hijau di pulau Bacan, Halmahera Selatan, kepada Jalamalut belum lama ini.

Menanyakan modus yang digunakan agar tidak dilihat petugas, ia menjelaskan, burung akan dimasukkan ke dalam botol air mineral. “Gampang itu. Burungnya di masukkan dalam botol. Jadi biar [burung] teriak, tidak kedengaran,” ujarnya.

Sebagai provinsi kepulauan, Maluku dan Maluku Utara memiliki banyak pintu keluar dalam peredaran tumbuhan dan satwa liar (TSL), melalui pelabuhan dan bandara. Pintu keluar ini disinyalir merupakan bagian dari jaringan peredaran ilegal TSL skala nasional hingga mancanegara.

Jual beli burung yang dilindungi marak terjadi di media sosial secara bebas

Dalam catatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku, setidaknya terdapat 69 pintu keluar masuk peredaran TSL di Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Kategorinya, untuk jalur laut sebanyak 45 pelabuhan resmi. Jumlah itu terbagi sebanyak 21 pelabuhan di Provinsi Maluku dan 24 pelabuhan di Maluku Utara.

Sementara, jalur udara terdapat 24 bandara. Jumlah itu terbagi sebanyak 15 bandara di Provinsi Maluku dan 9 bandara di Maluku Utara. “Untuk menangani itu, BKSDA Maluku membutuhkan dukungan semua pihak,” ujar Mukhtar Amin Ahmadi, Kepala BKSDA Maluku, dalam rapat koordinasi komitmen stakeholders terkait peredaran TSL ilegal di Hotel Royals Ternate, Senin (3/12/2018).

Sejak awal Januari hingga pertengahan November 2018, telah ditemukan kasus peredaran TSL ilegal sebanyak 72 kasus. Dari jumlah itu, lebih dari 1.100 ekor burung dapat diselamatkan. Sebagian besar sudah dilepas ke habitatnya. “Olehnya itu, saya mengajak seluruh pihak terkait untuk berkomitmen melindungi dan memberantas kejahatan TSL ini,” tandasnya.

Rencanannya, rapat koordinasi ini akan ditutup dengan pelepasliaran burung-burung endemik Maluku Utara pada Selasa (4/12) di hutan lindung Sidangoli, Kabupaten Halmahera Barat, sebanyak 51 ekor. Jumlah itu terdiri dari 22 ekor kakatua putih, 6 ekor kakatua bayan, 15 ekor kasturi Ternate dan 8 ekor Nuri Kalung Ungu.

Alasan dilepaskan, karena burung jenis ini dilindungi PP nomor 7 tahun 1999 dengan lampiran sesuai dengan Peraturan Menteri LHK Nomor P.92/2018. “Sebelum dilepasliarkan, burung-burung tersebut telah melalui pengawasan intensif oleh dokter hewan Balai KSDA Maluku,” jelas Mukhtar.

Penulis: Nurkholis Lamaau (Kru Jalamalut dan Redaktur Kabar.News)

Baca Lainnya