TELAAH

Kamis, 23 Mei 2019 - 21:38

1 bulan yang lalu

logo

Anak anak Kalauodi, Tidore Kepualaun, Maluku Utara saat belajar di salah satu bivak. Foto: Dok. Walhi Malut

Pemuda dan Lingkungan Hidup

Pada perkembangan pemuda telah menjadi harapan masyarakat, Negera dan Bangsa. Banyak pemuda sudah mentorehkan gagasan dan inovasi untuk membangun daerah lewat komunitas-komunitas yang dianggap turut berpartisipasi memajukan visi-misi pemerintah daerah. Tetapi pemuda yang dimaksud bukan saja tergabung dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), namun dikatakan pemuda yang sudah dewasa yang terhimpun  dalam lembaga-lembaga Mahasiswa, organisasi – organisasi kepemudaan, organisasi pemuda serta kampung di masing-masing wilayah di Maluku Utara.

Peran pemuda dalam merespon isu-isu lingkungan hidup sangatlah penting. Dikala kita melihat, dunia lingkungan membutuhkan gerakan orang-orang mempunyai kepekaan edukasi tinggi untuk memberi pemahaman kepada masyarakat. Seperti cara mengelolah lingkungan lewat kreasi tanpa menunggu pemerintah. Kajian mengenai lingkungan hidup ini, tidak terlepas dari semangat pemuda di dalamnya. Merekalah yang mengkafer segala kepentingan masyarakat guna menjadikan pembahasan bersama.

Sebagaimana semangat  yang dicontohkan, Mochamad Zamroni, kelahiran Surabaya, 3 Mei 1978 pada edisi kompas edisi 6 Februari 2019, merupakan sosok pemuda yang fokus mengajak generasi muda untuk peduli lingkungan.  Ia menggelakan gaya hidup bebas sampah  sejak masa sekolah. Aksi nyata Zamroni adalah mengajak siswa membawa botol minuman dari rumah. Selain tidak perlu keluar uang untuk membeli air minum, mereka juga mengurangi produksi sampah plastik. Jika ingin membeli minuman dikantin, mereka cukup memberikan botol tersebut kepada penjual untuk diisi air.

Menurut Zamroni bahwa, salah satu kunci keberhasilan gerakan peduli lingkungan di tingkat siswa sekolah adalah komiten kepala sekolah. Jika kepala sekolah mempunyai komitmen dengan tunas muda, maka gerakan yag dilakukan oleh Zamroni pasti didukung dan disesuaikan dengan kurikilum sekolah. “Saya berusaha melawan kejenuhan dengan memaksa diri untuk pergi ke sekolah-sekolah setia hari. Ternyata cara ini cukup mujarah,”katanya.

Dari sosok pemuda tersebut, perlu adanya sosialisasi dengan membumikan pemikiran-pemikiran untuk memahami dampak-dampak lingkungan hidup baik flora dan fauna. Sebagaimana gagasan Sonny Keraf (2014) dalam bukunya Filsafat Lingkungan Hidup, secara jelas lingkungan hidup atau ekologi bukan semata-mata berurusan dengan pencemaran. Ia juga bukan semata-mata persoalan kerusakan alam. Lingkungan hidup dalam penegrtian lebih luas, lebih mendalam dan lebih filosofis menyangkut dengan kehidupan dan interaksi yang terjalin di dalamnya. Ia menyangkut mata rantai jaringan makanan dan siklus yang menghubungkan satu kehidupan dengan kehidupan lainnya dan interaksi antara semua kehidupan dengan ekosistemnya, dengan bumi tempat hidup semua kehidupan.

Dimaksud filsafat lingkungan hidup tidak lain adalah sebuah kajian tentang lingkungan hidup—adalah sebuah pencarian, sebuah pertanyaan terus-menerus tentang lingkungan hidup, baik makna dan hakikatnya maupun tentang segala hal yang menyangkut lingkungan hidup itu sendiri.

Dalam pembahasan tentang pemuda dan lingkungan hidup seperti yang dirilis Tempo.co 31 Oktober 2016 lalu, sebuah lembaga “Walhi” telah mendeklarasikan gerakan pemuda cinta lingkungan Hidup dengan melakukan kampanye deklrasi dengan tema ”Merewat Lingkungan Merajut Kebangsaan Mempertegas Kebinekaan”. Yang diilhami oleh Fritof Capra, seorang ahli fisika dan filsuf lingkugan hidup sebagai melek ekologi.

Melek ekologi sesungguhnya diinspirasi dari bersumber dari Capra sebagai kearifan alam. Sebagaiamana dikatakan Capra, “selama lebih dari tiga miliar tahun evolusi, ekosistem palnet bumi telah mengorgan air dirinya secara demikian samar-samar dan kompleks untuk meningkatkan keberlanjutan.

Untuk itu, sudah tentu sebagai lembaga Wahana Lingkungan Hidup betul-betul mendukung gerakan pemuda untuk tetap mencintai lingkungan dan mengelolah lingkungan sebagaiamana yang dipratekkan oleh “Walhi Maluku Utara” di Kelurahan Kalaodi Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara. Di Kalaodi sendiri, tempat hutang lindung dan menjadi salah satu desa binaan Walhi menjadikan identitasnya guna menumbuhkembangkan budaya serta adat istiadat dalam merawat hutan demi kepentingan umat dan bangsa.

Dengan demikian, pemuda merupakan identitas lingkungan yang mampu mempengaruhi alam dengan mengorganisir seluruh pemikiran tentang ekoliterasi kepada orang lain untuk mempengaruhi sistem kehidupan organisme lainnya, supaya tidak membawa kerugian alam disekitarnya.

Pemuda sebagai Ekoliterasi

Pemuda sebagai ekoliterasi dipandang “ecology”  bagi Capra dipandang sebagai ilmu yang mengkaji hubungan antara anggota rumah tangga di alam semesta dan sekaligus hubungan semua mahluk hidup dengan alam semesta atau lingkungan seketarnya. Literacy dalam bahasa inggris artinya melek huruf. Kata ini menggambarkan keadaan orang yang tidak lagi buta huruf, orang yang sudah tahu atau membaca atau menulis. Atau dalam pengertian luas, bererti keadaan di mana orang sudah paham atau tentang sesuatu itu.

Oleh karenanya, ekolitersi mamandang pemuda adalah bagian dari mahluk hidup yang saling membutuhkan kesadaran dalam mengembangkan pengetahuan. Bagaiamana menciptakan lingkungan hidup berbasis inovasi yang bersumber dari alam dan diekpresikan ke dalam masyarakat untuk menjadikan sebagai budaya yang berkelanjutan. Sehingga, pemuda sendiri menentukan kemana arah prinsip-prinsip ekologi dalam menata kehidupan atau membangun anggota baru, komunitas baru serta tempat baru guna mewujudkan lingkungan yang tidak ada kepentingan oleh pihak-pihak lain.

Kesadaran tentang lingkungan inilah, menuntun pemuda lebih merespon dinamika alam semesta yang oleh, Capra  sebuah kearifan alam merupakan hakikat dari ekoliterasi atau melek lingkungan hidup”. Capra juga menambahkan sekaligus meramalkan bahwa, masa depan umat manusia, masa depan komunitas manusia, dan masa depan planet bumi ini sangat tergantung pada ecoliteracy ini, dan pada kesadaran tentang pentingnya lingkungan hidup, pada kemampuan dan keseriusan kita menata perilaku kita serta komunitas kita harus selaras dengan ecoliteracy  ini. “Sedangkan pada daswarsa-dasawarsa mendatang, nasib umat mansia tergantung pada melek ekologis kita, yaitu kemampuan kita untuk memahami prinsip-prinsip dasar ekologi dan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip ekologis tadi.

Dalam prinsip-prinsip ekoligis, Capra memahami alam sebagai jaringan autopoesis yang mempunyai struktur disiparatif , kita dapat merumuskan serangkaian prinsip ekologis tersebut dasar bagi kita dalam membangun komunitas manusia yang  berkelanjutan. Artinya, dengan kondisi lingkunga hidup yang global telah sampai pada tahap kritis yang membahayakan kehidupan kita sekarang. Kita perlu menerapkan prinsip-prinsip ekologi tersebut sebagai paduan dasar dalam membangun kembali masyarakat kita menjadi masyarakat yang berkelanjutan.

Begitulah sebagai ekoliterasi, pemuda bukan saja mengandalkan prinsip dasar dicetuskan sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 di Batavia Jakarta yang salah satunya bunyi dari naskah “kami putra dab puteri Indonesia bertumpah darah yang satu,tanah air Indonesia, kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” namun hidup antara sesama saling membutuhkan dengan yang lain adalah aspek kemanusian. Karena memaknai pemuda, perlu dihadapkan pada persoalan keumatan dan kebangsaan sehingga tanah, air, api dan udara menjadi sumber bagi keberlangsung hidup manusia yang harus dijaga dan dirawat sebagaimana kebudayaan kita sendiri.

Keberlangsungan pemuda patut diimplementasikan ke dalam lingkungannya masing-masing sebagai mata rantai yang tidak terlepas dari proses dari tumbuh-tumbuhan. Sebab pola komsumsi yang dibutuhkan manusia “makanan” yang tidak lain adalah berawal dari alam semesta: pasti direncanakan dengan dihargai dengan nilai ekonomi yang tinggi, berawal dari didaur ulang lewat sistem jaringan bekas bahan pokok. Akhirnya implikasi dari lingkungan hidup tetap merambat sampai pada mahalnya kepedulian pemerintah terhadap pemuda yang betul-betul menabung warisan ekoliterasi untuk menyongsong masa depan lingkungan hidup bagi Indonesia.[]

Oleh:Mansyur Armain

Baca Lainnya