TELAAH

Senin, 25 Maret 2019 - 19:34

3 minggu yang lalu

logo

Para Imam dan Khotib meembaca doa di atas makam Almarhum Sultan Mudaffar Syah | Nahdi Ade

O’Masigiliho, Kemungkinan Kembali ke Dia Yang Maha Esa

Suatu pandangan atau doktrin yang sering akrab dengan agama-agama semetik. Dalam Islam misalnya, menyebut kematian adalah trans-hidup ke Maha Asal, Tuhan adalah asal segala sesuatu. Orang Galela mengenal kematian sebagai proses kembali ke yang Maha Asal, O’Masigiliho,  O’Giki, yang disifatkan dengan Moi atau satu, Giki Moi.

Demikian juga dalam agama-agama wahyu, konsep monoteismenya adalah satu Tuhan. Kita akan menemui perbedaan dan kemungkinan kesamaan konsep ketuhanan orang Galela dengan konsep ketuhanan yang ada dalam agama wahyu, yakni Allah.

Frasa-kerifan lokal O’Masigiliho dan O’Giki Moi, yang dipakai orang Galela atau orang Halmahera secara umum yang mengungkapkan pengetahuan-pengetahuan otentik orang Galela. Artinya pengetahuan tersebut muncul sebelum orang-orang Galela atau orang Halmahera yang berinteraksi dengan orang-orang asing.

Mati, orang Galela menyebutnya Sone, yang dirujuk pada peristiwa kematian. Dalam kata Sone kita tidak menemukan makna kembali pada sumber-asal. Hal ini karena kata Sone yang digunakan oleh orang Galela hanya menunjukkan pada peristiwa kematian itu sendiri. Karena itu kata Sone tidak mengungkapkan makna kematian sebagai sebuah proses kembali pada asal. Di sisi lain orang Galela juga menggunakan kata O’Masigiliho untuk memberitakan kematian seseorang kepada keluarga dekat, tetangga, teman, dan lain-lain. Nah, dalam O’Masigiliho inilah orang Galela memaknai kematian sebagai sebuah proses kembali pada asal, tak hanya mengungkapkan peristiwa kematian.

O’Masigiliho berasal dari kata giliho yang berarti membalik. Kata Giliho orang Galela sering menggunakannya saat membalik sesuatu. Misalnya kita sedang memanggang ikan di atas bara api, setelah punggung sebelah yang terkena bara api telah matang kita akan membalik ikan itu untuk membakar punggung sebelahnya lagi. Namun kata O’Masigiliho ini hanya digunakan khusus bagi peristiwa meninggalnya manusia. Seandainya kita sedang berada di kebun, menjelang sore kita bergegas pulang ke kampung. Meski peristiwa kembali, yakni ke kampung, orang Galela tak memakai kata O’Masigiliho, namun dalam peristiwa ini orang Galela memakai kata Liho, yang berarti pulang.

Orang Galela juga memakai kata Liho untuk “kembali ke asal”, tetapi kata ini dipakai untuk ke kampung atau desa (tempat tinggal di dunia) dan sementara O’Masigiliho sebagai kembali ke sumber-asal. Kembali ke kampung dunia dimaknai dengan kata Liho, sementara untuk kembali ke sumber-asal dengan kata O’Masigiliho, sumber kata Giloho, yang telah matang. Mungkin itu, sebagaimana orang Galela memaknai hidup adalah suatu proses pematangan diri setelah terpisah dari, untuk kembali pada asal, yang sekaligus telah menjelaskan pada kita bagaimana seharusnya menjadi manusia dalam horizon kehidupan atau sistem hidup di alam. Lalu apa yang menjadi asal manusia bagi orang Galela? O’Giki Moi adalah konsep ketuhanan yang dianut oleh orang Galela dan juga orang Halmahera secara umum.

Suatu keberadaan yang disifatkan dengan satu, Moi. O’Giki Moi sebagaimana yang diungkapkan oleh Mangunwijaya dalam novel sejarahnya tentang Orang Tobelo, Ikan-Ikan Hiu, Ido Homa, O’Giki atau Gikiri adalah pemilik. O’Giki Moi adalah Tuhan yang satu memiliki segala sesuatu, yakni alam dan manusia. Bukankah konsep ketuhanan yang demikian juga kita temui dalam teologi-teologi agama wahyu seperti Yahudi, Kristen, dan Islam? Jika memang demikian, secara konsepsional (jika tidak dikatakan sama) kita dapat mengatakan bahwa, konsep ketuhanan yang satu, yang mencipta alam dan manusia, yang ada dalam agama-agama wahyu juga ada dalam agama lokal orang Galela atau Halmahera.

Perlu dipertimbangkan di sini, bahwa konsep ketuhanan yang ada dalam agama-agama wahyu secara historis diperkenalkan oleh utusan-utusan Tuhan, yang dikenal dengan Nabi-Nabi atau Rasul. Para Nabi dan Rasul ini di utus oleh Tuhan yang satu, yang menciptakan alam dan manusia untuk memperkenalkan keberadaan Tuhan dibalik kehidupan dan sekaligus sebagai sumber segala sesuatu. Sementara konsep ketuhanan yang ada dalam agama lokal dikenal tidak melalui utusan-utusan Tuhan, para Nabi dan Rasul. Apakah ketiadaan para Nabi dan Rasul, utusan Tuhan, menunjukkan bahwa ketuhanan yang dimaksud dalam agama-agama wahyu berbeda secara radikal dengan konsep ketuhanan yang kita temui dalam pandangan ketuhanan orang Galela? Artinya Tuhan yang satu, yang menciptakan manusia dan alam semesta yang yanh dianut orang Galela bukan Tuhan sebagaimana yang diperkenalkan para utusan-utusan agama wahyu. Di sini mungkin problematisnya, untuk mendudukkan kesamaan atau perbedaannya.

Tapi mari kita periksa dulu. Apakah kita dapat memverifikasi sesuatu yang Ilahi yang dinisbatkan sebagai Tuhan pencinta dan yang satu sebagaimana yang diperkenalkan oleh para Nabi dan Rasul? Jika kita dapat memverifikasinya maka kita dapat memebedakan sesuatu yang Ilahi sebagai Tuhan yang diperkenalkan oleh para Nabi dan Rasul, kita dapat membedakan Tuhan agama wahyu dengan Tuhan agama nonwahyu. Dalam kitab wahyu, misalnya al-Qur’an, sesuatu yang Ilahi yang dinamai Allah dalam bahasa Arab, yang Ilahi itu dapat dipahami dalam sejumlah Nama-Nama.

Allah itu sendiri adalah suatu Nama dari Dzat yang menciptakan manusia dan alam semesta. Sementara Dzat itu sendiri yang dinamai dengan Allah itu tidak dapat diferivikasi sebagai Tuhan tertentu. Dalam konsep Islam, pada wilayah Dzat tidak ada segala sesuatu selain Dzat itu sendiri, Ia tidak berelasi dengan sesuatu yang berdiri sendiri di samping Dzat yang mencipta yang memungkinkan kita dapat memferivikasi sebagai bukan tuhan. Jadi dalam wilayah Dzat, tidak ada Tuhan selain Dzat itu sendiri. Proses ferivikasi hanya terdapat dalam wilayah Nama-Nama dari Dzat yang dinamai. Nama-Nama Tuhan yang diperkenalkan oleh agama-agama wahyu dari Dzat yang dinamai tidak dapat kita temukan dalam agama-agama nonwahyu.

Dari uraian singkat atas, kita hanya menemukan perbedaan pada wilayah Nama. Orang Galela menamai Tuhan mereka dengan O’Giki Moi, sementara Islam dinamai dengan Allah atau Nama-Nama yang lainnya. Sementara pada wilayah Dzat, yang sering juga diungkapkan dengan Al-Haqq (kebenaran) atau Hakikat segala sesuatu menegasikan kemungkinan keberadaan sesuatu yang bukan dzat yang dapat disandingkan dan dibedakan dengan Dzat, Al-Haqq, Hakikat.

Lalu bagaimana dengan O’Giki Moi sebagai paham keutuhan yang dianut oleh orang Galela, apakah O’Giki Moi itu sendiri mengacu pada Dzat, Al-Haqq, dan Hakikat segala sesuatu yang dalam Islam dinamai dengan Allah? Jika jawabannya positif, apakah manusia (orang Galela atau orang Halmahera) dapat ber-Tuhan kepada Dzat, Al-Haqq, yang dinamai Allah sebagaimana dalam agama wahyu meski tanpa perantaraan para utusan Nabi dan Rasul? Keterbatasan referensi primer yang tersedia yang menjelaskan pandangan ketuhanan orang Galela atau Halmahera secara umum, untuk melihat kemungkinan kesamaan dalam wilayah Dzat.

Masalah ini jika kita lihat melalui cara pandang Islam dan filsafat Islam, kita menemukan kemungkinan tersebut. Hal ini bukan semata pembenaran terhadap kebenaran-kebenaran Islam dan filsafat Islam atau pencocokan, tetapi Islam memandang bahwa manusia memiliki kemungkinan dapat menemukan Tuhan meski tanpa perantaraan para Nabi dan Rasul. Kita kutip hadis yang tidak hanya mashur di kalangan sufi tetapi juga bagi umat Muslim, “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Aku mencipta” dan “Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya

Al-Qur’an: “Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah. (QS. Tha Ha: 2-6). “Dalam setiap makhluk, ada tanda (ayah) dari-Nya, yang bersaksi bahwa Dia Maha Esa“. “Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui“. (QS. Yunus: 5). “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendir… (QS. Fushshilat: 53), dan “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Al-Dzariyat: 20-21).

Ayat-ayat Qur’an yang dikutip di atas dikenal sebagai Al-Qur’an al-takwini atau Al-Qur’an Kosmis, yakni yang melihat manusia dan alam sebagai ayat-ayat atau tanda-tanda Tuhan sebagaimana ayat Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kemungkinan ber-Tuhan kepada sesuatu yang Ilahi meski tanpa perantaraan para Nabi. Kutipan ayat-ayat Qur’an di atas juga tidak berupaya mengislamkan pandangan dan kearifan lokal. Tetapi kita menyaksikan bahwa O’Masigiliho, O’Giki Moi, dan konsep-konsep lainnya yang masih terendap dalam keberadaan kita saat ini, menggambarkan suatu intelektualisme yang murni bersumber dari kesadaran orang Galela atau orang Halmahera yang dapat kita temui dalam kearifan dan kebudayaan mereka.

Penulis : Rahmat Mustari

Baca Lainnya