WARTA

Senin, 3 Desember 2018 - 16:59

2 minggu yang lalu

logo

Okky Ajak Anak-anak Berpetualang di Pulau Gapi

Penulis kenamaan, Okky Madasari baru saja meluncurkan buku berjudul ‘Mata dan Rahasia Pulau Gapi’. Buku ini adalah seri kedua setelah terbitan pertama berjudul, ‘Mata di Tanah Melus’.

“Buku pertama Mata di Tanah Melus, Nusa Tenggara Timur. Buku kedua mengangkat kisah petualangan di Ternate. Jadi ini serial petualangan seorang anak di berbagai daerah di Indonesia,” ujar perempuan peraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award ini, dalam peluncuran buku di Benteng Fort Oranje Ternate, Minggu 2 Desember 2018.

Peluncuran buku yang diprakarsai Jalamalut bersama beberapa komunitas serta lembaga, seperti Jarkot, Kalase, BPCB Maluku Utara, dan Gramedia ini, tampak sangat antusias diikuti warga Ternate.

Di serial kedua ini, Okky membawa anak-anak di Ternate untuk belajar tentang daerah, kebudayaan, manusia, sejarah, serta berbagai nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. “Di sini lebih banyak menghadirkan sejarah. Ini bercerita tentang petualangan seorang anak kecil bersama seekor kucing yang menelusuri sejarah Ternate,” terangnya.

Anak-anak tampak serius membaca buku ‘Mata dan Rahasia Pulau Gapi’, di Taman Film, Fort Oranje, Ternate | Jalamalut/Faris Bobero

Okky menjelaskan, sejak kedatangan Portugis, Belanda, Jepang, hingga Indonesia dinyatakan merdeka, semua terbengkalai. “Padahal Ternate adalah pulau paling penting dalam peta perdagangan dan politik internasional. Tapi justru terlupakan. Ini yang ingin saya hadirkan buat anak-anak,” tandas Okky.

Okky bahkan mengaku sempat heran ketika anak-anak ditanya, apakah sudah pernah ke keraton (Kesultanan Ternate). “Mereka bilang belum. Bahkan mereka tidak tahu kalau Pulau Gapi itu adalah nama lain dari Ternate,” katanya.

Belum lagi fakta Alfred Russel Wallace, yang pernah tinggal cukup lama di Ternate untuk meneliti. Bahkan dari Ternate, Alfred menulis surat untuk Charles Darwin. “Dari sini menunjukkan bahwa, betapa pentingnya Ternate dalam peta pengetahuan dunia. Ini yang coba saya hadirkan lewat cerita,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Okky, alasan penulisan ini karena bacaan untuk anak-anak sangat terbatas. Apalagi berupa novel. Sementara, di luar negeri, anak-anak membaca novel yang pas buat mereka. Olehnya itu, ia bertekad ingin menumbuhkan literasi kecintaan membaca sejak kecil.

“Pada akhirnya, ini bertujuan menumbuhkan budaya literasi, yang dimulai dari seluruh anak-anak di Indonesia. Karena kita sama-sama tahu, kekuatan sastra itu membentuk jiwa dan kesadaran manusia,” katanya.

Dalam serial ini, dijelaskan Okky, tokohnya adalah anak kecil. Kemudian ramuan ceritanya bersifat petualangan. “Tapi mereka menikmati sebagai sebuah cerita yang menarik. Mereka sedang berpetualangan,” tuturnya.

Bahkan dalam karya ini, ditegaskan Okky, orang dewasa pun bisa ikut membaca. “Buktinya semua pembaca novel saya orang dewasa. Jadi memang sebuah buku untuk anak yang baik, harus juga bisa dibaca oleh orang dewasa,” katanya.

Okky Madasari di Peluncuran Buku ‘Mata dan Rahasia Pulau Gapi’, di Taman Film, Fort Oranje, Ternate | Jalamalut/Faris Bobero

Nantinya di karya ketiga berjudul ‘Mata dan Manusia Laut’, akan mengangkat tentang sisi kehidupan masyarakat Bajo. Suku yang akrab dengan kehidupan di laut. Sebab, kendati sebagai negara maritim, orang belum banyak yang tahu soal kehidupan laut.

“Orang berpikir laut itu sekadar diving, snorkeling. Tapi belum tahu bagaimana laut memberi kehidupan. Orang tidak punya imajinasi terhadap itu. Dan itu sangat jarang diangkat dalam karya sastra. Nah saya mau garap itu. Tahun depan terbit,” katanya.

Okky beralasan, maksud mengangkat beberapa daerah dalam serial ini, karena setiap daerah harus memiliki porsi yang sama besar, atau memiliki hak yang sama untuk hadir dalam pentas narasi. Karena faktanya, kita hanya berkutat pada cerita kota-kota besar di Jawa.

“Seperti Jakarta, Bandung, Jogja. Iya kan. Jadi harus ada upaya untuk menghadirkan daerah-daerah ini ke narasi cerita dan kesusastraan. Tentu dengan menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan. Agar tidak ada kesalahan dalam memahami perbedaan. Sebab ini sangat penting untuk dihadirkan dalam wawasan ke-Indonesia-an,” katanya.

Redaktur Kepala Jalamalut Firjal Usdek menuturkan, ketika Okky Madasari datang dengan karya-karyanya, orang menunggu. “Kami sangat bersyukur. Sebab kehadiran tulisan Mata dan Rahasia Pulau Gapi, cukup menjawab keresahan teman-teman yang mau menulis tentang historis, kebudayaan dan kearifan lokal di Ternate,” kata Firjal.

Peluncuran buku ‘Mata dan Rahasia Pulau Gapi’ itu juga berlangsung sampai malam, yang dilanjutkan dengan diskusi buku oleh sejumlah komunitas, para penulis, akademisi, dan jurnalis | Jalamalut/Faris Bobero

“Cerita yang disentil Mbak Okky, walau dengan pendekatan yang sedikit berbeda, tapi itulah tulisan. Dia punya sudut pandang yang berbeda, tetapi tidak lari dari substansi,” tuturnya.

Menurut dia, pesan yang dapat diambil di sini adalah, teman-teman yang senang menulis, dapat membuat novel yang realistis. “Bukan berarti kita mengikuti Mbak Okky, tapi minimal ini menjadi pemicu. Jadi saya kira perlu diikuti,” tuturnya.

Namun sejauh ini, sebagian penulis mengalami kesulitan untuk menyederhanakan sejarah dalam bentuk novel. Karena sandarannya adalah data. Hal itu diakui Firjal. Sebab, kebanyakan para penulis kerap sulit menarik diri secara objektif. Apalagi menulis tentang daerahnya sendiri.

“Kalau menulis dalam aspek novel, itu sebenarnya tergantung dari seberapa banyak buku yang dibaca. Mungkin kita sebagai penulis pemula hanya meniru. Tetapi lama-lama akan ada karakter tersendiri yang terbentuk. Karena ini soal sudut pandang,” katanya.

Penulis: Nurkholis Lamaau (Kru Jalamalut dan Redaktur Kabar.News)

Baca Lainnya