TELAAH

Sabtu, 27 April 2019 - 19:49

3 bulan yang lalu

logo

Moti Veerbond, Antara Kesejarahan dan Festival

“Ada orang di setiap waktu dan setiap negeri yang ingin menghentikan sejarah di jalurnya. Mereka takut akan masa depan, tidak mempercayai masa kini, dan memohon keamanan masa lalu yang nyaman yang pada kenyataannya tidak pernah ada” — Robert Kennedy.

Ungkapan Robert Francis “Bobby” Kennedy, adik kandung presiden Amerika Jhon F Kennedy dan mantan Jaksa Agung Amerika di atas ada benarnya. Tapi kita tidak mungkin (impossible) menghentikan jalannya sejarah.

Sepanjang manusia hidup di bumi maka sejarah akan terus berlangsung. Manusia adalah determinisme sejarah. Merujuk pada dalil agama sejarah manusia bermula dari peristiwa skandal buah Khuldi antara Adam dan Hawa sehingga menyebabkan mereka diusir dari surga turun ke bumi.

Tapi sejarah juga kadang tidak ada, sejarah kerap dibangun dari semacam mitologi. Pada matra itu, relevan dengan pernyataan Ajip Rosidi, wartawan senior yang terlibat sejak muda ketika perang revolusi berkecamuk, ia juga menyaksikan dan mecatat kejatuhan rezim Orde Lama dan berkuasanya sang jendral Orde Baru.

Sejarah menurutnya adalah bangunan mitos dari rekayasa sebuah zaman untuk kenyamanan dan stabilitas kekuasaan. Kredo ini nyambung dengan bahasa Kennedy di atas — memohon keamanan masa lalu yang nyaman yang pada kenyataannya tidak pernah ada.

Sebagai mukaddimah dari wacana Moti Veerbond antara Kesejarahan dan Festival, saya sengaja mengintrodusir pandangan Robert Kennedy dan Ajip Rosidi untuk menjernihkan sudut pandang melihat ke masa silam. Cara pandang romantik terhadap masa lalu cenderung sudah ditinggalkan para ahli dalam studi sejarah.

Justru romantisme masa lalu pada tingkat tertentu dapat membius dan cenderung membuat kita terjebak pada subjektivisme personal.  Hal demikian dapat membawa kita pada sikap kabasarang diri  tanpa upaya melihat secara kritis kondisi material dibaliknya. Apa dan bagaimana kondisi sosial politik dan motif lahirnya kesepakatan para sultan di Zazirahtul Al-Mulkiyah di gunung/kie Tuanane (pulau moti) pada 1322 M?

Apakah benar pertemuan itu berlokasi di Kelurahan Tadenas, di atas sebuah batu (mafu jou)? Apakah pertemuan itu hanya musyawarah biasa atau sebuah Konfederasi? Menurut Irfan Ahmad, dosen sejarah di Universitas Khairun Ternate (Unkhair) dalam komentar responnya atas status/ulasan Bang Sofyan Daud di Facebook tentang Moti Veerbond—bahwa pertemuan para Sultan di Moti hanyalah mitos. Ini bagian dari perebutan Moti dari kesultanan Tidore untuk tetap berada dibawah kendali kesultanan Ternate.

Berbeda dengan Irfan Ahmad, M. Adnan Amal dalam bukunya, Kepulauan  Rempah-Rempah, Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250 – 1950 (2016) membenarkan pertemuan para Sultan di Zazirah Al-Mulkiyah di pulau moti (namun lokasi pertemuannya tak ditunjukkan secara jelas oleh Adnan Amal).

Menurut Adnan Amal pertemuan para Sultan tersebut bukan sebuah Konfederasi tapi pertemuan untuk membicarakan upaya-upaya rekonsiliasi sekaligus meredam ketegangan antar kerajaan Maluku, penyeragaman bentuk-bentuk kelembagaan kerajaan, serta penentuan peringkat dan senioritas peserta musyawarah.

Pernyataan Irfan Ahmad dan studi yang dilakukan oleh M. Adnan Amal (ulasannya tentang Pertemuan Moti hanya dua halaman saja). Mesti dilakukan upaya studi lanjutan dengan riset yang serius dan mendalam.

 

Upaya rekonstruksi Sejarah Moti Veerbond

Andai Moti Veerbond Fest ini sekedar pagelaran untuk menjual keindahan pantai dan gunung saya pikir tidak relevan. Waktu kita akan habis memikirkan apa dan bagaimana brand-nya, bagaimana membuat cendramata/Handycraft yang khas Moti. Kuliner moti juga relatif sama dengan daerah-daerah lainnya dikawasan Maluku Utara.

Dari segi bahasa juga tidak khas Moti yang tumbuh karena upaya kreatif. Penduduk pulau Moti berbahasa Tidore dan Makian karna berasal dari rumpun kedua entitas tersebut. Belum lagi infrastruktur yang tidak mendukung. Karna itu Moti Veerbond Fest ini mesti diletakkan dalam kesadaran historis dan upaya merefleksikannya secara kritis.

Kita sama tahu, di Maluku Utara nyaris tidak ada lembaga yang benar-benar fokus untuk melakukan riset secara serius dan mendalam tentang pertemuan para Sultan di Moti. Mulai dari upaya pengumpulan bahan-bahan utamanya (jurnal, gambar dan buku) yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu itu.

Bahkan di perpustakaan daerah, bahan-bahan tentang peristiwa persekutuan Moti itu nyaris sunyi dari rak-rak buku perpustakaan. Kendati ada pembicaraan di ruang seminar tapi sejarah motir Verbond masih berada dititik singgung debat yang tak berujung. Karna itu momentum Moti Veerbond Fest ini harus membidangi lahirnya upaya penggalian dan pencarian peristiwa masalalu itu dengan riset yang serius dan mendalam.

Saya membayangkan di Moti pasca Moti Veerbond Fest ada semacam museum yang representatif menyimpan arsip, buku, gambar bahkan memori masa lalu Maluku Utara. Jika orang-orang hendak melihat diri Maluku Utara, hendaklah ia ke pulau Moti bercermin di sana melalui arsip, jurnal, buku, sketsa, foto dan gambar tentang Maluku Utara dari tahun ke tahun.

Ditengah situasi diseksistensi, kita tidak tahu siapa sebenarnya diri kita. Apa dan bagaimana tubuh sejarah dan sosial kita disusun dan dibentuk. Kita juga tidak tahu sekarang sedang berada dimana (dislokasi), dan tidak tahu hendak menuju kemana (disorentasi). Karena itu Moti Veerbond Fest mesti merumuskan langkah-langkah yang sifatnya jangka panjang untuk menyediakan jawaban. Apa sebenarnya Maluku Utara itu? Sejauh ini berjalan kita sudah berada dimana? Dan tujuan kita kedepan harus berjalan kemana?

Tanpa itu, Moti Veerbond Fest hanya hiburan biasa yang sifatnya musiman.

Wallahualam bissawab

Penulis: Indra Talip

Kru jalamalut

 

Baca Lainnya