TELAAH

Rabu, 30 Januari 2019 - 17:36

5 bulan yang lalu

logo

Merasa Pintar dengan Merumitkan Bahasa

Alkisah, di sebuah desa pesisir di selatan pulau Obi. Dalam suatu pertemuan antara masyarakat dan pemerintah desa guna membahas ihwal penyerapan dana desa selama setahun, hadirlah seorang pemuda, tampangnya begitu serius. Tatkala sesi dengar pendapat berlangsung, si pemuda dengan bernas melakukan pelbagai kritikan.

“Implementasi kebijakan semestinya memerhatikan kebutuhan grassroot.

“Setiap pelayanan publik yang terjadi harusnya berdasarkan asas efektif-efisien, agar pelayanan tersebut bisa berjalan dengan baik.”

“Masyarakat juga punya peran penting dalam meningkatkan kinerja pemerintah dengan melakukan feedback terkait kebijakan yang dilakukan.”

Ucapan-ucapan tersebut meluncur deras dari mulut si pemuda. Tangannya naik-turun mengikuti ritme suara. Ia seperti seorang dirigen sebuah kelompok paduan suara.

Implementasi… grassroot… efektif… efisien… feedback….

Kata-kata yang ia ucapkan itu melayang-layang di seantero ruangan. Berpindah dari kepala ke kepala orang yang memenuhi rapat tersebut. Dahi-dahi mengkerut memahami bahasa si pemuda yang kelewat tinggi bagi peserta rapat yang saat itu sebagian besarnya adalah lulusan Sekolah Dasar.

Saya haqul-yakin, bahwa situasi seperti di atas seringkali kita temukan dalam berbagai kesempatan. Bahasa yang semestinya diciptakan untuk memahami satu sama lain justru dirumitkan sedemikian rupa demi sebuah gengsi. Demi suatu level sosial yang diidamkan.

Bahasa, menurut saya, ibarat sebuah pakaian, ia membutuhkan ukuran untuk terlihat ideal, selain itu juga membutuhkan waktu yang pas agar terlihat pantas.

Bahasa, bagi para pendahulu, menunjukkan suatu bangsa. Ia menyatukan segala sesuatu yang berbeda. Namun pada satu titik, bahasa adalah instrumen paling frontal dalam sekat-sekat sosial. Dalam artian, bahasa memberikan dikotomi paling jelas antara mereka yang terpelajar dengan yang tidak.

Akan naif tentu saja jika kemudian saya mengatakan bahwa penggunaan istilah ilmiah atau kata-kata asing sebagai sesuatu yang haram. Namun akan jadi persoalan ketika penggunaan bahasa yang rumit dan sukar dipahami dilakukan di hadapan masyarakat yang memiliki tingkat pemahaman berbeda. Atau katakan saja, tingkat pendidikan yang rendah.

Anda tentu saja tahu siapa Vicky Prasetyo bukan? Ya, selebriti yang entah apa karyanya itu adalah representasi dari mereka yang merasa perlu membawa segudang kata ilmiah di hadapan masyarakat, sekalipun dalam pembicaraan sehari-hari. Vicky Prasetyo adalah ikon dari mereka yang percaya bahwa dengan menyelipkan kata asing akan menaikkan strata sosial di masyarakat. Tak peduli bahasa yang digunakan sesuai kaidah atau tidak, dimengerti lawan bicara atau tidak. Pokoknya yang penting adalah terlihat intelek.

***

Merumitkan bahasa dalam situasi yang tak pas ini seringkali saya temukan dilakukan oleh kawan-kawan mahasiswa. Tatkala tugas pengabdian masyarakat dilaksanakan dalam bentuk KKN, saat itulah pola komunikasi memperlihatkan bagaimana kelas sosial terjadi. Yang seperti ini juga sering terjadi bagi kawan-kawan yang kebetulan menempuh pendidikan di kota besar, jauh dari desa tempatnya lahir. Lalu ketika pulang kampung, entah karena kebutuhan eksistensi atau sekadar menunjukkan hasil setelah kuliah di kota besar, bahasa yang digunakan kerapkali menjulang tinggi.

Kenyataan itu tak bisa dilepas dari sistem pendidikan dan ihwal kekuasaan sebagaimana disebut Paulo Freire, pemikir asal Brasil, bahwa sistem pendidikan dewasa ini tak lebih dari alat kuasa untuk menindas mereka yang lemah. Alih-alih membuat para terpelajar tak berjarak dengan masyarakat, metode pendidikan sekarang justru sebaliknya: mengasingkan para intelektual dari realitas yang terjadi. Para terpelajar yang mendekam di menara gading itu, ketika turun justru membuat jarak dari bahasa yang digunakan.

Tak mengherankan memang jika kita melihat bagaimana metode pendidikan dewasa ini. Sistem pembelajaran yang melulu tentang hafalan alih-alih pemahaman. Seorang murid akan dipandang sebagai murid yang cerdas ketika ia mampu menjelaskan sesuatu sesuai dengan yang tertulis di buku. Dalam artian, kebanyakan dari pengajar-pengajar kita senang dengan murid yang hanya memindahkan apa yang tertulis di buku ke ucapan atau tulisan, tanpa adanya penjelasan subjektif dari si murid.

Padahal kita tahu, buku semestinya cukup menjadi jembatan untuk mencapai sebuah gagasan, selebihnya ia tergantung pada pemahaman atau cara pandang si pembaca. Sederhananya begini, kita bisa tahu ia benar-benar paham atau tidak pada suatu pemikiran dengan cara ketika ia mampu menjelaskan sesuatu dengan caranya sendiri, dengan penyederhanaan-penyederhanaan yang ia lakukan, selama itu tidak keluar dari konteks yang termaktub. (*)

 

Penulis: Rizal Syam/Kru Jalamalut

Baca Lainnya