WARTA

Rabu, 5 Desember 2018 - 03:32

2 minggu yang lalu

logo

Aktivitas Komunitas bersama BPCB dan komunitas dalam konservasi dinding Benteng Oranje

Menjaga Ke-kuno-an Benteng dengan Aksi Ke-kini-an Komunitas

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Maluku Utara melakukan konservasi Benteng Oranje selama dua hari yaitu tanggal 3-4 Desember 2018. Kegiatan yang melibatkan komunitas-komunitas di Ternate ini bertujuan agar benteng dipelihara dan dilestarikan secara bersama sebagai artefak sejarah.

Konservasi tersebut diikuti oleh Jaringan Komunitas Ternate (Jarkot), Ternate Heritage Society, Enjoy Ternate, Nomat Ternate, Literasi Jalanan, KNPI Ternate, KFI Malut, Seasoldier Malut, ICCN Media, Bukusuba Institute, KI Ternate, Kendari Kreatif dan North Moluccas Secret.

Kepala BPCB Malut, Muhammad Husni (Kemeja putih, celana hitam), berkoordinasi dengan tim koordinator lapangan dan perwakilan komunitas.

Kepala BPCB Maluku Utara Muhammad Husni mengatakan, konservasi dan pelestarian yang dilakukan oleh BPCB Maluku Utara salah satunya menjaga ‘ke-kuno-an’ benteng sehingga nilai keaslian dari benteng masih tetap terjaga dan lestari.

“Keterlibatan komunitas sebagai wadah untuk menjaga dan merawat keaslian Benteng dan kesadaran anak muda sebagai kepemilikan bersama,” ucapnya.

Sementara Koordinator Tim BPCB Malut ibu Linda A. Hadiyati mengatakan, tujuan konservasi dinding benteng ialah pemeliharaan yang dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah pelestarian.

Tim konservasi dan komunitas mempersiapkan perlatan

“Hari pertama kita melakukan pembersihan dengan menggunakan sikat, sapu lidi,  untuk mengeluarkan rumput dan lumut yang menempel di dinding Benteng,” katanya.

Menurutnya, cat yang menempel di dinding benteng merupakan perbuatan merusak dan menghancurkan barang-barang berharga (vandalisme). Oleh karena itu, BPCB menggunakan bahan kimia pencahar cat dan “Paint remofer” untuk mengeluarkan sisa-sisa cat yang menempel pada dinding benteng.  BPCB selalu melakukan konservasi setiap tahun tetapi, dengan lokasi yang berbeda misalnya tahun lalu di Banda Neira.

Dalam amatan jalamalut.com, rumput dan lumut dibersihkan mengunakan bahan kimia begitu juga akar-akar pohon yang menempel hingga tembus ke dalam lubang dinding benteng diinjeksi dengan cairan yang sama.

Pembersihan rumput dan dinding Benteng Oranje

“Perlu adanya kesadaran dari pihak pengunjung maupun masyarakat agar dapat menjaga benteng. Selain konservasi, BPCB juga telah melakukan sosialisasi di beberapa sekolah-sekolah guna menjaga pelestarian artefak-artefak sejarah,” paparnya.

Ketua Jarkot, Zandri menyatakan, keterlibatan Jarkot dalam agenda konservasi dan perlindungan benteng yang dilakukan oleh BPCB, sebagai tanggung jawab bersama teman-teman komunitas dalam menjadikan benteng sebagai wadah ruang kreatif.  Jarkot, tambah Zandri, beberapa kali telah terlibat dalam kegiatan-kegiatan BPCB begitu juga sebaliknya.

“Kegiatan ini cukup memberi kesadaran kepada komunitas akan kepemilikan bersama dalam menjaga artefak sejarah,” ucapnya.

Direktur Bukusuba Institute, Sukarno M Adam yang juga ikut dalam konservasi tersebut  mengapresiasi langkah BPCB Malut yang peduli akan pusaka dan budaya dalam hal ini artefak sejarah dengan melibatkan komunitas. “Keterlibatan komunitas harus diikuti dengan kepedulian pemerintah, karena ini adalah simbol sejarah,” ucapnya.

Menurutnya, sejarah dan identitas dapat diceritakan kembali melalui pelestarian benteng yang bernilai sejarah. “Harapan kami dari komunitas ialah kiranya ini rutin dilakukan dan perlu ada perlindungan dan keseriusan dari pihak pemerintah dalam menjaga artefak-artefak sejarah seperti benteng karena ini adalah identitas kita,” tutupnya

Penulis : Risman Rais, Kru Jalamalut.

 

Baca Lainnya