WARTA

Jumat, 4 Januari 2019 - 21:09

3 bulan yang lalu

logo

Saat menggunjungi Gua Boki Marurur menggunakan Sampan/ SUpriyadi Sudirman/ Jalamalut

Menjaga Alam untuk Pengembangan Wisata Gua Boku Maruru

Keindahan pantai dan Air Terjun sering dijumpai di setiap Desa yang ada di Maluku Utara, tapi bagaimana dengan Wisata Alam Gua Batulubang atau disebut Gua Boki Maruru yang keindahannya tentu tidak diragukan lagi. Berdinding batu cadas yang kokoh dan tinggi, di bawahnya mengalir air yang jernih, dan juga memicu adrenalin bagi para pengunjung.

Gua ini berada di kaki bukit Desa Sagea, Weda Utara, Halmahera Tengah (Halteng). Orang dari belahan Benua Eropa terlihat sering datang di kampung yang jauh dari pusat keramaian kota ini. Warga setempat bilang, pada dinding di dalam Gua, terdapat tulisan tangan Bernhad pada tahun 1973. Bernhad adalah salah satu saudara laki-laki dari Ratu Welhelmina dari Belanda.

Selain itu, pada 1966, Gua ini juga dikunjungi dua orang peneliti dari Perancis. Tujuan mereka mencari tahu kedalaman Gua Batulubang. Sayangnya, tidak ditemukan ujungnya. Lewat cerita yang berkembang, jarak terjauh yang pernah ditempuh sekitar 7,8 Km.

Wisata Gua ini pun diminati warga lokal, dari kampung-kampung tetangga di Sagea, bahkan warga di Maluku Utara. Saat ini Gua Batulubang cukup terkenal. Pemerintah saat ini pun mulai melirik dan mengembangan potensi wisata di sana.

Subhan Somola saat menaiki Paddle Board di lokasi wisata Gua Bokimaruru

Pada tahun 2009 sejumlah pemuda yang tergabung dalam tim Ekspedisi Merah Putih Bokimoruru menggelar upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan di dalam Goa Batulubang. Upacara itu melibatkan Pemuda Sagea, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa dan Dinas parawisata Halteng.

***

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan mengamanatkan bahwa tujuan kegiatan kepariwisataan adalah upaya melestarikan alam, lingkungan dan sumberdaya dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip memelihara kelestarian alam dan lingkungan hidup, memberdayakan masyarakat setempat dan menjamin keterpaduan antarsektor, antar daerah, antara pusat dan daerah yang merupakan satu kesatuan sistemik dalam rangka otonomi daerah serta keterpaduan antar pemangku kepentingan.

Peraturan daerah nomor 1 Tahun 2012 tentang rencana tata ruang Wilayah Kabupaten Halteng periode 2012-2032, juga menetapkan Weda Utara sebagai kawasan peruntukan parawisata alam yang tercatat dalam paragraf tujuh pasal 31 ayat 3 huruf a yang berbunyi, “Wisata Alam dikembangkan di desa Sagea Kecamatan Weda Utara, Talaga Nusliko, Talaga Moreala berada di Kecamatan Weda.”

Keindahan Gua Batulubang perlu dijaga apalagi ekosistemnya yang masih utuh, sumber air yang melimpah, mengalir jernih dari dalam Gua hingga ke muara menjadi satu kesatuan aktivitas kehidupan warga yang tak terpisahkan.

Pegiat pariwisata, Subhan Somola yang tergabung dalam tim Ekpedisi Merah Putih bilang, ia menemukan keindahan alam yang menakjubkan sejak pertama kali melihatnya. “Saya jatuh cinta pada anugerah keindahan alamnya. Eksotik, saya yakin alamnya memikat para setiap pengunjung. Hal itulah yang membuat saya merasa penting untuk dikembangakan,” ungkapnya, Rabu malam, 26 Desember 2018 di rumahnya yang terletak di kelurahan Soa Kota Ternate.

“Sayang kalau potensi ini diabaikan, manfaatnya besar bagi desa dan juga warga akan lebih terbuka dengan orang-orang baru yang datang. Para pemuda dan tokoh-tokoh di kampung harus digerakkan, diajarkan pengetahuan bagaimana mengelola potensi yang ada,” ujarnya.

Subhan bilang, selama ini, sudah tiga kali melakukan kegiatan ekspedisi Gua Batulubang dan direspon warga terutama pemuda dan mahasiswa.

Apalagi, kata dia, saat ini dana desa yang begitu besar kalau dimanfaatkan dengan baik dalam pengembangan wisata akan punya dampak yang luar biasa bagi desa. “BumDes harus menjadi pilar utama dalam pembangunan desa, sudah harus petakan potensi yang ada di dalam desa, jadi selain Wisata Gua apalagi yang cocok dikembangan karena BumDes harus berperan pada kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat, jadi Pemerintah Desa harus berikan dukungan investasi yang penuh ke BumDes untuk menggenjot PAD lewat wisata,” ujarnya.

Tentang pengembangan wisata, Subhan mengatakan, nanti ada rapat musyawarah bersama terkait pengelolaan objek wisata karena menurut dia, Kementrian Pariwisata sangat merespon pengembangan wisata di sana, kementerian akan mengalokasikan dana pada tahun 2019 yang cukup besar untuk sektor pariwisata sehingga harus sama-sama berembuk.

“Sagea dan Kiya hanya terpisah administrasi desa saja, tapi dalam sejarahnya kampung ini menyatu dan hanya satu rumpun Suku Sawai, satu keturunan. Nah, untuk menghindari gesekan di kemudian hari, desa bisa membuat aturan bersama pengelolaan wisata,” tambahnya.

Menurutnya, objek wisata harus dikelola lintas sektor, jadi tidak hanya mengacu pada satu organisasi pengelola seperti BumDes. Harus menjadi objek wisata masyarakat yang berbasis nilai-nilai budaya masyarakat setempat, jadi siapa saja bisa memanfaatkan kawasan wisata tersebut, membangun warung. Menjual makanan tradisional, kue-kue khas lokal, cemilan, dll. Dan itu bukan di dalam BumDes.

Dia bilang, pengelolaannya misalkan pemberian sarana fasilitas, warung-warung kecil untuk warga di kawasan wisata.

Kepala Pemuda Sagea Junaidi Muslim bilang, pengembangan wisata di Sagea, ini bukan hanya dilihat pada sektor ekonomi saja yang bisa memberikan nilai lebih di desa, tapi ada hal yang lebih penting untuk dijaga bersama.

Menurutnya, harus ada persamaan persepsi lintas sektor, karena harus ada pemetaan kawasan yang sudah ditetapkan pemerintah yang akan dikembangan wisata alam Gua Batulubang. Seperti Dinas Pariwisata, Pertambangan dan Kehutanan.

“Keindahan Gua itu karena ada sungai yang jernih. Airnya bersumber dari pohon dan hutan yang lebat di bukit itu, airnya jernih karena ada karst. Nah, ini yang tidak bisa dilepas-pisahkan Gua dan sumber air itu,” kata Junaidi.

Junaidi bilang, jika tidak ada pemetaan wilayah kawasan wisata ke depan alam akan rusak akibat pertambangan, apa lagi sungai itu sumbernya juga dari Akejira, Ake Kob, Ake Gemaf bahkan Haltim. Wilayah-wilayah sungai itu telah habis masuk dalam konsesi tambang, terutama WBN dan First Pasifik Mining Sagea.

“Jika tidak dijaga, kedepan, sungai akan keruh akibat pertambangan. Ini akan mengganggu [ekosistem] di kawasan wisata alam. Bahkan, Gua yang kita agung-agunkan akan hilang,” katanya.

Menurutnya, kehadiran dinas Lingkungan Hidup dan kehutanan sangat dibutuhkan, sehingga ada sosialisasi di tingkat masyarakat. (*)  

 

Penulis: Supriyadi Sudirman/ Kru Jalamalut

Baca Lainnya