JELAJAH

Rabu, 19 Desember 2018 - 20:16

4 bulan yang lalu

logo

Perahu bermesin memecah ombak di selat Loloda. Foto: Ipang Mahardika/Jalamalut

Mengunjungi Loloda, ‘Pintu Utara’ di Tanjung Halmahera

Loloda, dalam beberapa catatan sejarah, ditulis sebagai salah satu kerajaan tertua di Halmahera. Wuri Handoko, melalui risetnya, Kerajaan Loloda: Melacak Jejak Arkeologi dan Sejarah, pada 2017, yang diterbitkan Kapata Arkeologi, menulis, bahwa Loloda adalah nama kerajaan di wilayah Maluku Utara, terletak di sebuah tanjung Pulau Halmahera bagian barat dan bagian utara.

Selasa, 11 Desember 2018, Jalamalut berkesempatan mengunjungi negeri ‘Pintu Utara’ itu. Penyebutan ‘Pintu Utara’ sendiri berasal dari kalimat yang populer di sana, yakni Ngara Mabeno. Beberapa orang lebih cenderung memilih menyebut Loloda sebagai Ngara Mabeno. M. Adnan Amal dalam Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara (1250-1950), menulis, Ngara Mabeno diartikan sebagai ‘tembok pintu gerbang’.

Mustafa Mansur, Dosen Sejarah Unkhair Ternate, yang juga saat ini menjabat sebagai Tuli Lamo atau Sekretaris Besar Kerajaan Loloda, mengatakan, Ngara Mabeno juga dapat dimaknai berdasarkan titik permulaan kerajaan. Dijelaskan, dalam Encyclopaedy van Nederland Indie 1918, menyebut Loloda atau Ngara Mabeno di masa lalu sebagai “Gerbang Maluku”. Penyebutan itu ditujukan untuk kerajaan independen yang berdiri pada awal abad ke-13.

Disebut “pintu” atau “gerbang” memang sangat tepat, sebab untuk masuk ke pesisir Loloda, kami harus melewati beberapa pulau serupa “gerbang” yang berderet sepanjang selat Loloda. Sementara itu, beberapa desa di sana, secara administratif, ada yang masuk di wilayah pemerintahan Kabupaten Halmahera Barat, ada juga yang masuk di Kabupaten Halmahera Utara.

Perahu bermesin di Loloda juga sering dipakai sebagai transportasi utama. Hal ini karena sebagian besar perkampungan di Loloda berada di pulau-pulau. Foto: Ipang Mahardika/Jalamalut

Perjalanan ke Loloda, bisa ditempuh melalui Jailolo, bisa juga melalui Ternate. Pagi itu, kami melalui Jailolo. Bertolak dari Jailolo, untuk sampai di dermaga Tongute Ternate, Kecamatan Ibu, Halmahera Barat, salah satu dermaga penyeberangan Ibu-Loloda, kami menggunakan angkutan umum. Tidak seperti di kota, angkutan umum di Halmahera menggunakan mobil bermerek dan terbilang mewah.

Biaya perjalanan ke Ibu Rp75.000. Waktu tempuh sekiranya satu jam lebih. Dermaga penyeberangan ke Loloda cukup kecil, hanya untuk beberapa speedboat saja yang bisa ditambatkan. Dermaga tersebut berada tidak jauh dari mulut sungai. Tampak perahu-perahu bermesin juga pulang-pergi Ibu-Loloda. Kami memilih naik perahu bermesin. Cukup beberapa orang saja. Sementara biaya perjalanan melalui laut dari Ibu ke Loloda Rp60.000.

Perahu itu perlahan keluar dari mulut sungai. Ombak Loloda memang terkenal cukup “ganas” pada musim-musim tertentu. Motoris tampak sigap dan berjaga-jaga. Sesekali memelankan mesin. Deru mesin itu mengecil saat arus besar menghantam badan perahu. “Di situ ada mantel, nanti samua pake (pakai), kalo (kalau) ombak pasti samua basah,” teriak motoris, dan pandangannya terus dilabuhkan ke sekitar perahu. Riak ombak yang memutih tampak bersikejar di tengah lautan.

Motoris mulai memelankan mesin saat akan berlabuh di Pelabuhan Kedi. Perjalanan laut itu sekiranya memakan waktu satu jam. Kami turun di Desa Soasio dan rencananya akan tinggal selama empat hari.

Sebagian besar desa di Loloda nyaris tidak dapat mengakses jaringan internet. Bahkan, untuk desa-desa pedalaman, belum dapat mengakses jaringan telepon. Di Soasio dan daerah sekitar memang banyak yang bekerja sebagai petani. Beberapa juga bekerja paruh waktu sebagai nelayan. Hasil-hasil kebun mereka akan dibawa ke Ternate melalui Pelabuhan Kedi. Sebagiannya lagi dibawa ke Ibu dan Jailolo.

Desa Soasio sendiri, menurut cerita warga, merupakan salah satu desa yang berasal dari pedalaman Loloda. Uhud Abdullah, warga Soasio kepada Jalamalut, berbagi cerita, bahwa permukiman di Soasio belum terlalu tua. Di daerah yang kami tinggal itu, diakuinya memang berasal dari pedalaman Loloda. “Soasio memang berasal dari desa di pedalaman, seperti Desa Bakun, Salu, dan beberapa desa lainnya,” katanya.

Desa Soasio tampak dari ketinggian. Foto: Rajif Duchlun/Jalamalut

Warga Soasio menggunakan bahasa Ternate. Tidak aneh memang, dalam riwayat pergolakan sejarah raja-raja di Maluku Utara, kerajaan Ternate memiliki pengaruh yang besar terhadap sejumlah kerajaan di Halmahera, salah satunya kerajaan Loloda.

Leonard Y. Andaya sekiranya pada 1993 menerbitkan buku The World Of Maluku, kemudian pada 2015 diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Dunia Maluku: Indonesia Timur Pada Zaman Modern Awal. Di dalam buku tersebut, Andaya juga menulis mengenai Loloda. Ditulis bahwa Loloda adalah sebuah kerajaan yang mengakui kekuasaan Ternate sebagai pusat. Ekspansi kekuasaan kesultanan Ternate itulah, bukan tidak mungkin turut memengaruhi bahasa maupun kebudayaan orang Loloda.

Meski begitu, posisi Desa Kedi yang sangat dekat dengan Desa Soasio, malah sebagian besar menggunakan bahasa Loloda. Mereka mengaku, bahasa Loloda juga berbeda dengan beberapa bahasa di Halmahera. Sementara itu, Desa Kahatola, salah satu perkampungan yang sempat kami kunjungi mayoritas juga menggunakan bahasa Ternate.

Kahatola, Kampung Wisata

Kami menggunakan perahu bermesin untuk sampai ke Kahatola. Posisinya memang terpisah dengan Desa Soasio dan Kedi, yang memang dikenal sebagai pusat ekonomi di Loloda bagian barat. Waktu tempuh sekiranya hanya 15 menit. Saat perahu kami akan berlabuh, kami menyaksikan pulau-pulau di sekitar sangat memesona, berbentuk lancip, menjulang ditutupi pepohonan yang rindang.

Perkampungan Kahatola, menurut cerita warga merupakan berasal dari Desa Soasio. Safri Puasa, salah satu warga Kahatola, menceritakan, bahwa pada 1982, terjadi eksodus oleh orang-orang Soasio ke pulau Kahatola. Mereka akhirnya menetap dan membangun rumah di sana. Kampung ini terbilang kecil dan beberapa rumah dibangun tepat di pesisir pantai, dan sebagiannya lagi dibuat di punggung bukit. “Torang (kami) semua di sini memang awalnya berasal dari Desa Soasio,” kata Safri.

Desa Kahatola, salah satu desa yang sedang gencar melakukan pengembangan destinasi wisata. Foto: Rajif Duchlun/Jalamalut

Setelah beberapa jam di Desa Kahatola, kami kemudian ke pulau-pulau sekitar. Sayangnya, kami belum beruntung kala sampai di Air Terjun Kahatola. Mereka di sana menyebutnya sebagai Air Terjun Buluwere atau Air Teu-Teu. Hanya sedikit sekali air yang mengalir. Motoris yang mengantar kami bilang, air deras hanya bisa dijumpai pada saat musim hujan.

Kepala Desa Kahatola, Dulman Ali, mengatakan, di atas bukit, tepatnya di sekitar hulu air, ada yang menebang pohon sagu untuk lahan berkebun, sehingga sangat memengaruhi aliran air di sekitar air terjun tersebut. “Kalau musim hujan bagus, pasti mengalir kuat, tapi ini juga pengaruh ada yang potong pohon sagu, ya rencana torang mau tanam pohon sagu ulang di sana,” ujarnya.

Setelah dari wisata air terjun, motoris mengarahkan perahunya ke pulau-pulau sekitar yang juga tak kalah indah, salah satunya Pulau Sosota. Pulau yang tertutupi ilalang dan rerumputan itu membuat perjalanan lelah kami sedikit terbayarkan. Pulau kecil, tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu panjang. Di sekitarnya juga dikelilingi pulau. Pemerintah desa Kahatola melalui dana desa sudah membangun sejumlah fasilitas wisata.

Bukit Sosota dan pulau-pulau di sekitarnya. Destinasi wisata ini dikelola oleh pemerintah desa Kahatola. Foto: Ipang Mahardika/Jalamalut

Tidak ada perkampungan di Pulau Sosota. Hanya terdengar suara riak ombak, juga burung-burung yang terbang dari pulau-pulau sekitar. Sesekali dari bukit terlihat perahu-perahu nelayan tampak lalu-lalang di lautan. Keindahan itu nyaris membuat kami lupa bahwa masih tersisa satu pulau lagi yang akan kami datangi hari itu, yakni Mariporoco. Pulau berbentuk lancip, menjulang tertutupi rerumputan.

Hanya saja, ombak “ganas” beberapa kali menghantam badan perahu. Motoris sontak memelankan mesin, memutar perahunya, mencari posisi aman di sekitar pesisir pulau. Keinginan untuk menikmati eksotisme Mariporoco harus ditunda. “Angin kuat, ombak ini akan bikin banyak basah,” teriak motoris, dan perahu kami perlahan kembali ke Pelabuhan Kedi, melewati tebing-tebing pulau yang berbatu, menyerupai ukiran manusia. (*)

 

Penulis: Rajif Duchlun (Kru Jalamalut)

Baca Lainnya