JELAJAH

Rabu, 14 November 2018 - 05:04

1 bulan yang lalu

logo

Mengulik Keunikan Si-“Klitoris-Ternate”

Daunnya bersirip ganjil. Pokok bunganya keluar dari ketiak daun, dengan panjang mahkota 3, 5 – 4 cm dan warna biru nila dengan komposisi putih atau kekuningan di bagian tengah. Ada juga bunga yang berwarna putih. Memiliki 2-3 daun pelindung yang melingkupi pokok bunga, berbentuk telur atau jorong, serta batangnya berbulu. Polongnya lebar, bergaris, gepeng, dan banyak biji. Sedangkan bentuk bijinya tak berlipat, atau berpusar.

Butterfly Pea adalah sebutan umum dalam bahasa Inggris, di samping nama Asian Pigeonwings, bluebellvine. Disebut Butterfly, karena sepintas dilihat mirip kupu-kupu. Di Indonesia namanya begitu majemuk.  Bunga Biru, Bunga Kelentit, dan Bunga Telang adalah nama yang populer di Sumatera. Di daerah Jawa menyebutnya Kembang Teleng, atau Menteleng. Bunga Talang, atau Bunga Temanraleng, dua di antara sekian sebutan di Sulawesi. Sementara di wilayah Maluku atau Maluku Utara, tumbuhan ini disebut Bisi, atau Saya Ma Gulele. Dan seterusnya. Dalam ulasan ini, digunakan nama Kembang Telangi sebagai istilah umum

Genus perdu merambat dan membelit ini awalnya tumbuh – sampai 700 meter di atas permukaan laut – di daerah yang beriklim tropis seperti di Asia Tenggara, India, dan sebagian daratan Cina, sebelum akhirnya dibudidaya di seluruh wilayah beriklim tropika. Karena karakternya merambat, acapkali dianggap sebagai tanaman liar. Nama saintifik populernya adalah Clitoria-Ternatea, sebuah istilah Latin atau di-Latin-kan. Terdiri dari kata Clitoria atau klitoris, bagian genital perempuan, dan Ternatea, merujuk sebuah pulau kecil di Indonsia Timur. Kira-kira kalau diartikan sebutannya menjadi “Si Klitoris dari Ternate”. Entah apa yang ada di kepala si pemberi nama saat pertama kali melihat bunga biru ini.

Siapakah figure di balik pemberian nama kembang telang tersebut? Sumber-sumber literatur yang dilacak memunculkan banyak nama. Namun yang pasti, bangsa Eropa, di samping kegiatan monopoli dagang di daerah koloni juga melakukan pencatatan berbagai jenis tumbuhan “eksotik” di negeri timur jauh, mengisi daftar temuan para ilmuwan Eropa yang kala itu berhaluan positivism. Salah satu di antaranya adalah clitoria-ternatea. Lantas, seperti apa keunikan tumbuhan tropika ini?

Ketika mengikuti kemah Jejaring Pangan Lokal (Jipang) di pantai Watu Kodok, Gunung Kidul-DIY 2 tahun lalu, varian minuman kembang telang menjadi salah satu sajian yang cukup berkesan, setidaknya bagi saya pribadi. Warna dominan biru pada minuman segera memancing selera ketika disajikan kepada para peserta kemah. Sebagai penyaji menu, mbak Ani dan mas Bintang meminta saya untuk terlebih dulu mencampurkannya dengan perasan jeruk nipis secukupnya. Hasilnya, warna indigo kembang telang itu bertransformasi menjadi ungu. Itulah kali pertama saya menikmati minuman berseduh bunga secara langsung. Hal yang semakin memikat saya adalah cerita di balik kembang telang ini. Saya banyak mendapat informasi yang berharga dari mas Bintang kala itu.

Mas Bintang dan mbak Ani sendiri merupakan pencetus OLI atau Ocean of Life Indonesia, sebuah pusat studi pendidikan lingkungan di kabupaten Gunung Kidul, tempat berlangsungnya kemah Jipang atau forum temu ide dari anak muda mengenai dunia pertanian Indonesia. Mereka adalah pasangan laki-bini. Pada keduanya saya memperkenalkan diri bahwa saya bukan berasal dari Jawa, lebih bermaksud meminta mereka menggunakan lingua franca nasional. “Saya dari timur, tepatnya dari Kayoa, Halmahera Selatan, Maluku Utara”. Tak dinyana, mbak Ani langsung menyambut saya sebagai saudara seasal “orang timur”. Pasalnya, mbak Ani pernah menghabiskan masa kecilnya di Jayapura, Papua sewaktu orang tuanya bertugas di sana. Obrolan kami semakin cair, terlebih ketika saya mengajukan ketertarikan untuk menggali cerita tentang menu yang mereka sajikan saat itu.

Mula-mula saya bertanya tentang cara penyajiannya. Untuk soal ini, mas Bintang sangat welcome membeberkan formula racikannya. Caranya cukup simple, hanya dengan menyiapkan air panas dan bahan dasar secukupnya yakni bunga telang itu sendiri. Warna biru diperoleh saat bunga telang terseduh air panas. Bagi penyuka warna biru, hasil pertama ini sudah bisa langsung dinikmati. Tambahan gula secukupnya menjadi pelengkap. Proses pengubahan warna minuman dari biru menjadi ungu inilah menjadi sesuatu yang unik. Formulanya seperti yang telah saya sebutkan di atas. Perasan jeruk nipis menjadi kata kuncinya. Sebagai tambahan selera, bisa dipadu-padankan dengan bahan rempah lain seperti sereh, cengkih dan lain sebagainya. Sebagai catatannya, menurut mas Bintang setiap orang bebas bereksperimen dan eksplorasi rasa lebih jauh. Namun begitu, ada hal yang mesti “diawasi” yakni memperhatikan bobot takaran dari bahan-bahan yang digunakan. Sebab jika kurang tepat bisa jadi akan merusak nilai manfaat (kadar gizi) serta citarasanya.

Dari obrolan dengan mas Bintang inilah, saya merasa terpantik untuk mengulik lebih dalam tentang keunikan jenis tanaman tropis yang satu ini, baik melalui sumber-sumber literatur online maupun offline. Rupa-rupanya, si kembang biru ini tengah naik daun. Selain menjadi produk minuman seperti teh, juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami makanan. Di Thailand, seperti dilansir beritagar.id tumbuhan yang mereka juluki blue chai ini diserap oleh industri kuliner. Beberapa kafe ternama di negeri Gajah Putih tersebut menciptakan varian-varian minuman yang unik dengan menggabungkan cita rasa latter, macchiato dan bunga telang. Selain Thailand, kembang telang juga cukup digemari masyarakat Eropa, terutama untuk produk teh. Mereka menjulukinya sebagai Magical Tea. Kafe Yumchaa di London bertestimoni bahwa magical tea sepanjang satu dekade terakhir ini paling laris. Tak genap sebulan biasanya sudah ludes.

Belakangan, usaha-usaha skala kecil dari sejumlah daerah di Indonesia mulai menjamur, merespon permintaan konsumen atas kembang telang. Varian kuliner seperti pudding, cake, dan minuman penyegar juga berkreasi dengan ekstrak bunga telang termasuk mengkombinasikannya dengan aneka bahan seperti bunga vida, biji selasih, rosella, dan seterusnya. Melalui budidaya dan sistem produksi yang diusahakan tersebut, nilai jual kembang telang tampaknya terderek naik. Anda bisa menemukan produk kembang telang dalam berbagai takaran dan varian harga di sejumlah toko online, seperti Bukalapak, Lazada, Tokopedia, Shopee, dan seterusnya. Tidak hanya dalam bentuk kering, atau basah, bibitnya pun kini mulai dipasarkan.

Sebagai Tanaman Obat Khas Nusantara

Zat-zat yang baik untuk kesehatan manusia, mulai dari fenol, alkaloid hingga antioksidan terkandung dalam kembang telang. Evening Standard, sebuah jurnal kesehatan internasional via Beritagar.id melansir, kembang telang memiliki khasiat di antaranya mencegah dan membantu memerangi obesitas serta kelainan yang berhubungan dengan metabolism tubuh, mencegah glikasi yang bisa menyebabkan penuaan dini, anti flamasi, mengatasi kelelahan, meningkatkan vitalitas, meringankan rasa sakit dan seterusnya. Tak heran jika saat ini, kembang telang menjadi sebuah produk herbal atau bahan kuliner populer khususnya bagi masyarakat urban, kelas menengah atas, atau para vegetarian yang gandrung dengan pangan organic.

Dalam kitab pengobatan tradisional Ayurveda di India yang telah berumur ratusan tahun, kembang telang tercatat sebagai bahan alami berkhasiat untuk penambah daya ingat (memory enhancer), anti-stress, anti kecemasan (anxiolytic), anti depresan, anti epilepsi (anticonvulsant) dan obat penenang (sedative agent). Tidak jauh berbeda dengan India, pengetahuan masyarakat di Nusantara juga sudah sejak lama memperlakukannya sebagai bahan obat tradisional dan pewarna alami. Namun demikian, beberapa pustaka yang mendata ihwal tanaman obat Indonesia yang terbit pada tahun 2000-an, kecuali literature-literatur yang terbit pada dekade-dekade sebelumnya, nihil dari pencatatan. Sebut saja misalnya dua judul buku yang diterbitkan oleh MedPress, yakni Kitab Tanaman Obat Nusantara, oleh Herlina Widyaningrum & Tim Solusi Alternatif (2002), dan Ensiklopedia Tanaman Obat Tradisional, oleh Titin Yuniarti (2008), serta buku terbitan Puspa Swara yang ditulis oleh dr. Setiawan Dalimartha berjudul Atlas Tumbuhan Obat Indonesia dalam tiga jilid, kembang telang tidak dimasukkan kedalam deretan tanaman obat khas Indonesia.

Informasi deskriptif tentang kembang telang sebagai bahan obat termasuk nilai dan tata cara pengolahannya tersaji pada buku-buku terbitan lama, di antaranya Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia, H.M. Hembing, jilid III, penerbit Pustaka Kartini, 1993; Tumbuhan Berguna Indonesia, K. Heyne, diterjemahkan oleh Badan Litbang Kehutanan, Cetakan I, 1987; Obat Asli Indonesia, Dr. Seno Sastromidjojo, oleh Dian Rakjat Cetakan I, 1967. Menurut H.M. Hembing dalam bukunya tersebut, sebenarnya struktur tumbuhan family polong-polongan (fabacecea) ini, dari akar, daun, bunga hingga biji secara farmatologis adalah obat. Akarnya mengandung laxative atau zat beracun namun bisa digunakan untuk obat pencahar, diuretic, perangsang muntah dan pembersih darah. Hal yang diperhatikan adalah dosis atau takaran bahan, sebab jika berlebih berefek samping menimbulkan sakit perut, kolik, menurunkan kesadaran disertai rasa gelisah dan kehilangan daya ingat. Unsur kimia pada daun yakni Kaemferol-3-glucoside, dan triterpenoid dimanfaatkan untuk mengobati tukak dan bisul. Cara mengolahnya, merujuk buku Obat Asli Indonesia adalah daun (kira-kira sebanyak 1/2 genggam) digiling halus bersama gula jawa secukupnya. Hasilnya berupa obat salep, mengolesi bagian tubuh yang sakit. Selain pada bisul, daun telang yang dicampur dengan adas pulosari dan bawang merah bisa mengobati batuk. Sementara itu, rendaman bunga telang yang menghasikan warna deep blue, mengobati radang selaput lendir mata.

Kegunaan butterfly pea lainnya adalah sebagai tanaman pakan dan penutup tanah (cover crop). Artikel I Wayan Suarna (2012) yang dipublikasi di laman http://peternakan.litbang.pertanian.go.id menjelaskan mengenai hal tersebut. Menurutnya, potensi kembang telang sebagai tanaman pakan sangat baik karena selain memiliki nilai nutrisi yang tinggi juga sangat palatabel bagi ternak. Persistensi telang sangat tinggi terhadap perubahan musim, kondisi lahan, dan sangat cocok berasosiasi dengan tanaman lainnya seperti rumput Gajah, rumput Raja, Andropogon pertusus, sorghum dan lain sebagainya. Juga mampu menutup tanah dengan baik pada umur 4 – 6 minggu setelah tanam. Dengan begitu kelembaban tanah akan terjaga, serta serasah yang berasal dari daun tanaman yang rontok dapat memperbaiki kesuburan tanah dan efektivitas mikrobia tanah.

Kembang telang merupakan satu dari sekian banyak tumbuhan berkhasiat khas Nusantara yang pernah diusulkan Dr. Seno Sastromidjojo untuk diolah menjadi produk obat herbal pada masa awal revolusi kemerdekaan. Dalam bukunya yang terbit pada 1948 dan dialihbahasakan pada 1967 tersebut, alumnus STOVIA ini mendokumentasikan sedikitnya 350 jenis tanaman obat asli Indonesia, termasuk tumbuhan endemik kepulauan Maluku, cengkih-pala. Sewaktu Jepang menduduki Indonesia pada 1942, terjadi kelangkaan persediaan obat-obat impor yang umumnya didatangkan dari Jepang, tak cukup memenuhi kebutuhan pemakaian dalam negeri. Atas kondisi tersebut, dokter lulusan Universitas Kedokteran Belanda 1930 ini, mengusulkan bahan-bahan tanaman asli Indonesia yang terbukti berkhasiat sudah waktunya dipertimbangkan sebagai pilihan utama, bukan sekedar “alternative” belaka.

Jejak Nama “Clitoria-Ternatea”

Sewaktu pertama kali mendengar nama saintifik kembang telang pada kegiatan Jipang tersebut, dalam obrolan saya dengan mas Bintang itu saya bertanya “apakah asal usulnya dari Ternate?”. “Secara sebaran, kembang telang merupakan tanaman tropis, hampir semua daerah di Indonesia bisa dijumpai. Hanya saja, dari segi keilmuan, untuk pertama kalinya tanaman ini diketahui keberadaanya di Ternate”, jelas mas Bintang. Saya kembali bertanya tentang bagaimana muasal dan siapakah ilmuwan yang memberi nama “Clitoria Ternatea” tersebut. Mas Bintang menyebut nama Alfred Russell Wallace. Mas Bintang agaknya berspekulasi. Ahli botani dan geografi asal Inggris itu memang diketahui cukup lama menghabiskan waktu di Ternate, selama kurang lebih 2 tahun, dan sempat dihajar Malaria. Namun ketika mengecek karya monumentalnya, The Malay Archipelago tidak ada catatan mengenai perjumpaan Wallace dengan si klitoria itu.

Banyak artikel yang tersebar di media online juga mengulas muasal generic kembang telang dan si “penemu”. Nama-nama yang muncul adalah Rumphius (1627-1702), Carl Linnaeus (1707-1778), dan Bryene (1678). Rumphius, atau bernama asli Georg Eberhard Rumpf (nama Jermannya), adalah seorang blasteran Jerman-Belanda, yang semula bekerja pada dinas militer Belanda untuk Perserikatan Dagang Hindia Timur (VOC), menaruh minat yang sangat besar terhadap ilmu botani dan zoology, khususnya di Ambon dan kepulauan Maluku. Salah satu karya monumental Rumphius yaitu Hebarium Amboinense, telah menyumbangkan informasi berharga tentang jagad flora-fauna khas tropis kepada masyarakat luas di Eropa, terutama para ilmuwan. Hebarium Amboinense, berisi deskripsi tumbuhan, morfologi dan juga kegunaannya untuk obat-obatan, baik itu tumbuhan yang hidup di darat maupun yang di laut di kepulauan Maluku secara umum. Rumphius menamai genus ini “Flos Clitroridis”.

Pada masa itu, di Eropa lahir sejumlah gugus perhimpunan para ilmuwan, dari ahli botani, filsafat, geografi, dan seterusnya. Hasrat untuk mengenal dunia timur yang “aneh” berpinak dengan imajinasi masyarakat Eropa kala itu. Filsafat positivisme juga berkelindan dari imajinasi eksotisme ini. Linaean Society adalah satu satunya, merupakan perkumpulan ilmuwan yang terkemuka di dunia untuk studi taksonomi flora-fauna. Didirikan di London pada 1788 dengan mengambil nama seorang ilmuwan Swedia, Carolus Linnaeus (1707-1778). Pendiri dan presiden pertamanya adalah Sir James Edward Smith (1759-1828). Pada periode berikutnya, lahir Royal Geographical Society, didirikan pada 1830 di London. Para anggota pertamanya adalah Sir John Barrow, Sir John Franklin dan Francis Beaufort. Anggota perkumpulan terkemuka termasuk Charles Darwin dan David Irvingstone. Alfred Russel Wallace berada di gugus ini.

Sistem penamaan Rumphius dalam bukunya tersebut mendapat banyak kritikan. Carl Lennaeus, dengan karyanya Species plantarum (1753) yang kemudian dijadikan sebagai titik referensi awal dalam sistem penamaan atau nomenklatur tumbuhan yang kita kenal sekarang ini, banyak merujuk data-data Hebarium Amboinense karya Rumphius. Dari studi taksonomi Lennaeus inilah, kembang telang diregistrasi dengan nama Clitoria-Ternatea, L, sebuah tumbuhan tropis yang seolah-olah ditemukan, diilmiahkan oleh orang Eropa. Lambang “L” merujuk pada Lennaeus. Semboyan Linnaeus yang unik adalah “God created, Linnaeus organized”.

Ian Burnet, seorang pemerhati sejarah kepulauan Maluku asal Australia memberi keterangan berbeda. Nama unik tersebut justru pertama kali diberikan oleh Breyne pada 1678, seorang ahli Botani yang juga bekerja untuk VOC, sewaktu mengunjungi pulau Ternate dan menjumpai tumbuhan tersebut. Penulis buku Spice Islands (2011) ini, bahkan menyebut jauh sebelum Breyne dan Rumphius, orang Portugis sebagai bangsa Eropa pertama yang mencapai kepulauan Maluku, menamainya dengan “fula criqua”, atau “flower of creation”. Sayangnya Burnet tak cukup detail menjelaskan riwayat saintifikasi ala Breyne atas tumbuhan tersebut, selain hanya menambahkan keterangan spekulatif bahwa dari Ternate inilah, bibit kembang telang lalu dikultivasi Portugis di seluruh daratan tropika yang pernah dijajahnya di Amerika Selatan.

Obrolan Penutup

“Kalau di Ternate atau Maluku Utara sendiri, kembang telang dimanfaatkan apa saja?”, tanya mas Bintang. “Saya tidak tahu, perkembangan pertanian jenis ini seperti apa di sana. Apakah petani di sana peka dengan respon pasar atau tidak, itu juga minim informasi”. Jawab saya. “Pemerintah daerah sendiri bagaimana?”. Tanya mas Bintang lagi. “Ya, biasa-lah, lagu klasik…tak selalu tergerak. Jangankan kembang genital perempuan itu, kopra dan sagu saja seperti tak kuasa diurusnya. Tapi kalau sudah bicara sejarah kebesaran Maluku, itu tak ada habis-habisnya. Seolah-olah negeri kami itulah yang paling masyhur dan mulia. Padahal kekayaan alamnya dijarah sepanjang sejarah sampai saat ini”, Jawab saya sotoy, memancing gelak tawa.

Penulis:

ARIFIN A GAFAR

Penggiat Litera Pesisir, sebuah rumah baca di desa Guruapin, Kec. Kayoa, Halmahera Selatan, Maluku Utara

Baca Lainnya