JELAJAH

Minggu, 17 Februari 2019 - 19:18

5 bulan yang lalu

logo

Mengintip Jejak Pemimpin di Kaki Kie Matubu

“Yunus mengaku, dulu ia di pilih oleh 5 marga besar untuk tinggal di Fola sowohi. Setelah pamannya Ibrahim Nahangiri meninggal, ia telah dilirik diam-diam oleh beberapa tokoh adat sebagai pengemban tanggung jawab tersebut, menurutnya tanda atau ibarat itu sudah ia rasakan jauh sebelum putusan itu terjadi”

Letak Desa/kelurahan Gurabunga berada di atas Gunung Kie Matubu. Untuk menempuh jarak tersebut tentu harus mendaki dengan menggunakan kendaraan (beroda dua atau empat) dengan jarak sekitar 4 KM dari kelurahan Gamtufkange, Soasio Tidore.

Di sepanjang pendakian, kita juga akan melewati 4 perkampungan yang jaraknya saling berhimpitan dan rata-rata memiliki model rumah hampir sama. Semakin ke atas semakin sejuk dan dingin. Jejeran pohon-pohon alpukat pun tumbuh banyak di tepi jalan menanjak itu.

Dulu, nama Gurabunga adalah ‘Gurua Banga’, yang bermakna ‘Hutan berdanau’. Tetapi pada tahun 1982, bupati Halmahera Tengah (Status sebelum Kota Tidore Kepulauan dimekarkan) diubah menjadi Gurabunga. Nama tersebut kini semakin melekat dengan warga dan disesuaikan dengan tatanan desa yang penuh dengan bunga-bunga.

Gurabunga adalah salah satu tempat yang sangat berpengaruh terhadap kesultanan Tidore. Di dalamnya terdiri 5 marga besar, diantaranya Sowohi, Mahifa, Tosofo Malamo, Tosofo Makene, dan Toduho yang masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab atas pemerintahan kesultanan Tidore.

Saya menemui Yunus Hatari (55 tahun) saat itu, seorang penghuni rumah tua di Gurabunga, rumah tua atau biasa dikenal dengan nama Fola Sowohi itu sudah ada sejak masa kesultanan Tidore berkembang. Penghuninya adalah salah satu dari turunan 5 marga tersebut yaitu Sowohi, sehingga nama rumah atau dalam bahasa Tidore disebut sebagai Fola menjadi istilah dari nama tersebut yakni Fola Sowohi.

Rumah berdinding bambu acak dan beratap rumbia ini dihuni oleh Yunus Hatari bersama istri dan 5 orang anaknya baru sekitar setahun lebih. Sehari-hari Yunus bekerja di kebun, tetapi kebanyakan ia hanya tinggal di rumah menjamu para tamu yang berkujunjung ke rumah. Hampir setiap harinya para tamu selalu bertandang ke Gurabunga untuk melihat kampung ini jauh lebih dekat.

Sebagai penghuni Fola Sowohi Yunus punya tanggung jawab besar dalam menanggulangi segala permasalahan yang terjadi di kelurahan tersebut, ia katakan bahwa hanya mereka, turunan bermarga Sowohi yang bisa tinggal di rumah tersebut.

Fola Sowohi sudah mengalami beberapa kali perpindahan tempat karena mengalami kerusakan fisik. Ini letak yang terakhir dan sudah sangat lama berada di tengah-tengah perkampungan Gurabunga sendiri, sebelumnya rumah tersebut berada di kampung Fola Rora, kampung ke empat yang berada sebelum menuju Gurabunga.

Setiap orang yang bermarga Sowohi bisa menempati rumah tersebut, tetapi harus memiliki seleksi alam tentunya, Yunus membuka percakapan sembari menghembuskan asap rokoknya, ia menambahkan bahwa seleksi alam yang dimaksudkan berhubungan dengan karakter dan moral seorang yang memiliki pendirian yang baik dan bijak, tidak sombong dan tamak, salah satu dedikasi yang patut dijadikan syarat sebagai penghuni di dalamnya.

Yunus mengaku, dulu ia di pilih oleh 5 marga besar untuk tinggal di Fola sowohi. Setelah pamannya Ibrahim Nahangiri meninggal, ia telah dilirik diam-diam oleh beberapa tokoh adat sebagai pengemban tanggung jawab tersebut, menurutnya tanda atau ibarat itu sudah ia rasakan jauh sebelum putusan itu terjadi.

Secara struktur pemerintahan kesultanan Tidore, Gurabunga memiliki andil yang sangat besar. Kekuasaannya hampir di atas Kesultanan, ibaratnya kedudukan itu seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Presiden. Hal itu demikian karena jabatan Sultan Tidore akan dipilih berdasarkan pilihan 5 marga tersebut dan 4 klan lainnya atas putusan bersama di Fola Sowohi.

Pada tahun 1999 pernah terjadi kerusuhan yang berdampak pada masalah Suku Ras dan Agama (SARA) di Maluku. Kerusuhan itu pun berimbas semua kepulauan di Maluku Utara, termasuk pulau Tidore. Tidore yang dikenal dengan kota yang memiliki relijiusitas yang tinggi ini memang tak sampai memunculkan pertikaian hingga menimbulkan korban yang banyak. Tetapi para pemuda pada masa itu telah terlanjur diberdayakan menjadi pasukan jihad yang dianggap sebagai memiliki status sebagai tentara yang berperang membela Islam kala itu.

Mereka beranggapan bahwa hal ini perlu di lawan karena menyangkut dengan harga diri agama dan suku. Kerusuhan 1999-2000 hanyalah segelintir oknum yang memiliki kepentingan kekuasaan atas daerah dengan berbagai asumsi serta usaha dalam mempolitisir keadaan menjadi terpecah belah, begitu menurut Yunus.

Di masa itu, orang yang bertanggung jawab memegang kendali atas kesultanan Tidore adalah Husain A. Mahifa. Husain adalah seorang tetua yang dihormati dan disegani di Tidore. Ia juga pernah memiliki tanggung jawab sebagai Sowohi, selain pernah menjadi lurah pertama sejak desa tersebut berubah status dari Desa menjadi kelurahan oleh pemerintah daerah setempat.

Husain juga memiliki peranan yang kuat terhadap persoalan-persoalan yang berhubungan dengan pemerintahan dan sosial masyarakat di lingkungan kesultanan maupun masyarakat sekitar, bahkan di 4 kerajaan Moloku Kie Raha pun ia memiliki andil yang sangat besar.

Hubungan Husain dan Yunus masih ada ikatan keluarga yang dekat, Ia tidak hanya sebagai paman tetapi lebih seperti orang tua saya sendiri ungkap Yunus sambil menyeruput teh buatan istrinya yang rasanya sangat khas itu. Yunus mengakui bahwa segala sikap dan tanggung jawab yang diemban itu adalah dedikasi terbesar yang ia dapatkan dari Husain A. Mahifa.

Husain mengakhiri masa jabatannya sebagai Lurah pada tahun 2002. Meskipun begitu, ia tetap menjadi sosok yang disegani oleh warganya. Ia menikah dengan seorang perempuan dari asal desa yang sama, perempuan itu bernama Aisya Mulya. Dari pernikahan itulah keduanya dikaruniai 7 orang anak. Salah seorang anaknya yang keempat mengemban tanggung jawab yang sama seperti ia emban dulu yakni sebagai Lurah di kelurahan Gurabunga di tahun 2006.

Sosok Husain A. Mahifa dikenal luas oleh masyarakat Tidore selain sebagai seseorang yang baik, jujur, bijaksana dan teguh pendirian ia juga dikenal sangat keras di dalam memutuskan suatu perkara. Selalu memberikan nasehat atas kebenaran-kebenaran para leluhur, dan pengemban yang memiliki kekuatan supranatural yang tinggi. Pernah suatu waktu Ia didatangi seorang pemuda dan memintanya untuk memberikan air sebagai penawar yang diyakini agar menjadi soerang pemberani dan bisa membunuh pasukan merah (Istilah di masa krisis SARA 1999 yang dikonotasikan kepada mereka beragama Kristen). Bukannya menerima, Husain justru menolak dan meminta pemuda itu pulang sembari memberikan nasehat bahwa agama yang kita yakini tidak menyuruh kita untuk membunuh, apalagi membunuh untuk agama lain (Kristen), Tuhan menciptakan manusia untuk kita saling menghargai dan menghormati. Perlawanan hanya bisa di lawan dengan perlawanan pula, dan Islam sangat menjunjung tinggi solidaritas dan demokrasi, bukan sebagai pembunuh.

Kini sosok yang disegani itu meninggalkan kesan yang banyak oleh orang-orang yang merasakan kehilangan. Husain A. Mahifa telah wafat 13 Juni 2007 pukul 11 siang di rumahnya. Ia diketahui menderita penyakit ginjal yang sudah lama ia diderita. “Tetapi perjuangan kesultanan Tidore tetap terus dijunjung tinggi demi adat dan aturan Moloku Kie Raha”, imbuh Yunus.

Disela-sela cerita kenangan itu, saya mulai mengamati setiap sudut-sudut Fola Sowohi. Rumah unik itu tidak memiliki depan seperti rumah kebanyakan, kami duduk di ruang tengah yang di antaranya ruang tamu dan dapur. Ruang itu dekat dengan jendela yang terlihat jauh dari pemandangan kandang ayam dan bak penampung air hujan yang dindingnya terlingkar dari bambu-bambu air.

Waktu menjelang sore, udara semakin dingin, tiba-tiba suasana meredup tak bercahaya. Ternyata kabut embun menyelimuti hingga seisi rumah, seperti malam. Saya masih disana, menyeruput teh nikmat itu yang tak lagi hangat sembari menunggu kabut embun itu pelan-pelan hilang, dan cahaya pun mulai masuk disela-sela jendela. Dalam beberapa menit saya berpamitan, melaju turun dari desa itu bersama sepeda motor.

* Tulisan ini ditulis berdasarkan data tahun 2006 melalui interview penulis dengan Yunus Hatari yang saat itu mendiami Fola Sowohi, dan disunting kembali pada tahun Januari 2019. Data yang tercantum didalam tulisan tersebut tidak dirubah dan tetap berdasarkan tahun yang sama (2006).

Penulis : Fadriah Syuaib (Program Magister di Indonesia Institute of the Arts Surakarta)

Editor : Fatir M.Natsir (Kru jalamalut)

Sumber foto : lorongkatarajif.wordpress.com/2017/02/28/visit-tidore-island..

Baca Lainnya