JEJAK

Kamis, 7 Maret 2019 - 18:45

2 minggu yang lalu

logo

Amal

Mengenal Amal, Musisi Muda Asal Tidore

Bagi sebagian pecinta musik Hip Hop di Maluku Utara, tentu sering mendengar karya musisi muda asal Tidore ini. Amal Hasanudin, namanya. Genre musik yang pertama kali meledak di Amerika Serikat pada 1970an itu, dibawakan Amal dengan gaya yang khas, seperti lirik-liriknya yang kerap puitis juga kritis.

Amal, kepada jalamalut, Rabu, 7 Maret 2019, bercerita, pertama kali mulai mengenal musik sejak masih di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia kerap mendengar lagu-lagu dari Too Phat, musisi dari Malaysia.

Setelah itu, saat masuk sekolah menengah atas, ia mengaku mulai terinspirasi dari kakaknya, Muhammad Abduh, atau dikenal dengan Deddy Doyado, yang juga menggandrungi dunia musik. Melalui laptop milik kakanya, ia belajar sebuah aplikasi musik. “Awalnya terinspirasi dari kaka, dia dulu sering buat lagu juga, saat dia balik dari Makassar ke Tidore,” kisahnya.

Amal mengaku mulai membuat lagu sekitar 2011. Ketika ia masih di bangku kelas tiga sekolah menengah atas. Sejak itu, karya-karyanya terus lahir. Hingga masuk 2019, di usia 24 tahunnya, sudah sekitar 100 lagu yang ia buat. “Di Youtube itu hanya beberapa lagu pilihan dan layak saja untuk dipublikasi,” ujar Amal.

Orang muda kelahiran Dowora, Tidore ini, memang terkenal dari lagu-lagu Hip Hop yang ia unggah di Youtube dengan nama D’Facto Rap. Beberapa karyanya seperti Republik Cinta, Harapan Petani Kopra, dan Hijrah Rasa, sudah berkisar 30an ribu hingga 68 ribu lebih penonton.

Lagu-lagu itu, ia produksi sendiri. Amal bilang, beberapa instrumen lagunya terinspirasi dari sejumlah instrumen di internet yang disediakan secara gratis. “Instrumen ini kalau dalam dunia Hip Hop namanya Free Beat,” katanya.

Amal mengaku memilih genre musik ini karena ia bisa punya lebih banyak bagian untuk menuangkan sajak-sajaknya. Beberapa karyanya memang sangat kental sastra. Ia memang senang dengan sastra. Mengenai ini, Amal terinspirasi dari sosok budayawan Maluku Utara, Sofyan Daud, penulis buku Antologi Jejak Arus: 99 Puisi Pilihan.

Alumni Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara Indonesia (STTNI) Makassar ini berharap, kepada rekan-rekan musisi atau seniman, dalam berkarya bisa membantu mengenalkan daerah, seperti sejarah dan budayanya. Sebagian karyanya memang kental dengan lirik-lirik yang mengenalkan kearifan orang Maluku Utara.

Menurutnya, sebagian orang berkarya hanya ingin agar cepat terkenal, sehingga seni baginya telah kehilangan jati diri. Amal tidak ingin kehadiran seni hanya sekadar menghibur, melainkan dapat menyampaikan makna dari karya tersebut. “Alangkah baiknya, kalau seni itu dua hasil yang ditemui, yaitu terhibur, setelah terhibur barulah berpikir tentang makna,” tutupnya.

Penulis: Rajif Duchlun

Baca Lainnya