PERSPEKTIF

Sabtu, 24 November 2018 - 06:33

3 minggu yang lalu

logo

Menebar Virus Ecoliteracy

“Sebagian dari kita mungkin jarang, bahkan tidak sama-sekali berkutat dengan istilah “ecoliterasy,” tapi mungkin sebagian yang terlibat dalam diskursus akademik istilah tersebut sudah tentu mengendap dalam nalar-pikir mereka, bahkan secara spekulatif pembaca dapat menujumkan apa itu “ecoliterasy” yang identik dengan kata “literacy.”

Secara etimologi, “Ecoliteracy” berasal dari dua suku kata, Oikos dari bahasa Yunani artinya rumah atau alam semesta dan Lteracy dari bahasa Inggris yang artinya melek huruf. Sesuai dengan kata dasarnya Literacy, berarti menggambarkan individual yang mampu membaca dan menulis. Atau dalam pergertian operasionalnya di mana orang sudah memahami segala sesuatu.

Keraf (2014), memaknainya lebih dalam, ia melihat taraf pentingnya “Ecoliteracy” terletak pada kesadaran terhadap lingkungan hidup. Orang yang telah mencapai titik ini adalah orang yang menyadari petingnya merawat bumi, ekosistem, alam sebagai tempat tinggal organisme (selain manusia).

Selaras dengan makna Ecoliteracy tentu sudah di terangkan panjang lebar oleh Soekarno dalam pidato 1 juni 1945 yang dianggap ‘fragmen yang hilang’ sebab jarang di ketahui oleh publik. Pertistiwa tersebut di rekam oleh Mastono dalam Jurnal IndoPROGRESS, terbit pada 15 Juni 2017. Dengan judul Pancasila dan Alam : Kembali Ke Pidato 1 Juni.

Sekaligus menanggapi kritikan Muhammad Unies Ananda Raja, karena Pancasila melepaskan tanggung jawab untuk merawat alam, “Apakah Pancasila punya jawaban atas segala permasalahan saat ini ?. apakah Pancasila, seperti yang diucapkan banyak orang adalah terbaik ?. Di sini saya harus menyatakan : tidak. Menurut saya, ada satu hal mendasar  yang terlewat dari Pancasila. Hal tersebut ialah kesadaran akan tanggung jawab merawat alam.  Jika kita amati, kelima sila dalam Pancasila tak ada satu pun yang menyebutkan alam, bahkan satu kata pun”.

Mastono menyanggah kritikan Bung Unies tersebut dengan lugas Mastono menyayangkan sikap Bung Unies yang terlalu gegabah menarik kesimpulan tanpa jelih dalam memahami sejarah Pancasila, argumentasi yang disodorkan oleh Mastono bertumpuk pada Pidato 1 Juni Soekarno dalam Soekarno.2008.

Pancasila Dasar Negara :Kursus Presiden Soekarno tentang Pancasila. Yogyakarta:PSP UGM. Hal 12-13 menjelaskan “kemarin kalau tidak salah saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo atau tuan Moenandar, mengatakan : Persatuan antara orang dan tempatnya, tuan-tuan sekalian persatuan antara manusia dengan tempatnya.

Orang dan tempatnya tidak bisa dipisahkan rakyat dan bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan  “Germeinschaft”nya dan perasaan orangnya, I ame et le desir” mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu? Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu satu kesatuan”.

Saya melihat perdebatan tersebut tidak semata-mata hanya bermain pada tataran argumentasi – metafor – belaka tapi, ada jejak filosofis. Jika ditelisik lebih dalam term “manusia dan tempat” di atas merupakan wujud dari “ecoliterasy” yang sudah ditanam sejak negara ini didirikan. Selanjutnya fakta yang tidak bisa ditolak hari ini dari diskursus ekonomi-politik yang membentuk kebiadaban yang kita sebut “pasar bebas.”

Indikasinya, dapat membuka ruang bagi kapitalisme global yang ikut meramainkan percaturan industri di Indonesia dan merembes ke Maluku Utara (Malut). Hadirnya kapitalisme yang mendominasi berbagai bidang khususnya di sektor Pertambangan dan Perkebunan (kelapa sawit) tumbuh subur di Malut.

Dengan semangat Antroposentris, melihat alam tidak memiliki nilai intrinsik, malah menjadikan alam sebagai gudang prostitusi ekonomis. Inilah yang melahirkan komoditas eksploitasi dan nafsu kekuasaan. Pararel dengan semangat Atroposentris tersebut, walhasil melahirkan berbagai persoalan lingkungan (de-ecoliteracy) yang menganga di depan mata kita, menghiasi media elektronik, cetak dan sosial-media.

Fenomena ecoliteracy di Gane

Salah satu fenomena de-ecoliteracy terdapat di Selatan Halmahera, kondisi tersebut muncul tanpa perhatian publik bahkan luput, sebagaimana yang dirilis oleh Mongabay Malut, hasil reportase mereka yang cukup kontras dialami langsung oleh masyarakat Giman, nama lain dari Gane. Reportase yang dibagi dalam tiga sesi tersebut memuat judul Fokus Liputan: Ironi Sawit di Negeri Giman (Bagian 1,2, dan 3) di akhir bulan Maret tersebut, cukup prihatin terhadap saudara-saudara di Gane.

Bagaimana tidak, kehadiran korporasi yang bergerak dalam ekspor kayu dan kelapa sawit tersebut membuat kondisi sosial masyarakat dalam keadaan mengkhawatrikan . Hal ini dibuktikan dengan kondisi anak sungai yang rusak karena tertutup urukan tanah perusahan kelapa sawit. Peristiwa ini diperparah dengan sikap birokrasi terkait dengan dalil ketiadaan anggaran memaksa mereka untuk berjalan di tempat.

Bukan hanya di Hal-Sel, di kawasan Halmahera Timur (Haltim) juga mengalami problem serupa. IndoPROGRESS misalnya,  merilis curahatan Ismunandar, putra asli Haltim yang dimuat pada 25 November 2013. Ia menceritakan dengan nada ringkih. Di mana terjadi de-ecoliterasy di daerahnya oleh salah satu perusahan terbesar Indonesia setelah PT. Freeport. Hampir seluruh korporasi yang mau menamcapkan taringnya salalu memakai jurus “janji/iming-iming” dengan menjadikan budak dengan upah yang menggiurkan, malah justru sebaliknya janji untuk pekerja lokal hanya modus belaka. Mirisnya yang mendapat ruang adalah Tenaga Kerja Asing (TKA). Belum lagi kondisi lingkungan mereka yang terkena dampak limbah.

Para Elite baik Kota maupun Provinsi telah disongkong dengan nilai ekonomis yang begitu menghanyutkan sampai-sampai mereka lupa akan ruang hidup masyarakat, maka tak heran jika sikap apatis selalu terpelihara adalah bentuk vulgar dari kebiadaban. Masih ingat 27 IUP? Belum lagi kondisi di daerah lainnya yang belum terekspos/luput dari media atau kita hari ini?

Cukup mengerikan apabila hal ini terus terjadi apalagi dalam kurun waktu yang tidak diketahui oleh kita. Bagaimana dengan nasib anak-cucu yang hidup dan mencari penghidupan lewat sumber daya alam? Akan tetapi selalu saja ada harapan dalam semangat hidup bagi korban de-ecoliteracy tersebut.

Sudah sepatutnya kita mengembalikan paradigma Biosentris sebagai dasar hidup yang menggantikan paradigma Antroposentris yang sudah mengakar dan menggerogoti pemikiran masyarakat Maluku-Utara seperti memberi ruang pasar hewan endemik. Inilah problem yang masih dirawat oleh sebagian kita. Upaya melestarikan alam sebagai wujud sesama organisme (selain manusia) tertuang dalam paradigma Biosentris yang melihat alam memiliki nilai intrinsik, yang harus dijaga dan dilestarikan (Keraf, 2014).

Gerakan menebar virus ecoliterasy sebagai upaya menjaga alam dan melestarikan pada setiap generasi dalam keadaan utuh menjadi suatu keharusan. Semangat ini perlu digaungkan dalam setiap elemen masyarakat dan insitusi terkait, upaya menjaga masa depan serta merawat keanekaragaman hayati yang dimiliki Malut sebelum dibabat habis oleh korporasi. Salam “ecoliteracy(*)

 

 

 

 

 

 

 

Firman M.Arifin – (Pegiat Literasi Nukila)

Baca Lainnya