Uncategorized WARTA

Selasa, 20 November 2018 - 16:53

4 minggu yang lalu

logo

Menagih Harga dengan Air Mata

Ia terlihat sibuk. Terus mondar-mandir sambil berkomunikasi dengan anggotanya. Sesekali, di hadapan massa aksi, lalu kembali ke barisan anggotanya. “Aspirasi kalian sudah kami dengar. Jadi, kami minta segera bubarkan diri dengan tenang,” imbaunya lewat pengeras suara.

Imbauan Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda itu, dibalas sorak-sorak ribuan mahasiswa di jalan utama, depan gerbang kampus I Universitas Khairun, Jalan Batu Angus, Kelurahan Akehuda, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Senin 19 November 2018.

Aksi ini atas tuntutan jatuhnya harga kopra. Seperti di Kecamatan Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, harga pasaran berkisar Rp2.300 perkilogram. Sedangkan di Kabupaten Halmahera Utara, seharga Rp3.000 hingga Rp4.000 perkilogram.

“Naikkan harga kopra, naikkan harga kopra,” teriak massa aksi yang tergabung dalam koalisi perjuangan rakyat (Kopra) Maluku Utara. Mereka terdiri dari beberapa elemen gerakan mahasiswa dari Universitas Khairun, Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Universitas Muhammadiyah dan STIKIP Kieraha.

Aksi Tuntutan naikkan harga kopra oleh ribuan mahasiswa di jalan utama, depan gerbang kampus II Universitas Khairun, Jalan Batu Angus, Kelurahan Akehuda, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Senin (19/11/2018) sejak pagi.

Dalam pantauan, semua gerakan masih dalam pengawasan polisi. Koordinator lapangan juga kerap diminta mengendalikan massa. Namun menjelang sore, gerakan kian tak terkendalikan. Mereka berlahan maju menuju bandara. Saat itu, perempuan ditempatkan di barisan depan.

Para wartawan nampak berada di tengah aksi kenaikan harga kopra di Jalan Batu Angus, Kelurahan Akehuda, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Senin (19/11/2018) sejak pagi.

Aksi saling dorong pun tak terelakkan. Upaya itu mendapat perlawanan sengit dari polisi. Kericuhan pun tak terhindarkan, ketika bongkahan batu seukuran kepalan tangan melayang di atas kepala. Polisi akhirnya melepaskan tembakan gas air mata ke arah massa. Beberapa perempuan pun pingsan.

Aksi kejar-kejaran dari polisi, terpantau merembet ke pemukiman warga di Akehuda. Bahkan beberapa mahasiswa yang kedapatan bersembunyi di rumah warga, ditarik keluar.

“Jangan pukul, jangan pukul,” pekik beberapa anggota polisi saat rekannya mengekang leher peserta aksi.

Sementara, tembakan gas air mata diprotes warga Akehuda. Bahkan salah seorang perempuan paruh baya tampak syok. Cucunya yang baru berusia lima hari, disebut sulit bernapas.

“Kami kaget pak. Cucu saya sulit bernapas. Ini bagaimana pak,” teriak si wanita itu, saat dihampiri Kapolres Azhari Juanda.

“Kami pahami dengan tuntutan mahasiswa. Haknya [unjuk rasa] sudah kita beri, tapi mereka abai dengan kewajibannya. Kami tidak mau ada tindakan represif. Ini sangat membahayakan masyarakat di sini. Kami juga dilempar batu. Kepala saya hampir kena [batu] tadi,” ujar Azhari setelah situasi mulai kondusif.

Tepat di depan Kantor Dinas Kesehatan Kota Ternate, Jalan Batu Angus, Kelurahan Akehuda, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Senin (19/11/2018). Pihak kepolisian dan massa aksi saling bersepakat untuk menghentikan kericuhan yang sempat terjadi kurang lebih dua jam saat aksi tuntutan naikkan harga kopra.

Terkait protes warga terhadap sikap polisi, dikatakan Azhari, pihaknya sudah menangani sesuai SOP [Standar Operasional Prosedur]. “Kalau soal gas air mata itu karena arah angin,” sebut mantan Kapolres Kota Tidore Kepulauan itu.

Dalam pengamanan, Polres Ternate menerjunkan 60 personel. Sedangkan Polda Maluku Utara dan Satuan Brimob mengerahkan satu kompi. Hasilnya, beberapa mahasiswa diamankan. “Sementara kita interogasi,” jelas Azhari.

Penulis:

Nurkholis Lamaau

(Kru Jalamalut dan Redaktur kabar.news)

 

 

 

 

 

Baca Lainnya