PERSPEKTIF

Rabu, 15 Agustus 2018 - 12:53

4 bulan yang lalu

logo

Memahami Politik “Muka Dua” dalam Our Brand Is Crisis

Our Brand Is Crisis adalah sebuah film bergenre drama komedi yang diproduksi tahun 2015.  Dibuat berdasarkan kisah nyata Pemilihan Umum (Pemilu) di Amerika Selatan pada tahun 2002 dalam versi dokumenter dan dirilis 2005 dengan judul yang sama. Melihat Sandra Bullock menjadi pemeran utama film ini, saya menduga, cerita dan karakter tokoh yang akan dimainkan Sandra itu pasti akan menarik.

Sebagai penonton, menurut saya ada dua hal yang bisa dinikmati atau diambil pelajarannya dari film ini.

Pertama, film yang disutradarai oleh David Gordon Green ini berhasil membumbui aroma komedi di dalam alur ceritanya yang mengusung tema tentang politik sehingga kesan “serius” sebagai gen bawaan politik menjadi sebuah tayangan yang ringan dan menyenangkan. Hampir dua jam menyaksikan akting dan alur ceritanya memberi kesan bahwa film politik tidak selalu menjadi film yang “berat”. Namun demikian, untuk menangkap makna (pesan) implisit secara utuh dari film ini, kita juga perlu melihat atau memahami konteks politik praktis itu sendiri, terutama soal kampanye politik. Dalam arti ini, bagaimana peran para aktor memproduksi iklan politik di media massa, dan bagaimana pula simbol-simbol tertentu yang luput dari perhatian justru menjadi sebuah pesan simbolik yang cukup menentukan dihadirkan dengan sangat baik dalam film ini. Dress code atau gaya berpakaian, gesture, intonasi suara, konten iklan dan seterusnya, merupakan simbol-simbol yang dimodifikasi dalam strategi politik. Asumsinya, sebagaimana dalam ilmu komunikasi politik yang diutarakan Trent and Friedenberg (1983), “Political election campaigns are campaigns of communication and that the core of each campaign is communication”.

Sebagai gambaran, saya ringkaskan alur ceritanya seperti berikut ini. Our Brand Is Crisis bercerita tentang sepak terjang seorang konsultan politik bernama Jane Bodine yang diperankan oleh Sandra Bullock. Karakter Jane Bodine adalah sebagai seorang perempuan cerdas, humoris, kreatif dan ambisius. Namun dengan gayanya yang nyentrik membuat sosok Jane tampil cukup impresif dan jenaka. Kariernya sebagai konsultan politik, Jane pernah mengalami masa-masa yang suram. Ia pernah dituduh gila dan mendekam di dalam sel tahanan setelah menghadapi tuduhan pelanggaran UU pemilu yang dilancarkan oleh rival politiknya yang bernama Pat Candy, diperankan oleh Billy Bob Thornton. Setelah keluar dari sel tahanan, Jane memutuskan untuk pensiun dari dunia politik dan menjalani hidup seorang diri sebagai pembuat keramik. Jagad politik Amerika, demikianlah alur cerita dalam film ini, mengenalnya dengan banyak nama. Calamaty Jane adalah salah satunya. Sosok perempuan yang tangguh, idealis namun sekaligus kontroversi.

Takdir ternyata berkata lain, sisi Jane yang cerdas dan kreatif ternyata diandalkan oleh rekan kerjanya sesama konsultan politik. Ia diminta untuk bergabung dalam sebuah proyek tim pemenangan (kampanye) politik Castillo – diperankan oleh Joaquim de Almeida – dalam suksesi pemilihan presiden Bolivia, Amerika Selatan. Castillo sendiri kabarnya adalah seorang mantan presiden Bolivia yang dianggap sangat pro terhadap Amerika. Kebijakannya bekerja sama dengan IMF dan mengendalikan beberapa industri nasional telah menyebabkan banyak demontrasi rakyat semasa kepemimpinannya. Setelah turun dari presiden, Castillo menjadi senator yang konservatif. Dan di mata Jane, mengetahui rekam jejak kliennya itu, Castillo cenderung dinilai Jane sebagai seorang yang korup. Jane malah bicara kalau Castillo tidak akan bisa meraup dukungan pemilih. Ketika tahu salah satu calon presiden lainnya menggunakan jasa Pat Candy yang merupakan musuh lamanya, dari sinilah Jane kemudian terlihat begitu obsesif untuk memenangkan Castillo. Oleh karena itu, pertemuan Jane dengan Pat dalam suksesi pilpres Bolivia menjadi misi balas dendam Jane. Ia mengupayakan berbagai cara agar kliennya menjadi presiden Bolivia.

Daya kreatif Jane melahirkan Brand Politik untuk Castillo yang kemudian dijual ke media massa yaitu “Our Brand Is Crisis”. Jane tidak mencoba untuk  mengubah karakter Castillo yang temperamental. Sebaliknya Castillo dicitrakan sebagai pemimpin yang keras dan tegas yang akan bisa melindungi rakyat Bolivia dari ancaman-ancaman krisis ekonomi dan demokrasi, lebih pro terhadap buruh dan kelas menengah bawah dan lain-lainnya. Sementara lawan terberatnya, Victor Rivera adalah seorang senator yang populis yang dikenal cukup dekat dengan konstituennya serta penentang kebijakan Castillo sebagai presiden terdahulu. Prioritas ekonomi yang dicanangkan Victor Rivera selama masa kampanye cukup menarik minat para pemilih. Slogannya adalah “Pekerjaan, Pekerjaan dan Pekerjaan”. Berbagai hal dilakukan oleh Jane agar popularitas Castillo bisa menanjak, mulai dari playing as victim hingga negative campaign.

Pat Candy pun hampir sama, mereka beradu strategi untuk pencitraan klien masing-masing. Perlahan tapi pasti, Brand Politik ciptaan Jane tersebut berhasil memikat pemilih, grafik dukungan politik merangkak naik merebut poling pilpres dan akhirnya Castillo memenangkan pilpres.

Kedua, selain kekonyoloan karakter Jane, film ini memberikan pelajaran yang amat berharga tentang bagaimana sikap kita dalam memandang dunia politik. Politik bukanlah ilmu pasti, ia hanya memastikan dirinya dalam sikap ketidakpastian. Ajaran moralitas dan konsistensi tampak tak bernilai di mata politisi, makna moral akan selalu bisa dipelintir tergantung situasi dan kebutuhan. Selebihnya kita bisa saksikan bahwa kontestasi pemilihan umum dalam skala tertentu (apakah pilpres maupun pemilukada) tak lebih dari sekedar drama panggung, konser musik, atau pertunjukan opera sabun.

Film ini cukup gamblang, selain dikatakan sangat vulgar, mendeskripsikan proses drama politik dalam kontes pemilihan umum tersebut. Seperti apa kerja di belakang layar (behind the scene) para tim sukses pilpres membangun image kliennya untuk merebut hati para pemilih. Black campaign, iklan politik, manipulasi media, dan lain-lain sangat menohok dalam plot film. Di akhir cerita, sang presiden terpilih, Castillo ingkar terhadap janjinya sendiri selama masa dia berkampanye bahwa dalam urusan perekonomian di negaranya tidak akan melibatkan intervensi Amerika melalui IMF yang telah ditentang oleh kaum buruh Bolivia. Sang presiden terpilih telah membawa Crisis bagi rakyat Bolivia sebagaimana brand iklan politik hasil kreasi Jane Bodine. “Our Brand Is Crisis” akhirnya bukan saja menjadi brand politik akan tetapi benar-benar menjadi Crisis secara nyata bagi rakyat Bolivia.

Refleksi Politik

Secara keseluruhan, film ini bisa menjadi bahan relefksi. Paling tidak mengajak kita yang saat ini memasuki tahun politik untuk kembali berpikir logis dan bersikap kritis. “So butul suda dorang yang mo maju jadi Capres deng Cawapres ini?” Senyatanya, di dalam ruang berdimensi ilusi optik (baca, media televisi) yang ditunggangi oleh para politisi itu seseorang yang disebut “pahlawan” tidak lahir dari proses sejarah yang berdarah-darah. Seorang pahlawan (baca, figure dalam iklan politik) sengaja dibuat-buat, direkayasa, dilahirkan, dimanupulasi dan dikondisikan sedemikian rupa dengan tokoh lawannya yang juga sengaja diciptakan sebagai figure penjahatnya. Sekali lagi kita bisa mendapati definisi politik (dalam hal kontestasi pemilu) yang bermakna satir diakhir cerita film bahwa memang politik selalu bermuka dua dan moralitas tampaknya hanya jadi mitos filsafat.

Terlepas dari aspek moralitas atau pesan-pesan simbolik yang ditafsirkan, film tersebut juga bisa menginspirasi khalayak untuk mengangkat isu-isu sosial-ekonomi di sekitarnya menjadi brand politik tertentu, terutama kaitannya dengan partisipasi kita pada konteks politik saat ini. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa 2018-2019 digadang-gadang sebagai tahun politik, sebuah momentum yang juga dipersonifikasikan dengan sebutan “pesta demokrasi”. Konon, si empunya hajat pesta itu adalah rakyat seluruh Indonesia. Namun demikian, pertanyaan-pertanyaan sepele sudah sepatutnya dihadirkan dalam ruang kesadaran kita saat ini; rakyat yang macam apakah yang merayakan pesta tersebut? Dengan cara seperti apa pula kita merayakan pesta ini?  Apa yang kita peroleh ketika pesta itu usai?

 Politik Daring

Suasana politik yang bergulir saat ini terasa mulai memanas, bahkan suhu panas itu sejak lebih awal dikibasi dan tanpa jeda “mengusik”, seturut dengan riuhnya informasi, isu, wacana, dan kabar antah berantah yang acapkali di-like lalu di-share melalui otoritas “ibu jari” dalam jagad jaring social media. Penggunaan sosial media di tanah air beberapa tahun belakangan ini memang meningkat signifikan. Hal ini pula yang membedakan tensi tahun politik kali ini relatif berbeda dengan momentum pemilu sebelumnya. Oleh banyak pengamat, penggunaan social media tersebut dianggap sebagai salah satu kontrol terhadap proses penyelenggaraan pemilu, bagaimana dinamika berdemokrasi kita yang kian dewasa. Namun demikian, fakta lain juga menunjukkan bahwa social media seringkali menjadi alat mobilisasi untuk menguatkan sentiment dan identitas tertentu. Lalu apa soalnya? Pada gilirannya ketika jalannya pesta demokrasi, “menu-menu pokok” atau realitas persoalan kaum jelata yang harus dicatat, barangkali akan gagal dihadirkan untuk menjadi masukan dan kritik bagi para kontestan. Kita lalu bisa mencermatinya saat ini, masing-masing kubu cenderung jatuh atau disibukkan dengan pencitraan “Islam-Nasionalisme”. Siapapun mereka, kini sedang berpoles dengan bedak bermerek “Islam-Nasionalisme” tersebut guna menghadiri pesta yang katanya untuk rakyat itu.

Lantas di manakah isu-isu seputar konflik agraria, penjarahan sumber daya alam, ketergantungan terhadap investasi (tambang dan sawit) dan sebagainya yang mendesak untuk dijawab itu dapat disuara-nyatakan? Adakah realitas ekonomi masyarakat kepulauan Maluku Utara, sebut saja soal ketidakpastian perlindungan petani kelapa, terpinggirkannya ekonomi sagu dan miskinnya kreatifitas pemerintah daerah (legislative dan eksekutif) memajukan ekonomi pertanian berbasis pesisir-kepulauan, bisa menjadi isu bersama atau semacam brand politik publik seperti yang dicontohkan dalam film ini, untuk kemudian didesakkan kepada siapapun figure yang akan didukung 2019 nanti?

Penulis : Arifin

Penulis adalah anggota komunitas MATAHATI Ternate.Sementara berdomisili di Yogyakarta sambil aktif menggerakkan rumah baca Litera Pesisir di kampung halamannya, di Desa Guruapin, Kayoa, Halmahera Selatan.Menjadi narahubung pada program “Baku Carita”, sebuah program berkirim surat (korespondensi) anak-anak dari Litera Pesisir dengan beberapa rumah baca di Yogyakarta

 

Baca Lainnya