JELAJAH

Rabu, 24 Oktober 2018 - 04:30

2 bulan yang lalu

logo

Melawat ke Kadato Tidore

Suara langkah terdengar dari dalam Kadato (Keraton), menuju ke arah kami di teras lantai dua. Berlahan, suara langkah itu mulai  nampak, Sultan Tidore Husain Sjah menuju ke arah kami. Jou dengan karisma pemimpin itu nampak sederhana menerima kami dengan mengenakan peci, kemeja putih, dan celana hitam.

Sambutan yang hangat dengan senyum kemudian tutur bahasa yang lembut, Jou membuka perbincangan dengan menanyakan, “Sekarang, kita (mulai) apa yang mau kita bahas?” Setelah itu, pertanyaan pun diajukan kepada.

Saat wawancara dengan Sultan Tidore

Saat itu, 20 Oktober 2018, saya dan teman-teman K-GIMP (Komunitas Generasi Intelektual Mahasiswa Perantau) melakukan kegiatan Wisata Sejarah dengan tema, Bacarita Sejarah, di Kedaton Kesultanan Tidore. Dalam pelawatan ini, kami berbincang dengan Sultan Tidore, H. Husain Sjah. Banyak hal yang kita dapat dari Jou tentang perjuangan orang-orang terdahulu. Cerita ini kemudian kami rangkum dalam satu tulisan:

 Islam di Tidore

Satu kekurangan dari kita di Maluku Utara, atau di Maluku secara umum, yaitu minimnya sumberdaya manusia yang bisa menuangkan data-data yang didapat, baik dalam bentuk literasi cerita dan sebagainya, akibatnya kita hanya mendapatkan apa-apa yang diceritakan oleh orangtua, sementara dari daftar kepustakaan atau dalam khasanah kepustakaan kita, banyak tidak ada. Pada akhirnya menimbulkan cerita yang beragam tentang Islam masuk di ‘Jazirah Tul Mulk’―Negeri Para Raja―ini. Ada yang mengatakan Islam masuk pertama di Aceh, ada pula yang mengatakan Islam masuk pertama di Tidore.

Tetapi, dalam perkembangan zaman, orang-orang melakukan riset dan penelitian, ternyata di dalam hasil tersebut mereka mendapati bahwa Islam masuk pertama kali itu di sini (Tidore). Hal ini ditandai dengan Sultan pertama, Muhammad Nakil. Dia menggunakan nama itu (nama Islam), jauh sebelum kerajaan di Aceh itu berdiri. Itu salah satu fakta, salah satu bukti bahwa Islam masuk lebih dulu di sini. Kemudian terakhir, ada beberapa orang Alim Ulama dari Patani―dari Thailand―yang datang dan melakukan riset berdasarkan data-data awal yang mereka dapatkan, ternyata bahwa Islam masuk di sini itu dibawa oleh tabiin, generasi setelah Nabi Muhammda SAW. Bukti-bukti sejarah itu mereka dapatkan dari hasil penelitian di belakang Mareku, salah satu kampung di Tidore. Dan dari hasil itu juga, mereka berkesimpulan bahwa Islam masuk di Tidore bukan hanya lebih awal dari seluruh wilayah di Nusantara, melainkan dari seluruh wilayah Asia Tenggara. Nah, itu berdasarkan data-data mutakhir yang kita dapatkan sekarang.

Konferensi Moti Sebagai Pemersatu Moloku Kie Raha

Konferensi Moti itu terjadi karena pada saat itu salah satu Kesultanan belum pindah ke Jailolo, yang dimaksudkan dengan “Moloku Kie Raha, Jou Ma Fato-fato” itu bukan bukan Jailolo dan bukan Bacan, tetapi Makian, Moti, Tidore, dan Ternate.  Kemudian dalam perjalanan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya, maka Kesultanan yang berada di Moti, dipindahkan ke Jailolo, dan jadilah Kesultanan Jailolo. Kemudian Kesultanan yang berada di Makian dipindahkan ke Bacan, pada saat itu bertempat di Kasiruta. Itu berdasarkan Konferensi Moti―Motir Verbond, yang hasil kesepakatannya memindahkan dua Kesultanan tersebut kepada tempat yang kita dengar sekarang, Bacan dan Jailolo.

Kenapa harus ada Konferensi Moti? Karena pada saat itu, Kesultanan-kesultanan yang berada di Moloku Kie Raha ini berada dalam dalam satu bingkai persaudaraan, tetapi dalam menyikapi persoalan kehidupan bernegara pada saat itu, memiliki cara yang berbeda-beda dan memiliki ego yang menonjol, sehingga hal ini dimanfaatkan oleh para penjajah untuk memecah-belah semua Kesultanan di Maluku, akibatnya pertikaian antar Kesultanan tidak dapat dicegah. Bila ini terus dibiarkan begitu saja, akan mengancam eksistensi Kesultanan pada masa itu. Maka Konferensi Moti itu dilakukan untuk menyatukan visi, menyatukan misi, persepsi, dan hidup dalam bernegara yang santun menurut adab-adab Islam. Di situlah juga disepakati dengan sebutan Moloku Kie Raha atau Maluku Empat Gunung―Kesultanan, dengan simbolnya “Mari Moi Ngone Futuru” yang artinya “Mari Bersatu Kita Kuat”.

Nuku, antara Syaifuddin dan Amiruddin

Nama dari Sultan Nuku adalah Amiruddin Sjah, dengan nama julukannya yaitu, Saidul Jehad el Mab’us Amiruddin Sjah Kaicil Paparangan (Jou Barakati). Saidul adalah Penghulu atau Tuan, Jehad adalah Mujahid atau Pejuang. Jadi seluruh Pejuang mengangkat Sultan Nuku sebagai Komandan, Penghulu, atau  Tuan mereka. El Mab’us adalah orang yang mampu menggelorakan semangat. Kaicil Paparangan artinya Panglima Perang atau Pangeran, dan semua itu memang sesuai dengan karakter dari Sultan Nuku.

Panggilan lain dari Sultan Nuku adalah Jou Barakati atau Tuan yang diberkahi. Karena begitu banyak karamah-karamah yang Tuhan berikan kepada beliau selama beliau berjuang melawan penjajah. Kalau orang Belanda menyebut beliau dengan sebutan Prince Rebel atau Pangeran Pemberontak, karena selama hidupnya, Sultan Nuku tidak pernah bernegosiasi dengan pihak Belanda untuk menyerahkan wilayahnya kepada mereka. Sedangkan julukan lain yang diberikan kepada Sultan Nuku dari orang-orang Inggris adalah The Lord Of Fortune, artinya Pangeran yang diberkahi. Itulah Saidul Jehad el Mab’us Amiruddin Sjah Kaicil Paparangan (Jou Barakati), atau yang dikenal dengan Sultan Nuku.

Mengapa Tidore Harus Masuk ke dalam NKRI?

Kalau saya mencoba membaca jalan pikiran dari Sultan Zainal Abidin Sjah dan kondisi objektif pada saat itu, rakyat membutuhkan kesepakatan besar, ada hajat besar yang jauh lebih penting untuk diselamatkan, adalah nyawa, wilayah, dan juga apa-apa yang terkandung di dalamnya, ketimbang Sultan mendahulukan egonya. Kalau seandainya dia memilih untuk bertahan dan membentuk Negara yang mendeka sendiri, ada kemungkinan pengaruh Belanda akan sangat mudah masuk kembali. Maka Sultan Zainal Abidin Sjah menyimpulkan bahwa Tidore membutuhkan satu kekuatan besar untuk melindungi rakyat dan wilayahnya dari cengkraman bangsa asing. Inilah yang menjadi pilihan Sultan untuk memasukkan wilayahnya ke dalam NKRI hingga sekarang.

Foto bersama Sultan Tidore

Dari penjelasan di atas, dapat membuka wawasan berpikir kita bahwa masih banyak hal yang perlu ditelusuri kebenarannya, tidak menutup kemungkinan terkait hasil wawancara kami ini. Paling tidak, kegiatan ini menunjukkan bahwa sejarah yang masih belum jelas, perlu perhatian kita bersama agar dapat mencari dan menggali kebenarannya lebih jauh dan lebih dalam lagi.

Untuk menutup tulisan ini, harapan kami agar tulisan ini bermanfaat semoga tercapai. Apa bila terjadi kesalahan, mohon dimaafkan. Dan selamat membaca.

Penulis: Indra Alting

Baca Lainnya