JEJAK

Jumat, 26 Juli 2019 - 16:31

3 minggu yang lalu

logo

Kadir, terdiam lesu sambil menatap becak miliknya.

Kisah Tukang Becak di Pulau Paling Selatan Maluku Utara

Siang itu, wajahnya begitu murung sambil menatap sumber penghidupannya. Entah apa yang dia pikirkan.

Sinar matahari yang begitu membakar kulit, suasana di seputaran pertokoan pun mulai sepi dari aktifitas manusia. Namanya Kadir Sanaba, satu-satunya tukang becak senior di Kota Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) yang hingga saat ini masih tetap memilih untuk bertahan mengayuh becak. Lelaki 47 tahun ini sudah menarik becak sejak tahun 90-an hingga sekarang.

Hanya saja, setiap tahun ke tahun, jumlah tukang becak di Sanana semakin berkurang. Padahal, di tahun 90-an, jumlah becak di Sanana termasuk kendaraan paling terbanyak di kota ini. Kurang lebih ada 50 unit becak.

Saking banyaknnya becak, mereka pernah punya perkumpulan sejenis organisasi yang memiliki ketua. Mereka terorganisir secara rapi dan mendengar satu arahan dari orang yang mereka anggap sebagai ketua tukang becak.

Di tahun 90-an, transportasi yang paling di gemari masyarakat Sanana adalah becak. Biasanya, dari pukul 07.00 Wit pagi hingga pukul 12 siang, tukang becak sudah mendapat pemasukan lebih dari Rp. 200.000,-

Saat ini, untuk mendapatkan Rp. 100.000,- saja mereka harus lebih keras lagi untuk menguras tenaga mereka. “Kalau dulu itu, orang-orang di Sanana ini mau kemana-mana tetap naik becak. Jadi waktu itu kita yang bawa becak juga senang, karena tidak terlalu memaksakan tenaga untuk dapat uang. Hanya setengah hari saja kita sudah bisa pulang,” kata pria empat anak ini mengisahkan.

Kadir bilag, sekarang becak yang masih tersisa di Kota Sanana tinggal 15 unit. Dari 15 unit itu, tidak semuanya setiap hari di pakai untuk mencari nafkah. Ini bukan persoalan malas, memang peminat kendaraan becak sudah berkurang. Sehingga, pemasukan pun kadang sulit untuk di dapatkan.

“Belakangan ini, jika satu hari kami bisa dapat Rp. 100.000,- itu kami sudah sangat bersyukur. Kami sudah jarang angkut orang, tapi yang kami angkut hanyalah barang-barang hasil belanjaan di pertokoan. Orang lebih memilih naik ojek dan mobil angkutan ketimbang naik becak,” katanya.

Lelaki yang tinggal di Desa Wai Ipa ini, biasanya pada pukul 06:30 sudah mulai melakukan aktifitasnya didepan pertokoan. Jarak antara rumahnya dan pertokoan jika di tempuh dengan becak, bisa memakan waktu 20 hingga 30 menit. “Kalau misalnya saya sudah keluar narik becak, jika nanti tibanya waktu makan siang, maka mau tidak mau saya harus makan di warung. Kan tidak mungkin saya harus balik ke rumah baru nanti balik lagi ke pertokoan. Saya menunggu sampai benar-benar sudah sepi barulah saya pulang ke rumah,” ucap Kadir.

Meski semakin kesulitan, Kadir tetap memilih bertahan karena tiga orang anaknya saat ini masih sekolah. Sementara anak yang tertua, tahun kemarin sudah lulus SMA. Kadir sadar betul apa yang sedang dihadapinya saat ini, apalagi jaman yang semakin hari semakin maju.

Satu hal yang diyakini Kadir bahwa rejeki setiap orang tidak ada yang tahu kecuali yang maha kuasa.

Selain Kadir, salah satu tukang becak asal Desa Waihama, Sadun Kailul, juga menyampaikan hal yang sama. Sadun sudah menarik becak selama 10 tahun. Bagi dia, saat ini kalau mereka tidak lincah dan pandai menarik perhatian, maka sudah pasti pulang tidak membawa hasil apa-apa. Mereka tidak hanya bersaing dengan ojek dan mobil angkutan umum, tapi sesama tukang becak juga harus bersaing. “Sekarang ini, karena uang tidak sama dengan dulu, makanya tergantung masing-masing punya cara menarik perhatian penumpang. Memang orang sudah jarang naik becak, yang kami angkut adalah hasil belanjaannya,” tutur Kadir, menambahkan kisah sebagai penarik tukang becak.

Diakui Kailul, saat ini mereka para tukang becak di Sanana, masing-masing sudah punya langganan tetap. Kalau misalnya orang butuh becak, orang bisa langsung telepon. “Kami semua punya langganan pribadi. Kalau dibutuhkan maka tinggal telepon kita langsung datang. Akhir-akhir ini kami biasanya angkut hasil kebun dari orang-orang di Pulau Mangoli, seperi pisang dan ubi,” tutup Sadun Kailul.

Sanana, adalah ibukota Kabupaten Kepulauan Sula, salah satu kabupaten yang letaknya berada paling selatan dari wilayah administratif provinsi Maluku Utara.

Penulis : Junaidi Drakel
Editor : Arief Paturusi

Baca Lainnya