WARTA

Kamis, 8 November 2018 - 08:15

1 bulan yang lalu

logo

Kembalinya Tradisi ‘Mahodo Safar’ di Ternate

TRADISI mandi safar atau yang lebih dikenal masyarakat Ternate sebagai Mahodo Safar itu kembali digelar setelah sekian lama nyaris dilupakan. Ratusan warga di pesisir Kelurahan Dufa-Dufa, Kecamatan Ternate Utara, pada Rabu (7/11/2018) pagi berkumpul di tepi pantai, menunggu dengan khidmat prosesi ini, yang diiringi pembacaan doa oleh para tetua.

Setelah  pembacaan doa, para tetua mengambil air yang sudah didoakan itu lalu menuangkannya ke dalam guci besar. Tampak ada empat guci yang disiapkan untuk ritual mandi. Dalam proses itu, selain tokoh masyarakat, Kapolres Kota Ternate AKBP Azhari Juanda dan Kepala Dinas PUPR Risval Budiyanto, juga turut ikut dalam ritual tersebut.

Warga kemudian berbarengan menyemut di pinggir pantai sembari diiringi oleh seorang tetua yang membawa mangkuk putih berisi air yang sudah didoakan dalam prosesi Mahodo Safar. Foto: Rajif Duchlun/jalamalut

Warga kemudian berbarengan menyemut di pinggir pantai sembari diiringi oleh seorang tetua yang membawa mangkuk putih berisi air yang sudah didoakan. Warga yang sudah bersiap menceburkan diri ke laut itu disiram terlebih dahulu dengan air yang dibawakan tetua tadi sebagai tanda prosesi mandi safar akan dimulai.

Suasana di Lokasi prosesi Mahodo Safar, di Kelurahan Dufa-Dufa, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Rabu (7/11/2018). Anak-anak terlihat antusias menyambut proses ini. Foto: Rajif Duchlun/jalamalut

Tampak mulai dari anak kecil sampai orang tua turun ke laut. Hari itu, tepat pada Rabu terakhir di bulan Safar. Warga meyakini, ritual Mahodo Safar merupakan tradisi membersihkan jiwa sekaligus membebaskan diri, keluarga, dan masyarakat dari adanya bencana atau bala di bulan Safar. Tradisi ini sendiri tidak hanya berlangsung di Ternate, melainkan juga dibuat di sejumlah daerah di Indonesia.

Makna Mahodo Safar sendiri memang sangat luas. Para ulama terutama di kalangan sufi, meyakini bahwa mandi safar memiliki hikmah, seperti membersihkan diri dalam arti lahir maupun batin. Mahodo yang dalam bahasa Ternate berarti mandi itu diyakini memiliki makna mandi jasmani dan rohani. Mandi jasmani adalah membersihkan diri dari kotoran fisik, sedangkan mandi rohani adalah upaya membersihkan penyakit yang melekat di hati/batin.

Tradisi lama yang mulai digalakkan lagi di Ternate itu, merupakan inisiatif Keluarga Malamo Tarnate atau KARAMAT. Ketua pelaksana Mahodo Safar, Sofyan Momole, mengaku tujuan dari dibuat kembali tradisi ini agar generasi muda dapat menyaksikan lagi prosesi mandi safar yang sudah mulai dilupakan dan ditinggalkan. “Lambat laun tradisi ini pun cenderung tidak dilestarikan, sehingga kami berinisiatif untuk membuatnya kembali dan tentu diharapkan dapat terus dilaksanakan di kelurahan lain,” jelasnya.

Selain mendapat dukungan dari para tetua serta tokoh masyarakat, ritual ini juga mendapat respon baik oleh pemerintah kelurahan. Lurah Dufa-Dufa, Sarjudin S Rajab, berharap kegiatan Mahodo Safar dapat dibuat setiap tahun. Diakuinya, tradisi tersebut memang bertujuan untuk menolak bala sekaligus untuk membersihkan diri. “Mahodo Safar ini telah dilupakan, tapi atas inisiatif Keluarga Malamo Ternate, ritual ini kembali dibuat,” ujarnya.

Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda yang juga ikut dalam prosesi itu mengatakan ritual Mahodo Safar dapat dimaknai sebagai anutan dalam keseharian. “Maknanya tidak sekadar ritual, melainkan dapat dipahami sebagai kebersihan diri. Kalau jiwa kita bersih, tingkah laku kita bersih, orang-orang akan nyaman dengan kita,” katanya sembari berharap, tradisi tersebut harus tetap dipertahankan. (*)

Penulis: Rajif Duchlun/Redaktur Jalamalut

Baca Lainnya