JELAJAH

Rabu, 8 Agustus 2018 - 19:19

12 bulan yang lalu

logo

Kampung Maloku dan para penjaga entitas

26 Maret 2014 DPRD Kota Makassar menyampaikan rencana pemekaran 14 Kecamatan menjadi 19 kecamatan kota. Kelurahan Maloku dileburkan dalam nama kelurahan Losari di bawah kecamatan Ujung Pandang. Tak lama usai dinyatakan rencana itu, masyarakat kelurahan Moloku berunjuk rasa di depan kantor DPRD menentang rencana peleburan yang akan menghilangkan identitas nama kelurahan itu, apa gerangan demikian ?,

Tulisan ini pernah dibahas pada tulisan sebelumnya di Jalamalut Edisi 9 Desember 2016 ‘Menelusuri jejak Maluku di Sulawesi Selatan’.

Menjawab pertanyaan di kalimat pembuka, ‘Kampung Maloku’ merupakan salah satu kelurahan di kecamatan Ujungpandang Kota Makassar. Identitas historis ini tak bisa dilepas-pisahkan oleh masyarakat setempat, bukan karena mereka adalah orang Maluku, melainkan mereka begitu menghormati mendiang tokoh ulama asal Maluku yang berjasa membesarkan kampung ini di masa lalunya.

Bila anda sudah membaca tulisan sebelumnya di Jalamalut Edisi 9 Desember 2018 Menelusuri Jejak maluku Sulawesi Selatan, telah diketahui bahwa dahulu kawasan ini pertama kali dikenal sebagai perkampungan etnis Maluku di Bandar Makassar yang telah berkedudukan di sana sekisar abad 17 (Masa keemasan Kesultanan Makassar mendominasi perniagaan Asia Tenggara kala itu).

Sejak aksi akbar penolakan dan penentangan peleburan kelurahan tersebut dalam kelurahan Losari dengan resiko penghapusan nama kampung Maloku tersebut, pihak DPRD Kota Makassar akhirnya membatalkan rencana peleburan kedua kelurahan itu atas pertimbanga desakan masyarakat terhadap nilai historisnya.

Dan uniknya mereka bukanlah masyarakat asli Maluku, melainkan masyarakat multi etnis (Melayu, Tiong Hoa, Makassar, Arab) yang telah lahir dan hidup di sana, yang dengan teguhnya berusaha untuk mempertahankan identitas nama kampung itu. Aksi itu terjadi pada tanggal 26 Maret 2014 di depan Kantor DPRD Kota Makassar.

Kampung Maloku, jejak pemukiman etnis Maluku di Bandar Makassar abad 17

Status kampung Maloku sebagai bekas perkampungan etnis Maluku yang memiliki legitimasi kerajaan Gowa-Tallo atau Kesultanan Makassar adalah benar adanya. Pihak pewaris kerajaan, Karaeng Gowa Andi Kumala Idjo Daeng Sila Lembang Parang membenarkan fakta itu saat penulis mewancarainya pada tanggal 12 April 2016 di kediaman pribadinya di Kabupaten Gowa.

Dari kesaksiannya, beliau mengatakan kawasan Kampung Maloku murni adalah hibah pemberian moyangnya Sultan Makassar I (Pertama), I Mangerangi Daeng Manrabbia Alauddin alias Sultan Alauddin masa kuasa 1593-1639 M. Menurutnya tak hanya perkampungan etnis Maluku, para pedagang dan masyarakat multi etnis dan mancanegara juga diberikan hibah tanah di sana untuk bermukim.

“Sejak Sultan Alauddin mengeluarkan kebijakan keterbukaan ekonomi di Bandar Makassar, pihak Kesultanan Makassar memberikan akses tinggal bagi para pendatang di sana, maka mereka membuka perkampungannya seperti kampung Melayu, kampung Maluku, kampung Buton, kampung Bima dan kampung cina.

Kampung cina kini telah berubah nama menjadi China Town kini. Sedang kampung buton sekarang lebih dikenal sekarang dengan nama Pasar butung. Namun hanya saja sekarang tidak begitu tampak karena pembangunan kota yang sudah mulai pesat mengakibatkan bergesernya identitas sejarah kota lama yang mulai hilang” ujar pak Andi Kumala Idjo. Dan Kampung Maloku salah satu korbannya.

Masjid tua dan 4 Makam keramat tapal batas kampung

Dari informasi Imam Muis Daeng Ngilo (Almarhum) selaku mantan Imam masjid Kampung Maloku pada wawancara di kediamannya pada tanggal 14 April 2016 mengatakan “Sejak sepeninggalnya etnis muslim Maluku, rumah ibadah itu telah ada, namun berbentuk bangunan kecil seperti sebuah Musholah. Di sana juga ada makam seorang bangsawan Ternate yang menurut orang tua terdahulu masih memiliki tali saudara dengan Sultan Ternate saat itu.

Menurut mereka, ia beserta pasukannya mengasingkan diri dan diberi tempat di sini, tepatnya di Bandar Makassar yang kita kenal sekarang adalah Pantai Losari. Di sini, ia membantu masyarakat menyebarkan Islam. Ia telah dianggap sebagai tokoh ulama Islam di kawasan ini dan turut membesarkan pemukiman yang dikenal dengan Kampung Maloku. Pasca wafat dan disemayamkan di dekat Musholah yang ia bangun, masyarakat tak pernah tahu nama aslinya, bahkan pusaranya pun tak bernama. Karena tak memiliki nama, masyarakat menggelarinya dengan sebutan ‘Karaeng Maloku’, atau Raja (Bangsawan) dari Maluku (Ternate).

Imam Muis menambahkan, terlepas dari batas kelurahan Kampung Maloku yang sekarang, batas kampung Maloku di masa silam begitu mudah dikenali sebab menurut para orang tua terdahulu batas kampung ini dibatasi oleh 4 makam keramat yang mengapit kampung tersebut. Namun sejauh ini, tidak diketahui makam siapa itu. Namun menurutnya makam itu telah ada di masa Karaeng Maloku hidup.

(Penulis menghormati kerahasiaan gambar 4 makam keramat itu, namun petanya dapat dilihat di map terlampir di atas dan dapat dikunjungi langsung di Kelurahan Kampung Maloku, Kota Makassar)

Meskipun pembangunan di kawasan kelurahan tersebut begitu cepat dan padat, masyarakat sampai hari ini tak berani menyingkirkan 4 makam tapal batas itu, jangankan digeser, ditimpa fondasi bangunan selevel gedung pencakar langit sekalipun mereka enggan. Masyarakat tak bernyali mengambil resiko pada makam yang telah disucikan masyarakat setempat. Sebab beberapa dari mereka pernah menjadi korban aneh lagi misterius dari ketidak penghargaan mereka atas arfefak yang ada.

Daeng Tompo, sang penjaga entitas

Imam Muis menambahkan, sejak tak ditinggal oleh para etnis muslim asal Maluku, kawasan Kampung Maloku akhirnya diambil alih pihak pihak Kerajaan dan dihibahkan kepada seorang pedagang Teripang kaya yang mengabdi pada kerajaan, pedagang itu bernama Daeng Tompo. Daeng Tompo yang kala itu mendapat hak tanah atas bekas kampung tersebut memilih mempertahankan nama kampung tersebut demi menghormati para pendahulu di kampung itu. Ia juga diwariskan jaga kan peninggalan rumah ibadah dan makam Karaeng Maloku yang ada di atas tanah itu, melihat begitu kecilnya rumah ibadah tersebut, tergerak hati Daeng Tompo untuk melakukan perluasan wilayahnya bangunan ibadah.

Tepat di tahun 1826 Daeng Tompo akhirnya mewakafkan sebagian tanahnya untuk pembangunan renovasi dan perluasan rumah ibadah itu. Maka terbangunlah bangunan masjid Kampung Maloku untuk pertama kali. Imam muis menambahkan keinginan ia membangun masjid adalah suatu waktu, ia bernazar, bahwasanya apabila ia diberi seorang anak, maka ia berjanji akan membangun Masjid di atas tanah hibahnya itu, Nazarnya terpenuhi. Istrinya melahirkan seorang anak yang ia beri nama Besse Masigi.

Ibu Maria menunjukkan Makam Kakek buyutnya, Daeng Tompo yang dimakamkan tak jauh dari Masjid Anshar Kampung Maloku

Menurut Imam Muis, kata Masigi sendiri berarti masjid, yang memiliki kesamaan literatur dalam bahasa Ternate dan Tidore bahwa ‘Sigi’ juga berarti Masjid (Entah ini suatu kebetulan atau tidak)Maka dimulailah pembangunan Masjid itu seraya dibangun di areal fondasi mushala tua dan pemakaman kuno tersebut. Kemungkinan, ini merupakan upaya Daeng Tompo untuk melindungi kedua arfefak kuno itu.

Disela cerita, Imam Muis menyarankan penulis untuk bertemu dengan keturunan dan ahli waris Masjid Kampung Maloku itu yakni ibu Maria selaku keturunan ke-4 daripada Daeng Tompo, maka berangkatlah penulis memenuhi sarannya. Penulis bertemu ibu Maria, kami mengobrol banyak soal masa lalu, ia pula mengantarkan penulis ke makam kakek buyutnya (Daeng Tompo) yang terletak tepat di samping belakang Masjid Kampung Maloku.

Ibu Maria mengatakan, sudah jadi wasiat kepada kami untuk menjaga kampung ini beserta arfefaknya. Termasuk makam kuno Karaeng Maloku. Maria berkisah, tanah kakek buyutnya (Kampung Maloku) dihibahkan pada negara pada tahun 1945, ayah Maria yang juga tokoh nasionalis Sulawesi Selatan bernama Hi. Mansyur Dg. Tompo (keturunan ke-3 Daeng Tompo) yang kala itu sebagai ahli waris mewakafafkan tanah ini (Kampung Maloku) pada pemerintah Indonesia pasca kemerdekan Indonesia.

Menurutnya Indonesia saat itu sedang serius dalam merebut status quo Sulawesi dari tangan kolonial Belanda. Selain menjadi tulang punggung keluarga, ayahnya turut duduk dalam Badan Perjuangan Keselamatan Sulawesi (PKRS). Tanah itu semua kepada pemerintah Indonesia, kecuali Masjid beserta isinya (Makam Karaeng Maloku) yang tetap dikelola oleh keluarga besar (Daeng Tompo) lewat Yayasan yang telah didirikan di masa depannya.

Pemindahan Makam dan usaha penyingkiran ritual syirik

Maria juga bercerita bahwa Masjid Kampung Maloku pernah dipinjam oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di era orde baru guna menampung beberapa pasukan cadangan yang dikirim dari Jawa. Saat jelang penarikan pasukan, ABRI menawarkan bantuan anggaran guna pemugaran dan pelestarian Masjid itu. Pihak ABRI sangat prihatin dengan kondisi Masjid Kampung Maloku yang telah lapuk dimakan usia. Di saat yang sama pula, pihak keluarga pengurus Masjid (Orang tua Imam Muis) meminta untuk memindahkan makam kuno di areal depan masjid ke bagian belakang agar tak mengganggu aktifitas ibadah di dalamnya. (Kala itu Makam Karaeng Maloku memang berada di tengah masjid)

Maria tak pernah tahu apa alasan pemindahan itu sebab itu hasil musyawarah dan saran para warga termasuk ulama di sana, kemungkinan demi estetika masjid ini. Pemindahan suatu benda kuno (Yang lama) tentu memiliki tingkat resiko yang tinggi. Ibu Maria menyarankanku untuk berkonsultasi dengan seorang ponakannya yang juga ketua Yayasan Masjid Kampung Maloku kini, Abdullah Yasin, darinya ia menceritakan soal renovasi Masjid tersebut. Namun menurut Imam Muis, “makam itu sengaja dipindahkan guna menghindarkan masyarakat dari ritual pemujaan yang dianggap terlalu terlalu berlebihan. Menurutnya masyarakat memang kerap kali membawa sesaji di sana seraya meminta berkat. Karaeng Maloku semasa hidupnya memang dikenal berilmu tinggi dan hal itu yang memicu masyarakat kadang mengkultuskannya bahkan menyembah makamnya” ujar Imam Muis.

Masjid tua Kampung Maloku yang telah direnovasi dan dikelola oleh keluarga mendiang Daeng Tompo

Menurut kesaksian Abdullah Yasin yang merupakan generasi ke-5 Daeng Tompo pada wawancaranya menjelaskan, “Saat renovasi berlangsung, kami menyarankan agar Masjid itu direnovasi dengan hati-hati dengan tidak mengganti keaslian yang sudah ada, sebab terdapat arfefak kuno yang menjadi tanggung-jawab warga dan pihak keluarga dalam melestarikannya” ujarnya. Pesan itu tak diindahkan, suatu waktu, seorang pekerja yang tak mengindahkan saran warga harus tewas akibat bekerja yang tak sesuai dengan instruksi warga soal kehati-hatian makam keramat di Masjid tersebut.

 

Sumbangan dari Sultan Ternate

Imam Muis mengatakan bahwa dahulu Sultan dari Ternate pernah mengutus seorang utusannya (kurir) ke Makassar untuk menziarahi makam kuno di dalam masjid itu. Pada kurir tersebut, Sultan juga memberikan hadiah kepada pihak penjaga masjid berupa kayu khusus yang dibawa langsung dari Ternate untuk disumbangkan sebagai bahan dasar konstruksi mimbar masjid. Tak hanya itu, sang Sultan juga memberikan Prasasti kaligrafi untuk masjid tersebut yang dipajang hingga kini di mimbar masjid.

Prasasti kayu itu berketerangan waktu pemberian dengan ukiran huruf arab di atasnya. Huruf itu menuliskan Tahun islam 1237 bulan Zulkaidah. Saat penulis mengkonversi waktu Islam ke waktu Masehi, ukiran waktu itu menunjukkan sekitar antara bulan November-Desember tahun 1858. Jika benar diberikan pada tahun itu, maka mimbar itu dipastikan diberikan oleh Sultan Ternate ke-42 yakni Sultan Taj’ul Mulki Amiruddin Iskandar Kaulani Shah Alias Muhammad Zain yang berkuasa di masa 1823-1859. Tepatnya diberikan di akhir penghujung masa kuasanya.

“Kurir itu menyampaikan amanat Sultan pada pihak masjid akan rasa terima kasihnya telah menjaga makam bangsawan Ternate tersebut, dari informasinya, pihak Kesultanan membenarkan bahwa mendiang bangsawan itu masih merupakan moyang dari sang Sultan, siapa nama asli Karaeng Maloku sebenarnya ? Sang kurir tak pernah menjelaskan kepada pihak masjid seolah hal itu begitu rahasia” ujar Imam Muis. Hal itu masih misteri hingga hari ini. Selain rangka mimbar dan prasasti pemberian Sultan Ternate, terdapat juga sumbangan arfefak sejarah lainnya dari negeri luar, salah satunya adalah 4 tiang kayu penyangga yang disumbangkan oleh Sultan Bima. Lokasinya berada 10 meter dari pintu depan masjid.

Prasasti pemberian Sultan Ternate pada tahun 1858 yang terpampang di Masjid Anshar, Kampung Maloku, Kota Makassar

Rahasia dibalik arfefak

Di akhir wawancaranya, Imam Abdul menitip pesan dan membocorkan rahasia bahwa Prasasti kayu pemberian Sultan Ternate yang kini terpampang di mimbar masjid kini bukanlah yang asli. Arfefak itu disimpan rapat oleh pihak pengurus masjid sebab nilainya yang begitu tinggi akan syarat sejarah, hal ini agar terhindar dari pencurian barang antik di dalam masjid. Demi menjaga prasasti asli, pihak masjid membuat duplikatnya dan telah terlihat hingga kini.

Sedangkan rangka kayu mimbar yang asli (Dari Ternate) sebenarnya ada di dalam tubuh rangka kayu mimbar yang ada sekarang. Pihak pengurus masjid telah mempekerjakan ahli meubel dari Jepara untuk mendesainnya khusus dengan cara membungkus rangka lama dengan bahan  kayu jati agar bahan aslinya (Di dalam rangka) tetap kokoh dari dalam.

Penulis terhenyak kaget mendengar keterangan Imam Muis membocorkan rahasia ini. Seolah beliau berasumsi rahasia ini tak perlu disimpan lagi dan perlu untuk diketahui oleh khalayak. Penulis bangga dapat mendengar penyampaian Imam Muis soal rahasia arfefak asal Ternate tersebut.

Demikian sebuah rahasia kecil yang diceritakan Imam Muis kepada penulis di kediamannya, rahasia ini merupakan hadiah terbesar beliau pada penulis membongkar keberadaan arfefak sejarah dari Ternate tersebut. Tak lama sejak wawancara itu, Imam Muis yang sebelumnya sakit akhirnya wafat, penulis sangat kehilangan sosok sejarahwan kampung seperti beliau, penulis turut berduka dan bersyukur atas jasanya dalam penelitian ini.

Penulis memutuskan melanjutkan penelitian untuk berkunjung ke Makam kuno di belakang Masjid tua itu. Maka tibalah penulis di tembok ruang makam Karaeng Maloku. Pintu menuju makam itu begitu tersembunyi, ia ditutupi oleh gerobak yang pada akhirnya diketahui adalah milik sang juru kunci makam bernama Daeng Hud. Berkat bantuan Muadzin Masjid Kampung Maloku Iswan daeng Kulle, penulis akhirnya dipertemukan dengan juru kunci makam .

Tragisnya ruang makam sang ulama

Menurut Daeng Hud, keluarganya telah diberikan amanat secara turun-temurun oleh ahli waris Masjid (Yayasan Daeng Tompo) untuk menjaga makam ini. Awalnya ia keberatan memberi izin penulis untuk masuk ke dalam ruang makam. Tawar-menawar terjadi, penulis meyakinkan Daeng Hud soal pentingnya penilitian ini. Seusai diberi izin dan masuk ke dalam makam, begitu prihatinnya penulis melihat ruang makam yang begitu kotor tak terawat serta berserakan alat-alat masak dan gerobak pedagan pisang epe.

Ternyata benar, makam ini telah disalah fungsikan menjadi ruang penyimpanan gerobak kaki lima. Daeng Hud begitu kaku untuk menjawab pertanyaan penulis soal keadaan itu, namun penulis sadar bahwa itulah alasan mengapa ia keberatan memberikan izin pada penulis untuk menginspeksi ruang keramat itu. Dan sepertinya Daeng Hud gagal menjalankan amanatnya. Dan parahnya, semua peralatan di dalam ruang keramat itu adalah barangnya yang telah ia salah fungsikan sebagai gudang. Tragis.

Daeng Hud (Juru kunci makam) menunjukkan Makam mendiang ‘Karaeng Maloku’ beserta istri di ruang makam yang telah ia jadikan gudang penyimpanan jualan usaha kaki limanya

Daeng Hud membela diri. Menurutnya ia tak punya jalan lain, hanya tempat ini yang dapat membantu usahanya. Ia sudah berusaha meminta pemerintah menyediakan tempat penitipan barang usahanya dengan kerabat pedagang lain, namun nihil dan tak mendapat balasan pemerintah. Namun ia sadar bahwa apa yang ia lakukan salah, untuk membalas kesalahan itu, ia tetap mengabdikan diri untuk terus memelihara makam karaeng Maloku hingga hari ini meski tak dibayar.

Dalam ruang Makam terdapat, 2 makam keramat berpasangan berukuran ± 1 x 2,5 meter. Menurut Daeng Hud, di makam itulah bersemayam bangsawan Ternate bernisial Karaeng Maloku yang tak memiliki nama di pusara batu kapur tua itu. Sebab makam itu tak memiliki kejelasan nama kecuali identitasnya sebagai seorang saudara Raja Ternate dari informasi yang dapat dari sejarah turun-temurun.

Makam yang dikeramatkan warga itu terletak di makam sebelah kanan, sedang di kirinya adalah makam istrinya. Tak hanya itu, terdapat pula 4 makam lainnya berukuran kecil yang menurut Daeng Hud pula adalah makam para keluarganya. Ditanya soal usaha pemeliharaan dari pihak kedua, Daeng Hud mengungkapkan bahwa tak ada pemeliharaan dari pihak masyarakat, anggaran pemeliharaan makam pun tak ada, makam ini hanya dibersihkan oleh dirinya dan peziarah dari luar daerah serta oleh pihak mendiang ahli waris keluarga yang tiap tahunnya menyelenggarakan ritual khusus makam tersebut.

Penulis tiba-tiba terhenyak dan bertanya, apa benar Karaeng Maloku memiliki keturunan di kampung ini ? Bila benar, tersisa bangsawan Ternate yang masih eksis di sini hingga kini. Daeng Hud membenarkan dan memberikan alamatnya pada penulis. Maka petualangan barupun segera dimulai. Penulis begitu berterima kasih padanya meski menyimpan rasa kesal terhadap nasib makam keramat tersebut yang tak terurus baik olehnya.

Rasma, suka duka sang Nyai chili 

Penulis akhirnya bertemu orang yang direkomendasikan Daeng Hud. Orang itu tak begitu spesial seperti bangsawan lain yang hidup mapan, atau religius pada umumnya. Ia hanya seorang wanita biasa lagi sederhana, berusia sekitar 40 tahun. Ia tinggal di lorong kecil kelurahan ini.

Perempuan itu bernama Rasma. Penulis tak bisa melepas pandangan padanya dan berbisik dalam hati, “Benarkah beliau satu-satunya perempuan keturunan terakhir dari Karaeng Maloku yang tersohor itu?”. Kami pun berdiskusi dan berkisah tentang kisah kampung ini hingga bagaimana ia memiliki tali darah dari orang nomor 1 di kampung kuno ini. (Kisah ini telah dibahas sebelumnya, baca Jalamalut Edisi 9 Desember)

Menurut Rasma, neneknya pernah berkisah bahwa leluhurnya (Karaeng Maloku) pernah berpesan untuk menyimpan rapat nama aslinya. Kerahasiaan nama memiliki resiko politik dan keamanan saat itu, sebab saat itu leluhurnya yang juga adalah bangsawan telah merantau dan memilih jalan sebagai seorang ulama” ungkap Rasma. Meski namanya begitu rapat tersimpan zaman, masyarakat hanya bisa mengenangnya dengan sebutan Karaeng Maloku.

Rasma sendiri tak terlalu menyoalkan status kebangsawanannya, dan juga sebagai keturunan Tuan tanah (Karaeng Maloku) di kampung ini. Bagi Rasma, sejarah keluarganya dan kampungnya telah punah dimakan waktu. Baginya kebahagiaan keluarga adalah yang utama. Meski demikian, Rasma tak memungkiri bahwa ia masih kesulitan mencari alur klannya di Kesultanan Ternate karena terkendala biaya dan tak ada relasi di sana.Meski demikian ia tetap menjalankan kewajiban ritual malam khusus untuk leluhurnya.

Rasma mengaku pihak Kesultanan Ternate acap kali sering mengunjunginya, terutama dari para abdi dalam Istana. Mereka adalah keturunan dari leluhurnya yang pernah mengabdi pada sang leluhur Rasma. “Dari Kesultanan Ternate sering datang ke rumah, kadang ke kamar khusus milik leluhur di lantai 2 sekedar membaca doa dan melanjutkan perjalanan menziarahi makam leluhur kami di belakang Masjid Anshar. Mereka antara lain dari Jailolo, katanya leluhur mereka pernah mengabdi pada leluhur kami” ujar Rasma.

Rasma yang memilih hidup sederhana menggantungkan hidupnya dengan usaha kuliner rumahan yang ia kembangkan menghidupi sang keluarga

Kesetiaan para klan ksatria yang tersisa

Sebagai keturunan seorang bangsawan Ternate, Rasma mengaku tetap menjalani wasiat keluarganya untuk senantiasa membersihkan kamar penyimpanan pusaka berupa ‘Parang’ (baca: pedang) dan ‘Salawaku’ (baca: Perisai khas Maluku yang terbuat dari kayu’, kain perang berwarna merah, busur panah, dan peninggalan baju zirah (baca: jubah perang) milik sang leluhur dan 2 pengikutnya. Hal itu dilakukannya rutin di hari kamis.

Selain itu keluarga Rasma juga menggelar ziarah makam leluhur dan ritual pencucian pusaka yang digelar pada hari Asyura, yakni hari ke-10 bulan Muharram diikuti gelar pengajian dan doa syukur yang dilakukannya di tiap tahunnya. Uniknya, mereka yang berpatisipasi adalah para tamu dari pulau seberang yang awalnya tak diketahui oleh Rasma sebelumnya sejak dipercaya menggantikan peran almarhum ibunya menjalankan wasiat keluarganya.

“Pada pelaksanaan pencucian pusaka dan pengajian doa di hari Asyura, para undangan biasanya datang sendiri, kami tak mengundang. Tugas kami hanya menyiapkan makanan saji di acara itu. Kami awalnya tak mengetahui siapa para tamu undangan ini, barulah kami tahu bahwa mereka tak lain adalah putra-putra para pendahulunya (Orang tua mereka) yang sejak kecil sudah sering datang di rumah ini di tiap gelaran acara.

“Mereka dari pulau sebelah, ada yang dari Pulau kodingareng, pulau lae lae, dan pulau-pulau lainnya di sebelah luar Makassar. Almarhum ibu pernah bercerita bahwa keluarga mereka adalah keturunan dari leluhurnya yang juga merupakan bekas pasukan (Abdi) leluhur kami. Pasca wafatnya leluhur, mereka memilih tinggal jauh mengasingkan diri ke pulau terluar hingga kini”.

“Sama seperti kami, mereka pun menjalankan wasiat leluhurnya untuk senantiasa datang bersilaturrahmi dan andil dalam ritual tahunan ini serta berziarah di makam leluhur kami yang tak lain adalah bekas pimpinan leluhur mereka” ujar Rasma bercerita. Dengan adanya relasi khusus ini. Rasma mengaku keluarga tak pernah dirundung kesusahan, sebab Rasma mengaku, para kerabat leluhur di pulau seberang sana sering berkunjung sekedar menyumbangkan sebagian rizkinya pada keluarga Rasma. “Kadang kalau bukan beras, ikan, bahkan sesekali uang” ungkap Rasma.

Di sisi ruang tamunya, sebuah foto Sultan Ternate (Almarhum Sultan Mudaffar Syah) masih tergantung indah di dinding rumahnya, sekedar menyampaikan rasa bangganya pada khalayak bahwa ia masih menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Islam terbesar di abad 15 itu.

Para abdi Karaeng Maloku, sebagian dari pulau seberang yang senantiasa hadir di menggelar ritual doa dan pencucian pusaka milik Karaeng Maloku

Himpitan kota dan keganasan ruang kapital

Perjuangan mereka mempertahankan identitas kota tak ringan. Mereka diperhadapkan dengan kebijakan pemerintah yang kian hari membuka ruang kapital bagi pembangunan pro pemodal di sana. Lihatlah bagaimana Hotel dan pertokoan telah berjamur di sana, bahkan menghimpit keberadaan mereka dan identitas historis kampung mereka saat ini. Mereka bukan lagi tuan atas tanahnya, melainkan buruh rakyat yang kini bergantung pada ruang kapital yang membuka peruntungan kerja di sana. Meski demikian, Rasma lebih memilih mandiri  dengan tidak memikirkan sedikitpun keinginan untuk pindah dari tempat dimana moyang dan keluarganya dilahirkan dan disemayamkan.

Acapkali penulis bertanya apa keinginan terbesar Rasma saat ini, Ia berharap dapat berkunjung ke tanah moyangnya kelak dan menelisik alur klan-nya di sana” ujarnya. Rasma juga berharap dapat meminta bantuan ke pihak Kesultanan Ternate untuk membantunya melestarikan arfefak moyangnya yang telah ia pertahankan beserta masyarakat kini. Suatu kesadaran historis dan primordialisme sejati seorang perempuan pekerja keras, yang memilih hidup sederhana meninggalkan ruang pencarian jati diri keluarga dan entitas dirinya di tanah rantau. Dialah, ahli waris dan saksi bisu Kampung Maloku yang tersohor di abad 17 itu. (TAMAT). (*)

(Penulis mengucapkan terima kasih pula kepada sahabat Nurkholis Lamaau yang telah menemani penulis dalam penelitian ini)

Oleh : Fatir M.N

Baca Lainnya