JELAJAH

Selasa, 13 November 2018 - 07:48

1 bulan yang lalu

logo

Ramdani Manurung saat ikut serta tarian cakalele Tobelo Dalam di Halmahera Timur (foto/faris bobero/jalamalut)

Jelajahi Halmahera dan Budaya Suku Tobelo Dalam

Keindahan Nusantara Timur menambah jati diri Indonesia dengan identitasnya yang kaya akan keasrian alam dan budaya dari Sabang hingga Merauke. Tak heran banyak penikmat alam tergiur dan haus akan sajian Sang Pencipta yang tak henti membujuk untuk terus menatap kemolekannya.

Halmahera merupakan salah satu daerah dengan bentang alam yang sangat memesona. Keunikan dan jati diri Halmahera menarik minat Himakova, salah satu Himpunan Organisasi yang bergerak di bidang konservasi sumberdaya hutan dan ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Perjalanan dimulai dari sebuah program kerja Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) yang setiap tahunnya diadakan oleh Himakova. SURILI ke-16 dilaksanakan di Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), bumi dimana keanekaragaman khas dan budayanya yang kental masih bergelumut. Kemah Konservasi di puncak bukit Uni-uni membuka rangkaian ekspedisi dalam gelapnya langit Indonesia Timur. Bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia kami bersama tamu undangan dan Masyarakat Tobelo Dalam, salah satu suku yang mendiami belantara Halmahera dengan hikmat menjalankan upacara peringatan HUT RI ke-73. Hampir menitihkan air mata, Bapak Wahyudi kepala Balai TNAL larut dalam suasana haru saat pertama kali melihat Masyarakat Tobelo Dalam mau berbaur pada upacara tahun ini. Selaras dengan tema yang kami usung, “Menyingkap Keeksotisan Potensi Hayati di Bumi Halmahera dalam Balutan Budaya Masyarakat Tobelo Dalam”, Taman Nasional Aketajawe Lolobata bersama Himakova bekerjasama dalam merajut jalinan konservasi di Bumi Halmahera, guna mengenal keanekaragaman hayati yang ada, dan memahami budaya yang amat unik dari Masyarakat Tobelo Dalam.

Tim Surili 2018 bersama keluarga Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, saat di Gunung Uni-uni, Halmahera Timur pada 17 Agustus 2018. (Foto: Faris Bobero/jalamalut)

Suguhan alam tanpa kepalsuan membuat Tim Surili terpacu mengulik isi Belantara Halmahera, terbagi menjadi tiga tim yang masing-masing memiliki kajiannya. Tim Beringin Lamo di Resort Buli SPTN II Maba, Tim Tukur-tukur di Resort Lolobata SPTN III Subaim, dan Tm Sosial Budaya di pemukiman Tobelo Dalam Subaim. Kiat yang kuat disertai niat yang tulus, Himakova terus membentangkan sayap untuk menuju ke lokasi. Ada hal yang unik yang membuat Halmahera berbeda dengan daerah bahkan pulau yang lain. Gerandong merupakan sebuah alat transportasi mobil unggulan di daerah Beringin Lamo, biasanya digunakan untuk mengangkut orang-orang untuk menuju lokasi, terbuat dari kayu yang didesain menyerupai mobil dengan muatan kurang lebih 10 orang. Menyusuri sungai dan mendaki bukit dengan gerandong cukup menegangkan karena bentuknya yang bisa dikatakan kurang aman. Meski begitu, tak ada kata lelah untuk terus memanjakan diri dengan alam yang menyuguhkan kesejukan dedaunan dan hembusan angin yang damai serta sungai yang tenang untuk terus dinikmati.

Tak tega ku nikmati sendiri        

Keanekaragaman di dalamnya terus ditelisik oleh Tim Surili, tak sedikit yang kagum akan nyatanya Negeri Timur ini, merasa hinggap di surga. Paduan tumpahan biru langit dan hijaunya alam dedaunan mengundang kiat konservasi terus dijejaki. Banyak ditemui berbagai macam hayati flora dan fauna yang menjadi nilai tambah kekayaan Bumi Halmahera dari yang terbesar hidup hingga yang terkecil mati.

Ibarat wadahnya surga dunia, melimpah akan kekayaan yang hidup maupun mati dengan kekhasannya masing-masing. Fauna yang menjadi sorotan antara lain jenis burung endemik Halmahera Burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallaci), bak bidadari dengan pengawal, kehadirannya di pucuk pohon diikuti jenis burung lain. Bubut goliath, cendrawasih gagak, dan Srigunting lencana tak sungkan didekatnya. Sebaran  Anggrek yang menambah keeksotisan Halmahera membuat semangat membara pada muda-mudi yang ingin terus mengulik sumberdaya yang ada. Tapak yang berselang antara bebatuan dan sungai menjadi tantangan dan rintangan untuk dijejaki, tak ada kata lelah untuk terus menapaki kaki dan hati kepada Bumi Halmahera. Suasana Air terjun yang melimpah menjadi salah satu daya tarik sebagai pelepas penat dan lelah, tebaran tumpukan bebatuan kecil hingga besar membendung kelelahan para pejejak. Sungguh ciptaan Maha Agung menata lanskap dengan desainnya sendiri. Klasik namun unik. Penemuan gua yang ada menambah keindahan Halmahera yang semakin memukau, menjadi penyedap dikala lelah mengerumuni.

Tak hanya hayati, budaya yang menyelimuti keharmonisan Bumi Halmahera juga menjadi salah satu penyejuk hati para pendatang. Senyuman manis para masyarakat membuat hati tergugah untuk tak sungkan saling melempar pandangan yang mengisyaratkan keinginan saling berbaur dan segera berinteraksi. Keunikan pola hidup masyarakat Suku Tobelo Dalam membuat penasaran Tim Surili, berbaur dengan keseharian mereka adalah salah satu metode pendekatan yang dipilih.

Mencoba menghabiskan malam di Dego-dego, rumah tradisional yang masih dihuni selain rumah permanen program Dinas Sosial untuk Masyarakat Tobelo Dalam. Berbagai macam budaya unik seperti Tarian Cakalele dan Tide-tide yang diiringi musik tifa yang dimainkan ketika ada acara besar seperti pernikahan, penyambutan tamu besar, ataupun acara resmi lainnya. mengenakan baju khas Suku Tobelo Dalam yaitu kebaya dengan selempang panjang untuk perempuan. Salawaku (berbentuk tameng bermotif unik) dan parang menjadi pelengkap busana penari pria. Menari dengan suka ria, adakalanya penari mengaitkan kain ke leher penonton untuk diajak menari bersama. Mengesankan.

Kemanjaan dari suguhan Bumi Halmahera dengan balutan budaya dan keanekaragaman hayatinya tak cukup dinikmati dengan hari yang singkat. Begitu manis untuk dikenang, perjalanan yang cukup singkat namun tetap mengesankan. Masyarakat dengan senyumannya yang ramah dan alam yang bersahabat sangat mengukir kisah perjalanan Tim Surili di Bumi Halmahera. Terik matahari pagi mengiringi kepulangan pejejak untuk kembali ke rumah. Menjadi potret yang sangat luar biasa mengenal negeri timur dengan segala kekurangan yang ditimbali kelebihan yang sangat cantik. Rindu akan mengerumuni ketika meninggalkan negeri yang manis. Senyum tipis menyeimbangi langkah dan berjanji dengan hati untuk segera kembali. Terima kasih.

Penulis:

Annisa Rachmawati Sulistyani  dan Ramdani Manurung

Baca Lainnya