WARTA

Selasa, 20 November 2018 - 17:33

4 minggu yang lalu

logo

Isak di Tengah Aspirasi

Seorang ibu berlari ke arah kerumunan Polisi memblokade tembakan lakrimator (gas air mata). Bukan karena ia memihak demonstran, melainkan membela nasib warga dan cucunya yang  nyaris sekarat akibat polutan gas yang menyelimuti pemukiman mereka di RT 06 kelurahan Akehuda saat bentrokan mahasiswa dan Polisi terjadi. Ia tak sekedar menghentikan tembakan, tapi mempertanyakan pentingnya sikap tangggung-jawab.

Senin, 19 November 2018. Kelurahan Akehuda  mencekam usai terjadi bentrokan Polisi dengan mahasiswa pada saat aksi penuntutan harga Kopra oleh para mahasiswa dan organisasi gerakan yang tergabung dalam Koalisi Perjuangan Rakyat (Kopra) Maluku Utara.

Kericuhan tak terelakkan. Mahasiswa memaksa menerobos barisan pertahanan. Tiba-tiba batu berukuran kepalan tangan leyang dari arah belakang massa aksi. Pihak Polisi pun memutuskan melaksanakan prosedur pembubaran massa dengan menggunakan Meriam air (Water canon) dan gas air mata yang resminya disebut Lakrimator.

Peluru Lakrimator itu ditembak ke barisan demonstran hingga memecah konsentrasi demonstrasi, sebagian berlarian melindungi diri dengan menyisir masuk ke rumah warga.

Sebagian tak sadarkan diri terpapar paparan gas berbahan Chlorobenzylidene Malononitrile itu, sebagian lainnya harus bertahan dengan lumuran pasta gigi untuk meringankan efek panas dan nyeri di wajah mereka.

Warga pun ikut jadi korban 

Pengguna media sosial dibuat histeris usai video amatir (Berdurasi 0.44 detik) menampilkan seorang bayi yang merintih kesakitan dipenuhi bengkak di wajah dan mata akibat paparan Lakrimator itu, sedang sebagian lainnya memperdengarkan kecaman seorang perempuan paruh baya soal polusi asap yang terjadi.

Video itu berhasil diabadikan oleh Hamdan Chaliel yang diuploadnya di akun media sosial Facebook yang telah viral dibagikan dan hangat dibahas ditingkat netizen. Video dapat ditonton di sini klik video

Video berdurasi 00:44 detik yang menayangkan salah satu korban Bayi terpapar iritasi Lakrimasi (Gas air mata). (1) Tampak bengkak pada wajah dan mata bayi. (2) Wajah bayi diolesi pasta gigi guna mendinginkan sensasi panas dan nyeri. (3) Amukan sang nenek korban yang juga merupakan ketua RT.6 kelurahan Akehuda soal cemaran lakrimator (Gas air mata) di pemukiman warganya – Sumber video : Hamdan Chaliel (Facebook)

Nurlaila, saksi dan juga seorang mahasiswi yang ikut andil dalam aksi itu mengisahkan bagaimana Polisi membubarkan aksi massa menggunakan Lakrimator dengan tanpa mempertimbangkan pemukiman warga sekitar.

“Mahasiswa yang pecah bentrok berlarian meninggalkan lokasi aksi dari serangan Water canon dan lakrimator, sebagian melindungi diri masuk ke rumah warga, termasuk ke rumah saya yang tak jauh dari area lokasi aksi, mereka berlindung usai menjerit iritasi wajah akibat paparan iritasi gas air mata”. ujar Mahasiswi yang kini berkuliah di Fakultas Keguruan, Sekolah tinggi ilmu keguruan pendidikan (STIKIP) Kieraha, Ternate.

Nurlaila juga menyaksikan bagaimana tembakan Lakrimator diarahkan mengikuti arah demonstran yang telah berada di posisi pemukiman warga.

“Bukannya menghentikan tembakan lakrimator, pihak polisi mengarahkan tembakan itu ke arah kami yang telah menyusuri jalan ke arah rumah warga, kabut asap pun menutupi pemukiman, hingga kepulan dan efek asap gas itu tak bisa dicegah” tambahnya.

Tak hanya Nurlaila, kakaknya di rumah, Anti (30) pun tak bisa menyembunyikan kekecewaannya, Anti mengaku ketakutan usai mendengar dentuman suara tembakan yang telah membangunkan bayinya yang baru saja lahir (Usia 6 hari).

Belum lagi Anti melihat kondisi para mahasiswa yang telah terkulai lemas di rumahnya yang berhasil lolos dari kejaran polisi, serta ibu mertuanya, Misna yang tak lain ketua RT 06 kelurahan Akehuda yang sudah terlanjur naik pitam soal tembakan keras yang menghisteriskan warganya.

Torang dengar tembakan kuat sekali, saya  pe bayi sampai manangis. Tarlama asap mengepul torang pe rumah dan pemukiman sekitar. Para mahasiswa lain so lari berlindung di torang pe rumah, tak lama asap so maso di rumah. Torang pe muka barasa panas kaya terbakar. Saya pe bayi juga terus manangis entah karena nyeri yang sama dirasakan” kata Misna gusar sambil menggendong bayinya.

Putra Anti, Aksa Alfarizi, bayi mungil yang baru saja lahir 6 hari lalu itu, telah ikut menjadi korban, Anti mengaku, sejak bayinya berang menjerit kesakitan, sang mertua pun terpaksa berlari ke kerumunan Polisi untuk menuntut penghentian penembakkan tersebut.

Mertua sampe turun ke pihak polisi kasih brenti tembakan, bahkan mertua sempat mengancam tindakan itu, dan dorang akhirnya kasi berenti tembakan, sayangnya asap sudah terlanjur mengepul di seluruh pemukiman warga

Meski kejadian kemarin (Senin) menyisakan duka dan kekecewaan akibat dampak fisiologis warga termasuk sang bayi, Anti mengaku tenang melihat bayinya sudah baikan. Anti juga berharap pada Kepolisian untuk memikirkan soal penggunaan Lakrimator yang menurutnya berdampak negatif bagi warga sekitar .

“So baikan daripada kemarin, bengkak di mata dan wajahnya sudah turun. Kemarin sangat sulit ditangani karena mungkin nyeri iritasi yang dia rasa” tutur Anti.

“Saya harap, Pihak Kepolisian bafikir kembali soal penggunaan gas air mata untuk kase bubar aksi mahasiswa, saya juga me tra bisa kase salah mahasiswa, sebab dorang tentu berniat bae menyampaikan aspirasi rakyat soal Kopra, saya harap semua bisa baik-baik saja” tambahnya.

Ibu Anti (30) warga Akehuda RT.6 yang bersuka cita paska bayinya Aksa Alfarizi (Laki-laki) yang berusia 6 hari telah sembuh dari iritasi cemaran Lakrimator (Gas air mata), terlihat bengkak pada mata yang telah turun, Selasa, 20 November 2018.

Dampak Lakrimator

Diketahui bahwa dampak yang terjadi akibat terdampak Lakrimator adalah iritasi mata yang berat, bisa Konjungtivitis (Peradangan konjungtiva) dan infeksi akibat kucakan mata oleh tangan yang tidak steril dari bakteri dan virus, ini tentu berbahaya, terlebih pada anak-anak, bayi bahkan bagi para lanjut usia.

Efek samping daripada paparan Lakrimator berdampak pada organ penglihatan, saluran pernapasan, dan kulit. Untuk penanganan saluran pernapasan, penanganannya tentu harus mendapatkan terapi oksigen secepatnya, tentunya dibutuhkan oksigen cair yang cepat, seperti oksigen kaleng (Oxycan) yang dijual di pasaran.

Korban harus cepat mendapat asupan oksigen guna menghindari meningkatnya kandungan karbon dalam paru-paru dan darah yang mengikat oksigen dengan cepat.

Untuk melindungi organ penglihatan (mata), korban harus mencegahnya dengan kacamata tertutup (Outdoor) yang melindungi seluruh area mata. Namun bila terpapar, korban harus segera dibasuh dengan air mengalir agar menyingkirkan molekul gas yang menempel pada mukosa (Lapisan kulit tipis) mata.

Bila terjadi iritasi meski sudah tertangani, korban harus segera dibawa ke dokter guna diberi obat khusus untuk mata, biasanya berupa obat anti radang.

Awam Soal Alat Pelindung Diri

Sedang untuk penanganan saluran pernapasan, korban harus mencegahnya dengan penggunaan masker jenis khusus. Hampir rata-rata masyarakat kita menggunaan masker jenis biasa yang digunakan untuk menghindari paparan asap maupun gas, seperti Surgical Mask (Masker tali berwarna hijau/biru) hal ini tentu adalah salah besar.

Penggunaan masker wajah yang tepat untuk mampu menangkal paparan gas dan asap seharusnya adalah jenis masker respirator. Hanya saja harganya tak semurah Surgical mask, olehnya banyak masyarakat atau aparat penegak hukum memilih opsi masker selalu berdasarkan harga bukan soal fungsinya.

(1) Masker biasa / bedah (Surgical mask), (2) Masker N95, (3) Masker Respirator

Tak ada yang benar, semua patut disalahkan

Kepolisian harus memikirkan penggunaan Lakrimator terlebih pada kawasan sarat pemukiman warga, setidaknya Water Canon yang harus dipikirkan yang minim akan cederanya fisik secara fisiologis.

Menurut penulis, pecahnya bentrokan antara kedua pihak sangat disayangkan. pihak mahasiswa dinilai teledor dengan tidak menganalisis segala sesuatunya berdasarkan analisis SWOT.

Mahasiswa gagal menganalisis kekuatan (Strengths), menyadari kelemahan (Weaknesess), dan memperhitungkan peluang (Oppurtinities) serta menyadari ancaman (Threats) yang terjadi melibatkan warga. Gagalnya audiensi mahasiswa dan kepolisian prosedur pembubaran massa diberlakukan. Akibatnya warga harus jadi korban.

Kita benar soal kebebasan berpendapat dan hak berdemonstrasi mengatasnamakan rakyat, namun apakah tidak bijak kita memikirkan keselamatan rakyat akibat dampak kericuhan yang diperbuat ?

Kepolisian juga gagal memperhitungkan analisis kelemahan (Weaknesess) secara geo-konflik dengan memilih opsi prosedural penggunaan Lakrimator yang seharusnya tidak merugikan warga sekitar, apalagi kita tahu bahwa prosedur itu dilakukan dikala massa tak dapat lagi dikendalikan dengan berbagai opsi pengamanan (Penangkapan), dan penggunaan alat minim kontaminasi seperti Water canon.

Polusi Lakrimator yang ditembak oleh pihak Kepolisian yang mencemari jalanan, kampus hingga merembes ke pemukiman warga di kelurahan Akehuda, Jalan Batu Angus, Senin, 19 November 2018.

Saya ingat, kala Anti menirukan ungkapan ibu mertuanya (Ny. Misna) yang dengan berani menghadang dan mengecam pihak kepolisian saat mereka kembali bersiap menembak Lakrimasi, “Ngoni tra kas barenti tembakan ini, kita pe cucu di dara kalo ada apa-apa ngoni tanggung jawab !!!”. (*)

PENULIS

Fatir Natsir – (Kru redaksi)

Baca Lainnya