PERSPEKTIF

Rabu, 7 November 2018 - 15:14

1 bulan yang lalu

logo

Ironi Proyek Kebahagiaan

Menebang pohon untuk kayunya berarti menghentikan penggunaan hasil-hasil lain dari pohon tersebut..” – James J. Fox, 1977

Di suatu sore yang mendung, saya mendengarkan cerita dari seorang kerabat yang bekerja di sebuah negara kepulauan di Pasifik, isi ceritanya hanya tentang laut, pulau dan pantai. Ia kesal karena tiap hari yang dilihatnya hanya itu-itu saja, tentu saja seorang turis yang berasal dari tengah daratan sebuah benua akan protes jika mendengar kekesalan ini.

Eh, sudah lahir di daerah pulau, ini merantau malah di pulau-pulau juga.. di Halmahera, di Ternate, tiap hari saya melihat pemandangan seperti ini.” Keluhnya sambil menarik napas panjang di ujung telepon.

Saya butuh sesuatu yang baru..” tegasnya.

Sebagai manusia, merupakan hal yang wajar jika kita selalu menginginkan sesuatu yang baru, yang benar-benar berbeda dari yang senantiasa hadir dan menjadi keseharian kita. Keinginan terhadap sesuatu yang baru adalah kulminasi dari perasaan bosan terhadap sesuatu yang dalam rentang waktu tertentu mendapatkan ukuran statis dalam pikiran kita, meski secara katagoris belum tentu demikian.

Kebosanan mungkin adalah perasaan yang menggerakkan umat manusia untuk menuju next step, to get dan to do something new, entah sebagai efek kupu-kupu (butterfly effect) ataukah implikasi-implikasi partikular. Yang pasti secara kolektif, perasaan inilah yang menggerakkan peradaban umat manusia dari kemarin, saat ini hingga esok nanti. Walaupun konsekuensi meninggalkan hari ini untuk menuju hari esok adalah kita tidak tahu masalah-masalah apa yang akan kita hadapi di esok hari.

Proyek Kebahagiaan

Membuka tulisan ini saya mengutip pernyataan James J. Fox dalam bukunya Harvest of the Palm, meski pernyataan dalam buku tersebut tidak bersangkut-paut dengan tulisan saya, namun bagi saya pernyataan tersebut memiliki makna filosofis yang dalam untuk banyak aspek yang bisa kita sandingkan. Sebuah pohon yang ditebang akan mengakhiri riwayat kehidupan bukan hanya untuk pohon tersebut tetapi juga untuk banyak hal, berakhirnya keteduhan, berakhirnya relasi tumbuh-kembang dengan tanaman sekitarnya, berakhirnya proses buah-membuahi dan lain sebagainya. Pohon sebagaimana banyak hal yang substansi di kehidupan adalah gambaran praksis dari kehidupan itu sendiri. Berakhirnya kehidupan sesuatu adalah sebagaimana berakhirnya ‘perjalanan’ pohon ketika ditebang.

Pada zaman dahulu, peradaban manusia dibangun melalui semangat eksplorasi, pergeseran dari zaman ke zaman menyisakan kisah-kisah heroik yang dikenang sepanjang masa. Dimulai ketika manusia menemukan api hingga mampu menaklukan angkasa, sudah tak terhitung berapa banyak pencapaian spesies ini. Kita menyaksikan bagaimana manusia menjelajahi kehidupan dengan hal-hal baru, mengubah sejarahnya, dari ekspedisi kesasar Cristopher Columbus ke benua Amerika hingga Antonio de Abreau dan Francisco Serrao mendarat di kepulauan Maluku, dari perang Troya hingga Malvinas, dari keruntuhan Byzantium hingga musnahnya bangsa Maya, dari revolusi Prancis hingga Arabic Spring, pergantian era manusia ditandai dengan pelajaran-pelajaran baru sebagai bagian dari evolusi secara konservatif maupun cut break sebagai bagian fundamental proses yang revolusionistik.

Belakangan dunia kita memasuki era revolusi industri 4.0, sebuah era di mana semua infrastruktur dan suprastruktur manusia dibangun dengan kecerdasan tingkat tinggi yang dikendalikan oleh (mungkin) kecerdasan buatan (artificial intelligence), kita pada dasarnya telah memulai untuk melompati waktu dengan jarak yang signifikan lebih jauh kedepan. Dunia yang oleh Noah Harari (2015: 33) disebut tengah mengejar proyek besar kedua peradabannya, yakni upaya untuk menemukan kunci kebahagiaan dengan merancang imortalitas virtual. Sayangnya, di sisi yang lain, semangat umat manusia tidak diimbangi dengan rasa tanggungjawab yang cukup untuk menjamin ‘imortalitas’ kehidupan itu sendiri, inilah yang digambarkan Jared Diamond (2014: 636) sebagai penghancuran habitat.

Perkembangan teknologi secara pesat memang keniscayaan yang terus dan akan terjadi, di sisi yang lain, konsumsi energi untuk menopang dinamika tersebut semakin besar, sumber-sumber energi yang ada di kehidupan dikuras untuk menjamin kebutuhan tersebut. Lalu apa yang hendak dibanggakan dari pencapaian-pencapaian menjelang era industri 4.0 tersebut? Semakin banyak pilihan games virtual di gadget, integrasi dunia ke dalam suatu ruang tunggal ataukah hanya sebatas euforia dari menggeliatnya kapitalisme lanjut dengan teknologi-teknologi mutakhir sebagai produk unggulan?. Ironis memang, karena pada dasarnya, sebelum menemukan kunci untuk keluar dari problematika-problematika lingkungan yang mendera Homo Sapiens di era kontemporer ini, maka penemuan demi penemuan baru tak lebih hanyalah ‘kayu-kayu’ yang hendak diambil dari ‘pohon’ yang ditebang. Kita mendapatkan sesuatu yang baru, tetapi di saat yang sama kita kehilangan lebih banyak hal-hal lain yang selama ini menopang keberlangsungan kita yang mana seharusnya lebih kita butuhkan.

Apa esensi dari semua hal ini? Tentu saja terletak pada paradigma dasar eksplorasi manusia terhadap lingkungannya. Kebosanan, keinginan untuk melangkah, hasrat untuk sesuatu yang baru, dan kehendak merubah statisme domestik adalah bercuil-cuil faktor yang mendorong manusia merotasi pencapaiannya untuk terus lebih baik, ‘menjadi terus bahagia’ dengan pencapaian-pencapaian baru. Meski bisa jadi yang didapatkan justru sebaliknya. Konsekuensi itu dikesampingkan karena proyeksi utamanya adalah ‘kebahagiaan’ terhadap pencapaian-pencapaian tersebut.

Friksi Abad 21

Konsep apa yang diusung umat manusia di abad kontemporer? Eksplorasi bumi tahap lanjut ataukah berhenti di bumi dan melanjutkannya di luar angkasa?. Entahlah, jawaban atas pertanyaan ini masih belum konsisten. Sebagai fakta, ‘proyek diplomasi’ manusia dengan alien di luar angkasa yang dikirim ke entah penjuru alam semesta pada tahun 1977 melalui piringan emas pesawat penjelajah antariksa Voyager, sampai saat ini belum mendapatkan ‘balasan’ dari alien. Sembari itu, manusia belum sepenuhnya menemukan jawaban kenapa spesies ini diciptakan, apakah hanya untuk diseleksi, bertahan ataukah terus-menerus berjalan di penjuru semesta untuk mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa sesuatu itu.

Dinamika kemanusiaan di bumi terus berjalan, perang di mana-mana masih terjadi, mulai dari konvensional hingga asimetris, skala besar hingga kecil, terjadi tiap waktu. Di sisi yang lain, seorang anak dari negara Afrika yang kelaparan sedang memegang makanan bantuan internasional berdiri menatap kekosongan di samping tenda berlogo PBB, sementara di belahan dunia yang lain seorang ilmuwan dengan teliti di ruangan laboratorium menuangkan beberapa cairan virus yang ‘mungkin’ nanti diujicobakan di tempat si anak kecil Afrika tadi berada. Itulah gambaran kecil dari dunia kita saat ini, apa yang ditulis oleh Noah Harari dalam 21 Lessons in 21th Century adalah fakta-fakta yang sesungguhnya menarik untuk direnungkan, pikiran kita sesungguhnya teralihkan terlalu banyak pada isu-isu terorisme dan perang yang sesungguhnya dikonstruksi oleh perebutan hegemoni terhadap sumberdaya-sumberdaya yang tersisa.

Muara dari semua hal tersebut adalah untuk menjamin pencapaian-pencapaian yang umumnya menjadi domain eksklusif negara dunia pertama. Lalu negara-negara di dunia ketiga diprovokasi untuk seakan-akan terlibat dalam proyek-proyek besar tersebut dan melupakan bahwa mereka sesungguhnya masih tertinggal paling tidak tiga abad dalam hal penguasaan terhadap energi apapun di lingkungannya, alih-alih menyetarakan, gap tersebut memang sengaja untuk dijaga. Maka semangat-semangat besar umat manusia seperti misalnya revolusi industri 4.0 atau yang mirip, dalam perspektif ini tak lebih hanyalah proyek membahagiakan manusia di dunia ketiga yang adalah sebagai ‘penikmat’, lebih jauh harus diakui bahwa ketertinggalan dalam banyak aspek sebenarnya semakin diperlebar dalam dinamika ini.

Ironisnya, kita terus merawat kondisi ini berlangsung hingga entah kapan. Mencabut nilai dan adab yang harusnya dipertahankan demi ‘terlibat’ secara pasif dalam gerak perubahan yang hanya diinisiasi oleh barat. Pada tahap selanjutnya, kita meniru barat dengan memusnahkan apa yang seharusnya kita butuhkan demi sesuatu yang kita tidak tahu apakah substansi di dalam kehidupan kita. Implikasinya, sebagai umat manusia kita memang telah mencapai banyak hal, tetapi sebagai bangsa-bangsa tertentu, kita sebenarnya tidak mencapai apa-apa.

Referensi:

  • Diamond, Jared. 2014. Collapse, Runtuhnya Peradaban-Peradaban Dunia. Terjemahan oleh Tyas Wulandari. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Fox, James J. 1977. Harvest of The Palm. Massasuchetts: Harvard University Press.
  • Harari, Yuval Noah. 2015. Homo Deus, A Brief History of Tomorrow. Terjemahan oleh Yanto Musthofa. Jakarta: Alvabet.

Penulis:

Muhammad Guntur

(Redaktur Jalamalut.com)

Baca Lainnya