JEJAK

Minggu, 28 April 2019 - 21:37

4 minggu yang lalu

logo

Ilustrasi menulis/Foto: Faris Bobero

Indonesia O’Galelano, Penyair Halmahera yang Tak Pernah Mati

Banyak yang tak mengenal dan mengingat lagi penyair itu. Indonesia O’Galelano, namanya. Sebagian penyair, bahkan ada yang mengaku belum membaca karya-karyanya. Ia memang telah berpulang sejak lama. Namun, ia tetap ‘hidup’ dalam puisi-puisinya.

Bernama asli Muhammad Idrus Djoge, penyair Halmahera itu, telah menulis banyak puisi di zamannya. Sebagai penyair angkatan 66, karya-karyanya memang sulit dijumpai saat ini.

Penyair Maluku, Rudi Fofid, saat dihubungi Jalamalut, Minggu (28/4), bilang, Indonesia O’Galelano atau Idrus Djoge, tidak pernah menerbitkan buku puisi, sebab seluruh karyanya hanya dituangkan melalui surat kabar.

“Mungkin tidak pernah terbitkan buku, sebab seluruh esai puisi dan karya jurnalistik dicurahkan di koran,” kata Opa Rudi, panggilan akrab penyair yang pada 2016 lalu, meraih Maarif Award.

Kendati begitu, diakui Opa Rudi, puisi-puisinya bisa dijumpai di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B Jassin. Ringkasan karyanya ada di buku H.B Jassin, Edisi II Angkatan 66.

Indonesia O’Galelano memang seorang wartawan di Surat Kabar Pelita. Salah satu surat kabar yang mengusung konsep serupa media Republika hari ini. “Beliau sangat Islami, sangat Maluku, sangat Indonesia,” ujarnya.

Informasi penyair kelahiran Galela itu diakui sangat sulit ditemui. Tidak banyak yang menulis rekam jejaknya. Cerita-cerita mengenainya seringkali hanya dapat didengar dari penuturan para penyair lainnya.

Cerita dan karya-karya hebatnya nyaris tenggelam bersama minimnya kepedulian pemerintah daerah terhadap dunia sastra. Penyair seperti Indonesia O’Galelano mestinya mendapat tempat dalam sejarah kesusastraan Indonesia Timur, khususnya Maluku dan Maluku Utara.

“Pemerintah Maluku tidak cukup peduli, tidak cukup nyali, untuk perjuangkan hal-hal begini,” ucap wartawan senior itu yang kini menetap di Ambon, Maluku.

Meski begitu sebagian karya-karyanya dapat dibaca melalui mesin pencari Google. Beberapa media menyajikan puisi-puisinya secara gratis. Berikut salah satu puisi Indonesia O’Galelano diambil dari puisi.web.id, yang kerap dibaca oleh penyair-penyair Maluku maupun Maluku Utara.

Epos Laut

busa dan buih putih
menuntun gulungan ombak
mengendap pasir putih pantai
busa dan buih putih
menuntun lelaki pelaut
pulang dari kemenangan di laut

arus memelatuki
perahu canga di datar lautan
tak perduli armada kompeni
tak perduli meriam portugis
kami anak laut, mati di laut
kalau kami mau, perahu kami
berayar laju bagai setan
berayar laju bagai datuk laut
melintas limapuluh sentimeter atas laut
tau?

kapita ’kan ucapkan mentera perang
bismillah
kukunci hatimu
kuhempaskan pikiranmu
bagai mendidihnya air
lenyap tanpa gemercik
bismillah
kabal jadi palias
palias jadi besi
besi jadi wajah
pelurumu jadi air. Jadi lumpur
bismillah

dan nakoda alfonso dicincang
laut menerkam potongan dagingnya
dan kontroleur van den berg tercampak
pada ribuan kilauan sumarang 3)

canga metayap terus
bertebar terus
ke timur menuju papua
ke barat ke pulau banggai
ke utara, ke teluk tomini dan sangihe “
dan atas layar yang dibiriti mentera
mindanao dan sabah rebah tunduk
atas titah sultan hairun 4)

kapitan laut tegak di lambung korakora
jurumudi pada kemudi, kukuh
,tancap kemudi. Membelah laut
ya, tuhan
demi gamalama 5) yang menegaki laut
demi dukono 6) yang mengasapi halmahera
demi laut halmahera, anaklaut pasifik
tumpah bangkitkan angin buritanmu
kepulkan asap, perdengarkan letusanmu
gelapkan dirirnu, perbesar gulungan ombakmu
alirkan arusmu kencang—kencang di seluruh tanjungan
dan telanlah habis armada musuh t
portugis yang membentengi kota keraj-aan
belanda yang menebang habis palacengkeh
hai, cahaya, watui ech 7)
maju sembelih semua musuh
sonder darahnya
itulah laki-laki

pelurumu ’kan meleleh. di tubuh kami
karena asap, ombak dan angin kami
adalah mitos kebenaran
ini bumi kami
jangan coba—coba lagi tebang palacengkeh
datu moyang ’kan murka
dan kami ’kan bangkit

3) Sumarang = pedang yang digunakan Untuk perteputan-pertepuran.
4) sultan Hairun = sultan terkenal dari kesultanan Ternate abad 15.
5) Gamalama = gunung di pulau Temate.
6) Dukono = gunung api di Halmahera.
7) watui ech = pekik peperangan

Penulis: Rajif Duchlun/Kru Jalamalut

Baca Lainnya