PERSPEKTIF

Kamis, 6 Desember 2018 - 09:12

1 minggu yang lalu

logo

Huhate, Wajah Nelayan di Negeri Rempah

TIDAK banyak yang tahu apa itu alat tangkap huhate. Huhate atau dikenal juga dengan alat tangkap pole and line ini dioperasikan atau digunakan para nelayan untuk menyasar ikan pelagis besar, seperti cakalang (katsuwonus pelamis). Dandhy Dwi Laksono bersama Suparta Arz, melalui Ekspedisi Indonesia Biru, pada 2017, pernah membuat video dokumenter mengenai alat tangkap tersebut.

Video dokumenter berjudul Huhate itu berlatar Maluku Utara, yang sebagian besar frame diambil di Tomalou, Tidore Kepulauan. Dandhy yang juga seorang jurnalis, merekam kegiatan penangkapan nelayan Tomalou itu dengan sangat apik. Video berdurasi 37 menit tersebut diawali dengan latar perairan Mimika, Papua.

Setelah itu, latar berikut adalah perairan Merauke dan Maluku. Awal video ini menunjukkan bahwa alat tangkap huhate, memang umumnya digunakan di kawasan timur Indonesia. Alat tangkap huhate sendiri berupa joran atau tangkai. Selain terdiri dari joran, juga terdapat nylon dan mata pancing. Joran yang dipakai terbuat dari bambu, sedangkan mata pancing untuk alat tangkap huhate biasanya menggunakan dua jenis mata pancing, yakni mata pancing berkait dan tanpa kait. Untuk mata pancing tanpa kait biasanya dibuat oleh nelayan sendiri.

Video dokumenter tersebut mengisahkan nelayan huhate yang bertahan hidup di tengah masalah yang kerap melilitnya. Diceritakan, sebelum naiknya harga BBM sekiranya pada 2004-2005, terdapat lebih dari 100 kapal, milik 56 majikan di Tomalou. Namun, setelah solar naik, hanya tersisa 6 kapal, milik 4 majikan. Kebanyakan dari mereka, menjual kapal tangkap dan diganti angkutan umum.

Fenomena itu membuat ratusan nelayan beralih profesi. Meski begitu, angin segar sempat dirasakan nelayan Indonesia. Pada 2014 pemerintah membagikan 1000 kapal ‘Inka Mina’ untuk nelayan di seluruh Indonesia, termasuk untuk nelayan Tomalou. Tapi persoalan tidak berhenti begitu saja.

Salah satu potongan video dokumenter ‘Huhate’, saat pemilik kapal, Yusuf, diwawancarai oleh tim Ekspedisi Indonesia Biru

Salah satu pemilik kapal tangkap Tomalou, Yusuf, kepada tim Ekspedisi Indonesia Biru, menceritakan, berkurangnya kapal tangkap di Tomalou dari tahun ke tahun disebabkan adanya konflik daerah penangkapan (fishing ground) dengan nelayan dari negara lain. “Karena rumpon-rumpon mereka (kapal asing) itu ada di luar (areal tangkapan nelayan lokal). Seperti ada polantas. Ikan dipagari di sana,” jelasnya.

Rumpon-rumpon dari kapal asing itu, lanjut Yusuf, seperti dipasang ‘pembatas’ sehingga nelayan lokal kesulitan mendapatkan ikan dalam jumlah yang banyak. Menurutnya, tindakan seperti itu membuat ikan sulit berimigrasi ke daerah penangkapan nelayan lokal. Selain itu, diceritakan, penyebab lainnya adalah naiknya harga solar, sekiranya 10 tahun lalu, sehingga banyak nelayan di Tomalou mengalami kerugian.

Meski kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti terbilang keras terhadap maraknya kapal-kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia, menurut Yusuf, tindakan itu tidak membuat kapal-kapal asing merasa terusik. Bahkan, diakuinya, mereka sering bertemu kapal-kapal asing di perairan Maluku Utara. “Walaupun sudah dibakar-bakar masih ada juga, karena kita selalu ketemu mereka terus,” katanya.

Konflik Itu Masih Ada

Akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Pasifik (Unipas) Morotai, Supriono, saat dihubungi Jalamalut melalui aplikasi pesan singkat, pada Rabu 5 Desember 2018, menjelaskan bahwa, nasib nelayan alat tangkap huhate, dari tahun ke tahun masih tetap sama. Hanya saja, menurutnya, terkait konflik dengan nelayan asing itu sudah mulai berkurang. “Kapal asing sudah jarang dijumpai oleh nelayan, ya kalaupun masih ada, itu sudah tidak seperti dulu,” katanya.

Persoalan yang sering dihadapi nelayan huhate di daerah penangkapan, menurutnya, lebih pada konflik sesama nelayan lokal. Nelayan-nelayan huhate sering mengeluhkan nelayan-nelayan yang menggunakan jaring pukat (purse seine) di daerah rumpon. Cara operasi alat tangkap berupa jaring pukat yang juga menyasar ikan pelagis membuat sesama nelayan masih sering berkonflik.

Salah satu potongan video dokumenter ‘Huhate’, saat seorang nelayan asal Tomalou sedang menguji/mencoba alat tangkapnya

Sementara itu, harus diakui bahwa, kuantitas nelayan huhate di Maluku Utara sudah tidak seperti dulu. Banyaknya nelayan huhate yang sudah beralih profesi tidak hanya terjadi di Tomalou. Dijelaskan, bahwa untuk daerah Morotai sendiri, nelayan huhate hanya terdapat di beberapa desa saja, seperti Desa Tilei dan Usbar. Sebagian besar nelayan di Morotai adalah nelayan tuna (thunnus), yang menggunakan alat tangkap pancing ulur (hand line).

Selain itu, menurutnya, meski masih sering terjadi konflik sesama nelayan di daerah penangkapan, baik itu mengenai penggunaan alat tangkap maupun dominasi wilayah rumpon, tetap saja dapat diselesaikan sesama nelayan. “Sesama nelayan lokal, komunikasinya masih bagus untuk penyelesaian konflik. Sampai saat ini saya belum mendengar sampai saling pukul, ya paling hanya dengan suara keras,” jelasnya.

Masalah nelayan huhate serta nelayan alat tangkap lainnya di negeri rempah-rempah ini, memang diakui masih terus dihantui dua hal, yakni konflik sesama nelayan, baik nelayan lokal maupun nelayan asing, dan persoalan harga BBM, yang tentu sangat memengaruhi aktivitas pelayaran serta penangkapan.

 

Penulis: Rajif Duchlun (Kru Jalamalut)

Baca Lainnya