JEJAK

Kamis, 3 Januari 2019 - 19:53

4 bulan yang lalu

logo

Heras Siliba, sosok pejuang literasi di rimba Halmahera, Loloda | Foto: Ipang Mahardika/Jalamalut

Guru Literasi di Rimba Halmahera

Sorot matanya masih tajam. Rambutnya memang sudah memutih. Heras Siliba (65), namanya. Saat disambangi Jalamalut, ia sedang berdiri di selasar rumah. Tepat di pinggir sungai, rumah panggung miliknya berdiri gagah. Di sisinya dibangun rumah baca kecil. Berada tak jauh dari bantaran sungai, dan dikelilingi rimba pepohonan yang asri, membuat pemandangan rumah baca itu semakin menarik perhatian.

Motoris yang membawa kami perlahan memelankan mesin kala tiba di pedalaman Desa Salu, Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, pada Kamis, 13 Desember 2018. Saat hendak menambatkan perahu, sontak kami tertegun. Sebuah rumah baca kecil tepat di pinggir sungai. Buku-buku berderet di rak kecil yang dibuat dari kayu.

Meski sudah usia lanjut, Heras masih tampak tegap. Ia turun dari rumah panggungnya dan mengajak kami ke permukiman warga. Selain berbagi cerita mengenai kondisi sosial desa, ia pun begitu bersemangat menceritakan soal kesukaannya membaca serta mengoleksi buku. “Bagi saya, membaca itu kebutuhan dan membuka wawasan kita,” ujar Heras.

Tepat di selasar kantor desa kami berbincang. Ia mengaku sudah sejak lama membuat rumah baca di sisi rumahnya. Kecintaannya pada dunia pendidikan saat ia masih remaja. Ia senang membaca karya-karya mengenai Sukarno dan Soeharto. Presiden pertama dan kedua itu memang sangat dikaguminya. “Saya memang suka membaca dari dulu, apalagi tulisan mengenai Sukarno dan Soeharto,” katanya.

Diceritakan Heras, setiap hari ia selalu punya kesempatan untuk membaca buku. Kebiasaannya itu juga ia tularkan ke anak dan cucu-cucunya. Rumah baca itu, diakuinya, memang sengaja dibuat dekat rumahnya, supaya cucu-cucunya bisa lebih akrab dengan buku-buku. “Ya, kalau mau tidur pasti sempatkan baca buku dulu. Saya ingin anak dan cucu bisa ikut jejak saya,” tuturnya.

Heras, selain suka mengoleksi buku bacaan, ia juga senang menulis. Foto: Ipang Mahardika/Jalamalut

Selain kebiasaannya membaca serta mengoleksi buku, ia juga senang menulis. Heras mengaku pernah menulis autobiografi. Riwayat pribadi yang ditulisnya sendiri itu bahkan sudah dibuat seperti buku. “Ada kata pengantar dan pendahuluan juga dalam autobiografi saya,” ujarnya.

Heras setiap kali ke Ternate, selalu berburu buku di sejumlah toko buku. Buku-buku itu dibelinya menggunakan uang pribadi, dan diakuinya selama membangun rumah baca, belum pernah ada bantuan dari pihak manapun, baik berupa uang maupun buku bacaan. Awalnya, rumah baca itu memang untuk dirinya sendiri.

Berburu buku di Ternate bukan pekerjaan mudah. Berada di pedalaman Loloda, ia harus beberapa kali naik transportasi laut untuk bisa sampai di Ternate; melewati bantaran sungai dengan perahu bermesin ke Pelabuhan Kedi, dan dari pelabuhan inilah, ia naik kapal kayu ke Ternate. Dari Pelabuhan Kedi, biasanya perjalanan laut itu ditempuh tujuh jam. Kadang, Heras juga naik speedboat atau perahu bermesin ke Pelabuhan Kecamatan Ibu, lalu diteruskan dengan perjalanan darat ke Kecamatan Jailolo. Setelah itu, dari pelabuhan Jailolo, menyeberang lagi ke Ternate.

Buku-buku yang dibelinya merupakan buku-buku yang sudah tidak ditaruh di rak toko buku lagi. Ia mengaku, membeli buku-buku tua atau yang sudah tidak dipajang, supaya harganya terjangkau dan dapat dalam jumlah yang banyak. “Kalau ke Ternate saya cari buku-buku yang so (sudah) tidak dipajang, yang dorang (mereka) taruh di dalam gudang, supaya murah dan bisa beli dalam jumlah banyak,” jelasnya.

Heras begitu bersemangat menceritakan kesukaannya membaca dan mengoleksi buku kepada Kru Jalamalut. Foto: Ipang Mahardika/Jalamalut

Jenis buku yang sering diincarnya adalah buku cerita dan agama. Namun, bukan tidak mungkin, buku-buku genre lain juga dibelinya ketika sudah dijual dengan harga murah. Mantan Kepala Sekolah SD Desa Salu itu juga berharap, rumah baca yang dibuatnya itu bisa mendapat bantuan buku bacaan dari sejumlah pihak.

Meski rumah baca itu tampak kecil, Heras berkeinginan, kedepannya bisa menyediakan buku dalam jumlah yang banyak, supaya pemuda serta anak-anak di sekitarnya bisa akrab dengan dunia literasi. “Tentu ingin sekali rumah baca ini bisa bermanfaat untuk anak-anak di sini,” harapnya.

Saat ini, ia tinggal bersama istri. Anak-anaknya sudah menikah. Ada yang mengikuti jejaknya; menjadi guru. Dalam perbincangan itu, Heras memang beberapa kali selalu mengulang kalimat yang pernah didengar dulu dari gurunya. Kalimat itu, diakuinya sebagai inspirasi untuk terus mencintai literasi. “Dulu, torang (kami) punya guru pernah bilang, buku adalah gudang ilmu pengetahuan, dan membaca adalah kuncinya,” katanya, dengan nada pelan. Gaya berbicaranya memang terdengar lirih. (*)

 

Penulis: Rajif Duchlun/Kru Jalamalut

Baca Lainnya