Cerpen

Selasa, 27 November 2018 - 08:43

3 minggu yang lalu

logo

Gua Ayah

Tidak ada yang menyangka, gua di sisi pegunungan itu akan diliput para wartawan. Sudah sejak pagi, orang-orang datang dan pergi hanya untuk melihat gua itu. Beberapa dari mereka mewawancarai kepala desa, beberapanya lagi tampak sibuk mendokumentasikan gua itu.

Sebelumnya, desa ini aman-aman saja. Seperti desa-desa lainnya, orang-orang akan sibuk dengan segala rutinitasnya; ke kebun, menarik perahu untuk melaut, anak-anak yang berjalan ke sekolah dengan jarak yang sangat jauh (di desa ini mereka harus melewati sungai untuk sampai ke sekolah), dan ibu-ibu yang menjajakan ikan segar dari rumah ke rumah.

Namun, perlahan gunjingan dan cerita-cerita aneh mulai terdengar. Aku pernah mendengarnya kala pagi di sebuah dermaga pendaratan ikan. Ketika fajar merekah, ibu memang sering meminta aku membeli ikan segar di dermaga saat nelayan-nelayan dari pulau seberang baru saja kembali dari laut.

Di dermaga, sesama pembeli sering bercerita. Akhir-akhir ini anak-anak mereka, anak-anak dari para pembeli itu sering melihat laki-laki tua berjalan sendirian menjelang magrib. Belakangan, barulah aku tahu, laki-laki tua yang mereka maksud itu adalah ayahku. Seseorang yang tampak peluh, ringkih, dan bila berjalan terlalu jauh, ia sering lupa jalan kembali ke rumah.

Laki-laki tua itu saat ini sedang menjadi bahan cerita warga. Berbeda dengan aktivitas warga di sini, laki-laki tua itu sering ke sisi pegunungan (tempat yang sangat ditakuti warga di sini). Di sisi pegunungan itu, sejak lama dikenal sebagai tempat berkumpulnya para roh gaib. Aku mendengar istilah ‘roh gaib’ dari ibuku. Ibuku bilang ia juga mendengar dari ibunya.

Di sisi pegunungan itu, dulu adalah tempat ritual para pelaut dari pulau seberang. Mereka sering berkumpul di sana dan membawa botol-botol kecil yang berisi air mineral. Orang-orang itu selalu bermalam di sana, dan sampai pagi tiba, mereka kembali ke rumah membawa botol-botol itu.Air mineral dalam botol-botol itu akan dipakai untuk pengobatan dan sisanya disiram di burit kapal. Kala kecil, aku mendengar air tersebut memang untuk melancarkan rezeki.

Ayahku itu memang mulai bertingkah aneh. Di desa ini, waktu magrib sangat dilarang untuk keluar rumah. Tapi tidak dengan ayahku. Ia suka berjalan ke sisi pegunungan membawa rantang makanan dan sehelai kain yang digantung di bahunya saat orang-orang sedang sembahyang magrib di surau.

“Laki-laki tua itu semakin tidak punya adab,” ketus seorang ibu sembari sibuk mengangkat ikan-ikan segar serta memasukkannya ke ember kecil.

Bau anyir ikan beterbangan. Aku bergegas membeli ikan pesanan ibuku. Seorang nelayan dengan sigap memasukkan beberapa ikan yang kubeli dalam sebuah kantong plastik. Aku pikir hanya di dermaga gunjingan serta cerita-cerita tentang laki-laki tua itu.

Ketika di sekolah, aku juga mendengar guru-guru menertawakan ayahku. Saat di pantai, aku mendengar teman-teman membual, menceritakan tingkah aneh ayahku. Pernah, pada suatu acara khitanan keluarga, aku juga mendengar orang-orang masih terus membicarakannya. Bualan dan gunjingan-gunjingan mereka bagai api. Membakar perasaanku.

“Sebenarnya ada apa dengan ayah?” tanyaku saat ibu sedang sibuk meniup kepulan asap tungku.

Aku tidak mendengar jawaban. Barangkali ibu sedang tidak ingin berbicara.

Padahal, kala sore seperti ini, di dapur selalu ada ayah. Sudah setahun ini, tingkah ayah agak pendiam. Kalau kupandang wajahnya, ia lebih banyak tersenyum. Dan kata ibu, kalau ayah sudah begitu, sebaiknya tidak usah diajak berbicara.

***

Di desa ini, orang-orang mengenal ayahku sebagai seorang mantan pejabat. Ia pernah menjadi kepala desa selama delapan tahun. Itulah yang membuat warga merasa aneh saat tahu bahwa akhir-akhir ini sikap ayah sudah berubah. Kebiasaannya pergi ke sisi pegunungan menjelang magrib membuat warga semakin merasa penasaran.

“Aku ingat dulu dia sendiri yang larang-larang kita ke sana,” kata seorang tokoh pemuda di sebuah acara desa.

“Bagaimana kalau kita cek?” timpal seseorang.

“Cek apa?”

“Cek aktivitas laki-laki tua itu.”

Mereka merasa ini ide bagus. Ajakan itu kemudian sampai ke telinga kepala desa dan para tokoh di sini. Semua setuju. Ibu-ibu mengangguk dan bersikeras untuk ikut ke sisi pegunungan. Perjalanan ke sana memang cukup lumayan jauh. Harus melewati belantara sungai yang membelah desa kami dengan hutan besar.

Di tempat yang biasa dikunjungi laki-laki tua itu memang berada tidak jauh dari hutan besar. Tapi tidak apa-apa. Di sana juga sudah ada beberapa pekerja. Aku mendengar, mereka sedang memotong pohon-pohon. Ibu bilang anak laki-laki harus bisa bekerja di sana. Aku belum mengerti, apakah nanti aku juga akan bekerja memotong pohon-pohon besar itu.

Seperti biasa, tatkala menjelang magrib, kami semua berkemas. Menyiapkan makanan dan barang-barang yang perlu dibawa. Banyak yang tidak sembahyang. Di surau hanya seorang imam tua yang ringkih. Dia baru saja azan, dan kulihat dia sendiri yang sembahyang.

Sejak pagi aku sudah tidak melihat laki-laki tua itu. Sepertinya ia sudah di sisi pegunungan. Kami mulai berjalan, menyusuri rimbun semak-semak, sembari membawa obor-obor, terus berjalan ke arah pegunungan. Melewati arus sungai yang deras, dan seorang pemuda berbadan kekar berjalan sendirian di tengah sungai, menarik tali ke sebelah tepian sungai dan mengikatnya di sebuah pohon besar. Sambil memegang tali itu, kami melewatinya dengan hati-hati.

Sesampainya di sisi pegunungan, kami tak melihat apa-apa. Kulihat mata ibu bagai sorot lampu. Sementara orang-orang saling berbisik dan bualan-bualan mereka masih terus terdengar. Ibu melabuhkan pandangannya ke arah gua, sebuah lubang besar yang berada tepat di kaki gunung. Suara-suara aneh memang terdengar dari gua itu.

“Apa kalian semua tuli?” tanya ibu saat orang-orang masih tampak sibuk mengarahkan nyala obor mereka ke rimba pepohonan.

Salah satu dari mereka menjawab bahwa dirinya juga mendengar suara aneh dari gua tersebut. Orang-orang bersigap dan kulihat wajah mereka tampak tegang. Aku berlari ke arah ibu. Memeluk tubuhnya yang ringkih. Sekitar empat orang menuruni lereng gunung, menuju mulut gua. Aku melihat salah satu dari mereka masuk sembari menyibak semak-semak yang tumbuh di sekitar gua.

“Laki-laki tua itu!” teriak seseorang dari mereka sembari menggoyang-goyang obor ke arah kami sebagai tanda mereka menemukan seseorang.

Kami menuruni lereng itu dengan sigap, beberapa di antaranya sempat terjatuh, terguling-guling. Aku menuju ke mulut gua dan kuarahkan nyala obor ke dalam gua. Orang-orang berdempetan, berdesak-desakan, berusaha masuk.

“Ayah?”

Kami terbelalak.

Kecurigaan orang-orang sudah tepat. Laki-laki tua itu memang sering ke sini dan sungguh tampaknya dirinya terlalu sering ke sini. Aku melihat sebuah kasur lapuk, lemari kayu milik nenek, obor kecil yang terbuat dari bambu hutan, dan sebuah tungku yang dipakai untuk memasak.

“Kamu kenapa di sini?” tanya seorang tetua adat.

“Aku tinggal di sini.”

Jawaban itu membuat kami saling memandang. Aku mendekat ke arah ayah. Laki-laki tua itu duduk bersilang di atas alas yang dibuatnya dari daun kelapa. Ibu hanya berdiri lesuh di mulut gua.

“Kenapa harus tinggal di sini?”

“Ini memang rumahku.”

“Rumah?”

“Iya, rumah.”

Orang-orang sontak memandang ibu. Raut wajah ibu tampak sedih. Laki-laki tua itu kemudian kembali bercerita setelah dicecar banyak pertanyaan oleh beberapa tetua adat. Aku duduk di sebelahnya, sambil terus memandang wajahnya yang keriput dan rambutnya yang sudah memutih.

“Ini gua ayah, Nak. Maksudku rumah ayah, Nak,” kata laki-laki tua itu sembari memandangku dengan tatapannya yang tajam. Aku sempat bergidik, merasa ayah benar-benar aneh.

Laki-laki tua itu bercerita bahwa dirinya sudah tidak pantas lagi tinggal bersama ibu. Sudah setahun, dirinya mengaku kerap merasa kecewa saat berada di rumah. Ibu, menurut ceritanya tidak mencintainya lagi. Saat menceritakan itu, dirinya benar-benar sudah tidak malu—aku menyebutnya tidak tahu malu—seolah-olah semua orang yang ada di dalam gua itu adalah kerabat dekatnya.

“Buat apa tinggal di sebuah tempat bila tak ada cinta di dalamnya,” cetusnya dan memandang mata kami satu per satu. Sangat tajam.

Laki-laki tua itu kemudian berdiri, berjalan terus ke ceruk gua yang terus memanjang ke dalam, seolah-olah jalan itu tanpa ujung. Kami membuntutinya. Ibu tak ikut dan tetap berdiri di mulut gua.

Kami terbelalak. Jantungku berdegup kencang.

“Dia telah bersamaku, mengganti ibumu,” kata laki-laki tua itu, sambil menunjuk seorang perempuan yang duduk bersilang tepat di depan kami.

Air mataku pecah, jatuh berbulir-bulir ke tanah. Suara-suara gunjingan menuju keluar, menuju telinga ibu. Tubuhku lemas dan tentu ibu lebih lemas.

Perempuan yang dikabarkan hilang setahun ini berada di sini. Orang-orang mengira perempuan itu sudah mati. Sehari setelah dikabarkan hilang, para tetua sempat membuat ritual-ritual untuk mencarinya. Tapi berhari-hari, berbulan-bulan, perempuan itu tak kembali. Sampai akhirnya kami menemukannya di sini.

Aku berjalan ke arah ibu dan kuraih tubuhnya yang ringkih. Aku memeluknya dan kucium wajahnya berkali-kali, sungguh berkali-kali. Ibu meraih kepalaku dan berbisik pelan, sangat pelan, seolah-olah tak ingin orang-orang di tempat itu mendengarnya.

“Itu mantan pacar ayah,” kata ibu dan mencium dahiku, sangat lama.

Ternate, September 2018

 

***

Rajif Duchlun, lahir dan dibesarkan di Halmahera Barat, Maluku Utara. Redaktur di Jalamalut dan sering menulis fiksi. Salah satu karyanya, novel Hujan di Tagalaya (2017)

 

 

 

 

 

Baca Lainnya
  • 26 Januari 2018 - 17:42

    BALINDINA