JELAJAH

Senin, 15 April 2019 - 15:26

2 bulan yang lalu

logo

Doa se munajah 911 Tahun Kesultanan Tidore

Hari Jadi Tidore (HJT) ke-911 Jumat, 12 April 2019 tak seperti biasa. Suasana hangat terlihat usai lantunan lagu ‘Doa se munajah’ menggema di pelataran Sonyine Salaka Istana Kesultanan Tidore, Kadato Kie, Limau Timore. Alunan indah musik Tidore diiringi alat musik tradisional Rababu dan Tifa memanjakan telinga di pagi itu.

Upacara HJT baru saja selesai. Seremoni akbar itu selesai Pkl.10.45 WIT. 12 April memang bukanlah hari resmi berdiri Kesultanan Tidore, melainkan Revolusi Tidore yang diajukan Maswin A.Rahman dalam bukunya Mengenal Kesultanan Tidore (2006). Hari dimana Kaicil (Pangeran) Nuku memenangkan dominasi Belanda (VOC) atas Kesultanan Tidore pada tanggal 12 April 1797.

Foto. Sambutan Sultan Tidore Husain Syah

Doa se munajah

Gema suara pun memecah pelataran pasca kelima vokalis itu melantunkan lagu ‘Doa se munajah’. Senyum bahagia terpancar di wajah Sultan Husain kala menyapa tamu yang hadir di Upacara itu.

Sesekali suara Rababu begitu menyayat hati. Seolah mengingatkan kita akan sejarah panjang perjuangan para patriot Kesultanan yang ikut berjuang mempertahankan Kedaulatan Tidore dari kolonialis Eropa kala itu.

Foto. Para Musisi Adat Kesultanan Tidore

Saat sambutan, Sultan tak terlihat seperti biasanya, Sultan seperti tak begitu Fit. Beliau terlihat masih kelelahan sebab baru saja tiba dari Jakarta. Dari Bandara Sultan Baabullah Ternate, beliau memang langsung menuju Tidore.

Meski agak kelelahan, Sultan masih bersemangat memberi sambutan di Upacara ini. Kehadirannya membuat kagum dan haru para tamu undangan, sebab biar bagaimana pun Sultan masih menyempatkan diri hadir di Upacara ini.

Foto. Prosesi foto bersama Sultan bersama para tamu Kesultanan

Tepukan tangan terdengar usai Sultan Husain menutup sambutan hangatnya pagi itu, Sultan Husain pun menyampaikan salam dengan cara mengangkat dan menyatukan kedua tangannya di atas dada, salam ‘Suba’ yang lazim umumnya dilakukan budaya adat di Maluku Utara.

Usai Upacara selesai, Para tamu segera mengambil posisi untuk berpose di orang nomor satu Jazirah Kesultanan Tidore itu. Senyum dan rasa bangga terpencar di bibir para tamu usai Sultan bersedia menerima undangan pose foto singkat itu.

Foto. Prosesi jamuan Oyo Saro bersama para tamu Kesultanan

Dari halaman Kadato kie, Sultan bersama para tamu menuju pendopo belakang Kadato untuk jamuan makan siang. Tampak para penari dan para ksatria Kesultanan ikut beristirahat menyantap makan siang sebelum meninggalkan acara, sebagian lagi masih tetap setia menunggu Sultan bersama para tamu menyantap hidangan ‘Oyo Saro’

Para tamu diiring duduk di meja dan dilayani oleh para pelayan Kesultanan dengan hormatnya. Mereka dihidangkan hidangan Saro yang uniknya hidangan itu dihidangkan secara bervariasi, ada menu Nasi putih, Nasi santan, nasi kuning, Rica isi ikan, Dalampa (Nasi ketan bungkus daun kelapa berisi abon ikan), ketupat, Ikan cakalang rica, terong tumis, acar kuning, kacang ijo dan masih banyak lagi. Tentunya tak beda dengan hidangan khas melayu lazimnya khas umum Nusantara. Uniknya lagi Hidangan itu berformasi ganjil, 3, 5, 9. yang tentu memiliki filosofis pula.

Foto. Para penari dan Ksatria Kesultanan yang sedang rehat pasca Upacara

Para tamu diiring duduk di meja dan dilayani oleh para pelayan Kesultanan dengan hormatnya. Mereka dihidangkan hidangan Saro yang uniknya hidangan itu dibuat dihidangkan bervariasi, ada menu Nasi putih, Nasi santan, nasi kuning, Rica isi ikan, Dalampa (Nasi ketan bungkus daun kelapa berisi abon ikan), ketupat, Ikan cakalang rica, terong tumis, acar kuning, kacang ijo dan masih banyak lagi. Tentunya tak beda dengan hidangan khas melayu lazimnya khas umum Nusantara. Uniknya lagi Hidangan itu berformasi ganjil, 3, 5, 9. yang tentu memiliki filosofis pula.

Foto. Pengantaran Paji (Bendera) Buldan Kesultanan Tidore ke Kadato kie, Limau Timore

Upacara dan jamuan makan siang begitu singkat, maklum ini adalah Hari Jumat. Segala kegiatan dipercepat guna memenuhi Ibadah Shalat Jum’at. Jojau Kesultanan Tidore, M.Amin Faroek pun masih terlihat menemani para tamu lainnya. Semua terlihat santai di siang itu.

Saya meninggalkan Kadato itu dengan suka cita. Matahari semakin menyengat mata dan kepala. Beberapa meter sebelum benar-benar kutinggalkan pelataran Istana ini, hatiku tergerak menengok bangunan di sebelah kiri pelataran jalan keluar. Tampak bersemayam makam sosok terlupakan Sejarah, Sultan Zainal Abidin Syah II. Tokoh nasionalis sekaligus patriot Tidore yang enggan memihak Kolonial Belanda di masa pra Kemerdekaan.

Sejak Kesultanan Tidore berpihak pada Indonesia. Berbagai usaha terus dilakukan untuk menjaga Kedaulatan Indonesia, termasuk kala Sultan Husain menyurat dan mengingatkan Pemerintah untuk senantiasa menghargai wilayah yang pernah dititipkan pada negara untuk dijaga, bukan untuk dikomersilkan

Penulis : Fatir M.N/ Redaktur

Baca Lainnya