TELAAH

Jumat, 22 Maret 2019 - 15:46

4 minggu yang lalu

logo

Rahmat Mustari

Catatan Refleksi: Hubungan Kosmik, Manusia, dan Wahyu

Adakah sesuatu sebagai alas di mana segala sesuatu dapat berdiri dengan setara dan sederajat yang sama, baik manusia dan alam, antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, baik laki-laki dan perempuan? Pertanyaan ini jika kita timba dalam ontologi Islam, maka Islam akan menyuguhkan Tauhid sebagai jawabannya. Keberagaman keberadaan yang kita temui, saat ini dan di sini, maupun yang mungkin akan ada pada masa akan datang, semua bersumber dan bergantung pada Tauhid.

Jawaban di atas tidak semata bersifat teologis, tetapi juga memiliki argumen filosofis. Sehingga jawaban di atas dapat kita perikasa dengan pendekatan intelektual yang ketat. Dapat dikatakan bahwa karya-karya filsafat dan spiritualitas dalam dunia Islam adalah pengahayatan atas pengalaman langsung para filosof dan sufi terhadap realitas-realitas ontologi tersebut, sebuah refleksi filsofis dan religius. Dalam Islam, karya filsafat dan karya spiritual atau tasawwuf adalah upaya pengungkapan pengalaman personal terhadap realitas prinsipalitas Yang Tunggal itu.

Ayat Al-Qur’an: “Dia Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin” (QS. Al-Hadid:3). Tuhan adalah awal segala perjalanan seluruh makhluk sekaligus sebagai tujuan akhir perjalanan makhluk, Tuhan adalah yang tampak sekaligus yang tersembunyi. Awal segala sesuatu dan akhir segala sesuatu, tak ada yang tersembunyi dan yang tampak kecuali Tuhan. Ajaran agama, misalnya dalan Al-Qur’an tentang Allah, mengungkapkan bahwa Dia adalah Yang Maha Mutlak, Tak Terbatas, dan Sempurna. Serba meliputi Allah digambarkan al-Qur’an, “Kemana pun engkau menghadap, di sanalah Wajah (wajh) Allah“, (QS. Al-Baqarah: 115). Dalam Al-Qur’an Allah juga disebut dengan banyak nama (asma’), “Milik-Nyalah nama-nama yang indah, (QS. Al-Hasyr: 24). Dia Maha Pengasih, Maha Pencipta, Maha Pemelihara, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Membalas, dan nama-nama lainnya. Dia adalah sumber dari segala realitas dan keseluruhan sifat positif yang bermanifestasi dalam tatan kosmis.

Dalam keragamaan-Nya juga mengungkapkan ketaksamaan Diri Allah dengan segala sesuatu, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia“, (QS. Al-Syura: 11), “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa“, (QS. Al-Ikhlas: 1). Meski ia dapat di-temui dalam perwujudan-Nya tetapi Dia tak tak-serupa.

Para filsuf Muslim melihat tak ada dualitas dalam alas ontologis. Keragamaan realitas itu sendiri adalah perwujudan eksistensi-Nya. Menurut filsuf Muslim, yang memiliki wujud hanya Allah, selain Allah adalah aksidental yang tak pernah benar-benar ada yang mewujud melalui pemberian wujud oleh Allah. Lalau apakah manusia dan alam semesta tidak pernah benar-benar ada jika yang benar-benar ada hanyalah wujud Allah? Jika manusia dan alam semesta ada, apakah memiliki eksistensinya masing-masing?

Begini, misalkan tinta dan huruf, jika huruf yang kita perhatikan maka tinta hilang dalam perhatian kita, jika tinta yang kita perhatikan maka huruf akan absen dalam perhatian kita. Padahal, meski huruf tampil sedemikian rupa tak pernah lepas dari tinta, jika tinta dihapus dari suatu kertas huruf dengan sendirinya pun ikut musnah. Atau seperti ombak dan samudera, apakah samudera dan ombak sama? Ombak hanyalah riak yang terungkap dipermukaan samudera, sementara samudera adalah asal dari ombak. Huruf dan ombak adalah rupa penampakan bentuk lain dari tinta dan samudera. Karena itu, jika kita melepaskan ombak dan huruf dari eksistensinya yang memberikan wujud untuk mewujud, kita tak pernah memahami apa itu ombak dan huruf. Betapa pun beragamnya irisan bentuk-bentuk huruf selalu yang pertama kali kita temui tinta di dalamnya. Alam semesta dan manusia adalah bentuk-bentuk lain yang menampilkan wujud Allah. Karena itu, eksistensi alam semesta dan manusia tidak memiliki eksistensi yang mandiri, tetapi adalah pemberian wujud Allah. Yang berbeda antara manusia dan alam adalah rupa esensi bentuk alam dan esensi bentuk manusia. Jadi alam semesta dan manusia dalam ontologis Islam berdiri di atas alas ontologi yang satu dan sama.

Demikian, permisalan di atas yang lazim di kalangan sufi (ahli tasawwuf) mengungkapkan bahwa manusia dan alam adalah dua bentuk penyingkapan Diri-Tuhan. Karena itu, alam dan manusia dalam pandangan dunia Islam merupakan bentuk-bentuk tanda atau ayat Allah, pada diri manusia dan alam terdapat hubungan tak hanya kesamaan ciri materi tetapi hubungan primordial. Keberadaan wahyu yang menghadirkan ayat-ayat Allah adalah suatu keniscayaan, di samping alam semesta dan manusia juga memiliki status Ilahiyah, sebagai ayat dan tanda yang turun dari sumber yang satu dan sama. Dapat dilihat bahwa salah satu fungsi kehadiran wahyu Tuhan bagi manusia (juga alam) adalah mengaktifkan daya-daya primordialisme yang tersembunyi dalam diri manusia dan alam semesta, juga mengungkapkan primordialisme alam dan manusia. Dalam Islam, kosmik, manusia, dan wahyu terdapat hubungan primordial, yakni ayat, kehadiran wahyu mengungkapkan hubungan itu yang telah tergerus dari kesadaran manusia seiring arus waktu dan ruang.

Kita lihat dalam Islam, juga memandang bahwa manusia memiliki derajat yang lebih tinggi dari alam semesta, perbedaan derajat kebertingkatan itu lebih ditekankan pada kemampuan manusia menerima manifestasi seluruh Nama-Nama Tuhan secara sempurna dan mengaktualkannya dalam kehidupan kosmik. Dalam pemikiran Islam tradisional dikenal sebagai konsep Insan Kamil atau manusia sempurna. Semua manusia, laki-laki dan perempuan secara potensial memilik kemampuan yang sama, di situ hati (laki-laki dan perempuan) berperan sebagai wadah atau bejana yang menerima manifestasi-manifestasi Nama-Nama Tuhan. Al-Qur’an mengangkat kisah-kisah para Nabi dan terkhusus Nabi Muhammad saw. adalah sebagai individu-individu manusia yang telah secara sempurna menampilkan konsep Insan Kamil. Itulah mengapa, manusia sempurna atau Insan Kamil dalam Islam tidak dilihat pada aspek gender, tetapi pada ketakwaan, yang menggambarkan kedekatan seseorang dengan Tuhannya.

Nah, hubungan kosmis, manusia dan wahyu adalah suatu kesatuan yang unik dan harmoni. Sebenarnya penerimaan manusia terhadap wahyu yang diturunkan Tuhan sama dengan penerimaan manusia terhadap watak kosmik itu sendiri. Di mana kosmik itu sendiri adalah salah satu bentuk ayat-ayat Tuhan sebagaimana wahyu, untuk kesempurnaan manusia itu sendiri.

Penulis:
Rahmat Mustari

 

 

Baca Lainnya