JEJAK

Kamis, 24 Januari 2019 - 19:59

7 bulan yang lalu

logo

Bermodal Rp 250 Ribu, Serma Sukimin Raup Omzet Besar dan Penghargaan

Setelah 17 tahun membuka lahan yang luasnya sekitar 200 meter di pelataran rumah dinas kodim 1501 Kelurahan Mangga Dua Utara, kompleks Kelapa Pende, Sersan Mayor atau Serma Sukimin Raila, mampu membangun rumah, menyekolahkan anak hingga kerja dan menaikan orang tua dan mertua haji.

Bersama istri, anak dan keluarga yang lain mengandalkan tanaman unggulan seperti sayur sawi, bayam dan kangkung, untuk pemenuhan kebutuhan dan penunjang kebutuhan rumah tangga.

Bedengan yang disekat menjadi beberapa bagian, dimanfaatkan oleh keluarga tentara itu untuk menanam sayur dan dijaga setiap sore untuk menyiramnya dari mulai tanam hingga tanaman berumur satu bulan dan siap panen.

Sukimin bilang, ia memiliki 25 bedengan. Satu bedengan membutuhkan satu karung pupuk kandang. Sementara harga pupuk kandang Rp10.000 per karung, sehingga dirinya hanya membutuhkan modal Rp250.000 untuk menjalankan usaha kebun sayurnya. Sayur yang ditanam itu berpenghasilan setiap bulannya 6-7 juta rupiah.

“Sedangkan untuk bibit seperti kangkung dan bayam dibeli di Ternate, tetapi sawi dipesan dari Jogjakarta karena bibitnya lebih baik,” kata tentara yang masih berdinas itu kepada Jalamalut, Rabu 23 Januari 2019.

Lahan sekitar rumah dinas ini, menurut Sukimin, awalnya tempat pembuangan sampah, setelah diberi izin oleh Dandrem akhirnya dirinya membersihkan dan memanfaatkan lahan itu untuk bercocok tanam.

“Setiap sayuran yang ditanam panennya berumur sebulan dan setiap sore dengan keluarga gonta-ganti menyiram tanamannya. Hasil panen sayuran langsung djual kepada langganan (dibo-dibo),” kata Sukimin.

Setiap jam empat pagi, hasil tanaman diletakan di depan jalan utama, dan langganan atau pembeli menjemput, setelah dijual hasilnya, para langganan itu menaruh uang di dalam kantong plastik dan membuangnya di dalam pagar.

Sukimin juga bilang, tidak ada ilmu pertanian yang biasanya Sukimin pelajari, bermodal pengalaman, diirnya mampu memanfaatkan lahan dan bercocok tanam.

“Hasilnya saya dapat menyekolahkan anak hingga kerja, anak pertama saya sudah menjadi polisi dan bertugas di Weda, anak kedua saya kerja di Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) dan juga dapat membuat rumah hingga menaikan mertua haji,” tuturnya.

Belajar dari Sosok Sukimin

Bagi Sahrin Hamid yang juga tokoh penggerak ekonomi kreatif itu, sosok Sukimin dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Dengan lahan yang begitu terbatas dan awalnya hanya sebagai tempat sampah, Sukimin mampu memanfatkan itu sebagai sesuatu yang produktif.

Serma Sukimin berfoto bersama Sahrin Hamid, sembari memegang hasil kebunnya. Foto: Risman Rais/Jalamalut

Dikatakan Sahrin, lahan itu kemudian dimanfaatkan olehnya dengan becocok tanam seperti sawi, bayam dan kangkung. Ini bisa menjadi rujukan dan inspirasi bagi generasi sekarang bahwa ternyata dalam berusaha tidak berarti mengutamakan modal, tetapi juga keinginan dan kemauan yang keras.

Lanjut Sahrin, kegiatan yang dilakukan oleh seorang prajurit tentara itu, akhirya dihargai oleh institusi tentara dan memberinya penghargaan langsung oleh Panglima TNI dan telah memeberangkatkan haji orang tuanya juga mertua. “Dari Pak Sukimin dapat kita menjadikan sebagai referensi bagi siswa dan mahasiswa khususnya Fakultas Pertanian agar dapat belajar bersama dengan beliau.”

Bagi Sahrin, Sukimin yang sudah berumur senja itu, perlu ada perhatian dari pihak pemerintah agar memberikan peluang sekaligus didorong tidak saja sebagai income, tetapi dapat menjadi sekolah tani bagi siswa dan mahasiswa yang ingin terjun langsung bersama.

“Orang-orang seperti Pak Sukimin perlu perhatian dari pemerintah, perlu adanya penyediaan lahan yang cukup agar dimanfaatkan. Karena lahan yang luas dapat membantu menyuplai pasar sehingga kita tidak lagi bergantung pada sayur-mayur dari luar seperti Bitung, Manado, dan Surabaya,” ujar Sahrin, yang juga saat ini terdaftar sebagai calon senator di pusat.

Menurut Sahrin, anak muda atau kaum milenial saat ini dapat belajar dari sosok Sukimin mengenai disiplin waktu dan cara mengelola kesempatan untuk mendapatkan penghasilan. “Yang pertama Pak Sukimin menghargai waktu, dengan sambil lalu mengisi waktu di luar kedinasan menjadi tentara. Bahkan Pak Sukimin menjadikan bertani bukan saja mengisi waktu tetapi juga menjadikan penghasilan yang berkualitas.”

 

Penulis: Risman Rais/Kru Jalamalut

Baca Lainnya