PERSPEKTIF

Sabtu, 27 Oktober 2018 - 07:19

2 bulan yang lalu

logo

Beringharjo, Minyak Cengkih dan Ingatan yang Tercecer

Beberapa waktu lalu, untuk kesekian kalinya, saya mengunjungi pasar Beringharjo. Saya yang sudah sekian purnama memilih mendiami tanah Mataram secara temporal ini, seringkali bertandang ke sini. Jika bukan untuk mengantar sanak keluarga atau kawan dari Maluku Utara membeli oleh-oleh saat berkunjung ke Kota Gudeg, saya sendiri yang juga kadang menghabiskan waktu sebatas “cuci mata”.

Tempat ini sepertinya selalu menyediakan ruang untuk saya jejali. Belajar mengamati, dan mendekati fenomena empiric tentang seluk-beluk manusia Jawa atau misalnya mencecapi hal-hal remeh dari interaksi yang cair seperti yang senantiasa secara jujur diekspresikan oleh orang-orang kecil di Beringharjo. Pasar ini, seperti biasanya, ramai dipadati manusia, dari pedagang, pembeli, atau mereka yang hanya sekadar jalan-jalan. Saya termasuk yang terakhir, iseng mengisi waktu senggang dengan sekedar menikmati keramaian Beringharjo. Peloncong Kere ceritanya…

Los-los depan yang diisi dengan lapak batik segala jenis dan bentuknya itu, umumnya yang paling ramai. Para pedagang yang kebanyakan kaum perempuan selalu tampak sibuk, menawarkan barang dagangannya kepada para pengunjung pasar. “Cari apa pak, ibu,… Monggo mas, mbak diliat dulu, cari batik yang model apa?”, seperti itulah kata-kata yang dituturkan, semacam SOP atau lirik lagu monoton yang dilantunkan berulang-ulang.

Sekedar untuk diketahui, Beringharjo merupakan salah satu pasar tertua di Yogyakarta, selain saat ini ia lebih dikenal sebagai sebuah ikon pariwisata dengan “pasar kain batik” yang menjadi citra jualnya. Dalam catatan sejarahnya disebutkan keberadaan pasar Beringharjo tak lepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam. Sebelum abad ke-18 terdapat sebuah areal yang tak jauh dari Kraton Yogyakarta masih ditumbuhi pohon beringin yang rimbun. Pada kurun waktu 1758, areal ini lalu diubah menjadi sebuah pusat transaksi ekonomi bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya yang dalam perkembangannya punya pengaruh vital tidak hanya bagi eksistensi Kasultanan Yogyakarta yang baru menandatangani perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) waktu itu, namun juga terhadap perkembangan Yogyakarta sebagai sebuah kota modern. Setelah melewati hampir satu setengah abad lamanya, tepatnya pada tanggal 24 Maret 1925 wajah pasar ini kemudian “dipermak”. Gagasan perubahan pasar tersebut datang dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang pelaksanaan proyeknya dikerjakan oleh Nederlansch Indisch Beton Maatschappij (Perusahaan Beton Hindia Belanda). Pencanangan pasar ini adalah bagian dari Catur Tunggal yaitu sebuah konsep tatakota yang mengikuti struktur kehidupan tradisional masyarakat Ngayogyakarta dengan empat elemen-(simboliknya); Kraton sebagai jagad kekuasaan, alun-alun sebagai ruang terbuka atau merepresentasi jagad alam, masjid Gedhe sebagai simbol spritualitas, dan pasar sebagai transaksi ekonomi atau juga merepresentasi sentrum interaksi manusia. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII lalu menamai pasar ini sebagai Beringharjo. Sesuai namanya, Bering atau hutan beringin yang menandai asal mula areal pasar dan merupakan simbol kebesaran dan pengayoman bagi manusia, pasar ini diharapkan dapat mensejahterakan masyarakat luas atau yang berarti Harjo.

Denyut aktivitas di Pasar Beringharjo telah mengawal gerak kehidupan di tiga zaman; masa kerajaan Mataram Islam, revolusi kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Lalu apa yang menarik dari pasar Beringharjo, selain ikon pariwisata kain batik? Beringharjo dihuni oleh sekitar 6000 pedagang yang datang dari berbagai penjuru DIY, dan diperkirakan sebanyak 11 ribu pengunjung berjejal setiap harinya. Dengan intensitas pengunjung dan jumlah pedagang sebanyak itu, perputaran uang di pasar ini ditaksir mencapai kisaran miliaran rupiah per hari. Yang menggerakkan roda ekonomi Beringharjo adalah kaum perempuan; pedagang, pembeli, dan buruh angkut atau yang lebih dikenal sebagai jasa gendong. Dari raga dan pikiran merekalah pasar ini hidup, bergeliat dengan waktu dari generasi ke generasi.

Sampailah saya di los 16 (semoga saja tidak keliru), di sisi timur, atau seringkali mereka menyebutnya “bagian belakang”. Di los 16 dan seterusnya itu, diisi dengan lapak obat herbal atau jamu-jamuan. Ragam jenisnya. Aromanya sangat familiar, wangi jamu…..Aneka rupa daun-daun kering, jenis akar-akaran, dalam berbagai kemasan. Adapula dalam bentuk kapsul, bubuk, seperti jahe, temulawak, kunir, dan seterusnya. Beberapa turis asing terlihat berinteraksi dengan sejumlah pedagang. Beberapa pedagang meladeni setiap pertanyaan calon pembeli bule, meskipun dengan bahasa Inggris yang patah-patah.

Hal yang menarik adalah kemampuan para pedagang dalam menjelaskan semua jenis herbal di lapaknya, lengkap dengan tata cara pemakaiannya, khasiat obat, termasuk dengan efek samping untuk jenis herbal tertentu. Beberapa literatur tentang sistem dan praktek pengobatan Jamu di Jawa menyebutkan bahwa mereka yang berada dalam ekosistem per-jamu-an ini cenderung punya daya penciuman dan perabaan yang sensitif. Para peracik Jamu biasanya mengecek kualitas bahan yang dibutuhkan dengan mencium, atau meresapi aroma bahan. Praktek semacam itu juga tampak diperlihatkan oleh para pedagang. Ada semacam edukasi yang berlangsung, edukasi tentang bau. Para pedagang membedakan setiap bau dari daun-daun kering dan akar-akaran kepada para calon pembeli.

Saya yang juga iseng menanyakan ihwal obat-obat itu, dengan senang hati pedagang-pedagang itu membeberkan segala informasi yang mereka ketahui pada saya. Yang saya kagumi adalah pengetahuan (informasi) mereka, selayaknya seorang apoteker profesional. Sangat meyakinkan adanya. Tapi dari mana mereka memperoleh pengetahuan yang cukup baik itu? Apakah mereka mengenyam pendidikan atau mendapat pelatihan tertentu? Entahlah. Saya juga tidak bertanya mendalam soal ini. Dengar-dengar, Dinas terkait yang bertanggung jawab terhadap manajemen pasar Beringharjo sering melakukan pelatihan atau semacam edukasi kepada para penghuni pasar atau dalam hal ini para pedagang. Tapi apakah juga terkait dengan urusan memasarkan obat herbal, dan juga tentang edukasi herbal? Pertanyaan lainnya, apakah apoteker atau misalnya mahasiswa yang berstudi di bidang gizi dan obat-obatan itu dibekali dengan pengetahuan serupa mengenai tumbuh-tumbuhan khas tropis, lalu dengan kemampuannya itu ia mau memasyarakatkannya, seperti para pedagang ini?

Nusantara memang memiliki sumber-sumber pangan endemik yang sangat melimpah, selain menyebutnya variatif, yang di mimbar-mimbar ilmiah seringkali didengungkan “betapa kayanya negeri kita”. Tapi apa yang sudah kita perbuat atas klaim tersebut, selain hanya menyerahkannya untuk “dimatikan” oleh industrialisasi skala besar, termasuk pada industri farmasi. Dengar cerita, Kementerian Kesehatan belum lama ini, telah mendata kekayaan budaya nusantara di bidang obat-obatan tradisional. Setiap komunitas etnis dengan etnomedisinnya, atau pengetahuan tradisional mengenai pengobatan itu didata oleh pemerintah. Termasuk di antaranya adalah etnomedisin Orang Tobelo Dalam atau dalam sebutan lain Komunitas Rimba Halmahera. Anehnya, dan sangat ajaib, di saat pengetahuan Komunitas Rimba Halmahera itu diambil, pada saat yang bersamaan hutan mereka yang nota bene sebagai tempat berkembangnya kebudayaan khas rimba itu justru dibabat tanpa ampun, dikikis oleh para penjarah alam. Lewat kuasa perizinan konsesi alih-ubah lahan hutan di Halmahera yang telah diteken di meja-meja birokrasi beberapa tahun belakangan ini, senyatanya telah merongrong kelangsungan mata rantai kebudayaan orang Halmahera secara menyeluruh. Lantas apa bedanya dengan VOC? Pada keanehan yang lain, Komunitas Rimba Halmahera ini, justru pula ditempatkan sebagai objek turisme, lengkap dengan embel-embel “suku terasing”, seolah-olah mereka adalah barang antik yang layak ditonton, demi dan untuk memenuhi citra wisata “timur nan eksotik”. Sebuah paradigma yang menihilkan nalar humanitas. Sangat aneh!

Sejumput pengalaman bersentuhan dengan tema etnomedisin tersebut sepintas menyeret saya pada ingatan semasa kecil bersama nenek saya sewaktu ia masih hidup. Apa yang saya ingat dari nenek saya adalah kebiasaannya yang belakangan baru saya sadari mungkin merupakan sebuah praktek etnomedisin. Salah satu kebiasaannya setiap pagi dan sore adalah hamom, istilah dalam bahasa Guruapin (Kayoa) untuk menyebut praktek konsumsi sirih-pinang, nginang kalau dalam istilah Jawa. Sebelum memulai “ritualnya” itu, biasanya beliau membasuhkan kedua matanya dengan cairan dari buah pinang muda. Caranya seperti memakai obat tetes mata, buah pinang muda dibuka bagian pucuknya lalu diperahkan. Ia percaya bahwa cara ini bisa menjaga matanya tetap berfungsi, sehat sepanjang hayat. Sampai beliau meninggal, ia sangat jarang mengeluh soal penglihatan. Satu-satunya penurunan daya penghilatannya adalah saat ia tidak lagi bisa memasukkan benang ke dalam lobang jarum. Saya-lah yang biasanya diminta untuk membantunya melakukan hal itu, ketika akan menjahit atau merajut pakaian.

Di sebuah lapak pasar Beringharjo itu, saya ditawarkan beberapa obat herbal kemasan. Dua di antaranya memantik saya untuk berselidik. Bawang Dayak dan Minyak Cengkih. Khasiat Bawang Dayak yang tertera pada kemasannya adalah sebagai obat Miom dan Kista. Diproduksi oleh CV ASIH. Saya tanya kepada pedagangnya mengenai keotentikan si bawang, apakah didatangkan langsung dari komunitas Dayak. Lalu, Dayak yang mana? Karena yang saya tahu, Dayak itu ragam sukunya. Si pedagang hanya memberi tahu bahwa ia memperolehnya dari distributor. Harga untuk Bawang Dayak ini, jika tidak salah, kisaran Rp. 50.-an ribu per 1 botol kemasan. Sementara itu, Minyak Cengkih, dibanderol seharga Rp. 15-ribu. Khasiatnya untuk mengobati sakit gigi, masuk angin, meriang, gatal-gatal, dan lain-lain. Tidak ada keterangan pada kemasan berbentuk botol plastik mini itu. Saya diberi tahu bahwa ada tempat produksinya di Kulonprogo. Kepada pedagang itu, saya katakan, akan mendatangi tempat produksinya kelak, sekedar untuk mengetahui bagaimana proses pengolahan hingga menjadi cairan minyak.

Pada Minyak Cengkih ini, saya kembali merenungkan satu hal, tentang sejarah panjang tumbuhan endemik khas kepulauan Maluku ini. Di tempat asalnya, cengkih menjadi salah satu komoditas unggulan yang dipercaya mampu mengawal gerak kehidupan petani-petani kepulauan-pesisir di sepanjang sejarah hidup mereka. Saat panen tiba, ada perayaan-perayaan yang meriah di setiap kebun-kebun petani. “Emas Cokelat” adalah sebutan lain untuk menggambarkan betapa tanaman ini menjadi sumber penghidupan yang berselaras dengan alam kepulauan Maluku. Tak ada kerusakan, tak ada pula narasi yang membinasakan ekosistem alam, bahkan jika seantero darata kepulauan ini dipenuhi kebun-kebun cengkih yang menghampar. Di kitab-kitab sejarah, cengkih senantiasa disebut sebagai sebuah komoditas yang membawa “berkah” sekaligus mencuatkan “kutukan”. Darinyalah sejarah panjang penjajahan manusia nusantara itu bermula. Namun dari cengkih pulalah, peradaban kepulauan Maluku itu kokoh bertahan, setidaknya sampai untuk sementara ini.

Namun demikian, pertanyaan yang selalu saja mengusik adalah bagaimana dan sampai kapan kondisi tersebut bertahan? Bagaimana dan sampai kapan pula, kisah kejayaan Maluku dengan cengkihnya itu bisa keluar dari kotak syair romantic masa lalu. Pada kenyataannya, hingga hari ini, belum ada semacam inisiatif yang sungguh-sungguh untuk memproteksi cengkih, apakah sebagai komoditas ekonomi, pun sebagai simbol ketahanan budaya masyarakat kepulauan. Jika mengecek regulasi-regulasi tentang wacana cengkih dan segi pengembangnnya, bahkan di tempat asalnya sekalipun, sangat minim tersedia. Pemerintah daerah setempat cenderung terpaku dengan serapan industri rokok yang dikiranya aman dari rongrongan. Belum ada inisiatif, cara-cara kreatif untuk mengembangkannya ke dalam aneka produk turunan, sebut saja Minyak Cengkih. Di Ambon atau beberapa tempat lain, memang sudah ada produk serupa. Sejauh ini pun kita bahkan jarang untuk bertanya dan mau belajar, mengenai lompatan sejarah di Eropa setelah mereka mendalami tanaman “eksotik” ini. Konon, di abad-abad lampau terdapat sejumlah pencapaian ilmu pengetahuan maha penting, terutama pada perabadan Mesir. Salah satunya adalah racikan minyak (balsem) cengkih, untuk mengawetkan jasad para penguasa Mesir kala itu. Lantas, kita yang saat ini dengan bangganya mengklaim bahwa di tempat kitalah cengkih itu bermula, sudah bikin temuan apa dari cengkih untuk hari ini? Adakah cengkih dirayakan secara ilmu pengetahuan? Entahlah.

Penulis: Arifin

 

Baca Lainnya