JELAJAH

Senin, 3 Juni 2019 - 23:48

3 bulan yang lalu

logo

Berdayakan Sampah Jadi Obor Ela ela

TERNATE, 30/06/2019 — Poros Jalan Merdeka, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate kian macet. Kemacetan di bulan Ramadan itu tak seperti hari biasanya. Biasanya jalan di persimpangan Mall Muara ke arah Belakang Benteng Oranje itu disibukkan oleh jajanan kuliner buka puasa.

Warga dengan variasi kendaraannya terlihat sibuk mengunjungi lapakan pengrajin obor bambu di jalan itu guna mencari bahan persiapan pelaksanaan tradisi Ela-ela yang akan akan dimulai besok malam.

Foto. Ridwan Alisan, salah satu pengrajin obor dari bahan Sampah yang menuai pujian dari warga Ternate yang melintas

Ela-ela dan Maluku Utara

Ela-ela merupakan sebuah tradisi lokal Maluku Utara dalam menyambut Lailatul Qadar. Uniknya dalam tradisi itu diikuti dengan penyalaan api obor, hingga pawai obor yang diramaikan warga muda muslim di sana.

Kata Ela-ela sendiri sudah lama diidentitaskan, namun diyakini etimologi itu diambil dari kata ‘Laila’ pada kalimat Lailatul Qadar. Meski nama itu terpaut induk kalimat aslinya, warga Maluku Utara khususnya Ternate lebih akrab menyebut Ela-ela dibanding Lailatul Qadar.

Jalan Merdeka dipenuhi kerajinan obor bambu. Obor buatan para pengrajin Ternate dikerumuni massa pembeli, sebagian terhias indah dengan anyaman unik bambu yang memikat mata. Mata saya tertuju pada seorang pelapak yang menjajakan obor ela ela dari botol plastik dan kaca membuatku penasaran.

Foto. Mini obor karya pengrajin Ridwan yang digunakan dari botol bekas

Niat awal ingin memerangi sampah 

Namanya Ridwan Alisan, warga Kelurahan Tongole. Sehari-hari ia turut dibantu anaknya berdagang. Ridwan sendiri bekerja sebagai buruh bangunan atau disebut ‘tukang’. Meski berharap rejeki dari pekerjaan itu, Ridwan tak malu memulung Sampah yang dapat diberdayakan atau dijualnya. Awalnya ia berniat memerangi sampah, usai ia tahu bahwa beberapa sampah masih dapat digunakan, ia berubah pikiran.

“Ya anak-anak kadang membantu saya mengumpulkan Sampah, mereka kini masih dapat membantu saya jualan. Meski anak-anak bekerja, alhamdulillah mereka tetap sekolah” ucap Ridwan tersenyum sambul melihat anak-anaknya bekerja.

Ridwan menambahkan “Niat awal saya memerangi sampah, namun memberdayakannya juga cukup menguntungkan, sejak itu saya berusaha mengurangi sampah dengan cara mengelolanya menjadi kerajinan” ujar Ridwan.

Obor Ela-ela yang dijualnya adalah hasil keringat kerajinan sampah layak pakai yang bahannya ia kumpul dimulai dari lingkungan sekitar. Selain menjual hasil sampah pungutan ke jasa pembeli sampah.

Ridwan menjelaskan ia mempersiapkan perakitan Obor Ela ela jauh sebelum bulan Ramadan, yakni 2 Bulan. Ia harus menyiapkan segalanya, mulai dari bahan utama yakni sampah bekas layak pakai seperti Kaleng minuman soda, kaleng cat, botol kaca, tali sumbu, dan tali kawat.

Foto. Dok. Obor gantung mini dari sampah karya Ridwan

“Sehari-hari saya kerja kuli bangunan, kebetulan saya hobi mengumpulkan sampah layak pakai. Saya pisahkan mana yang bisa saya jual dan mana yang bisa saya simpan untuk saya jadi bahan kerajinan. Untuk obor ela-ela, saya sudah merakitnya 2 bulan sebelum Ramadan. Saya hanya membutuhkan bahan tambahan dalam merakit obor itu, seperti tali sumbu dan kawat” ujar Ridwan.

Menjadi Pengrajin Sampah sejak 2015

Ridwan mengaku usaha kerajinan obor sampah itu sudah dilakukannya sejak 4 tahun lalu, tepatnya tahun 2015. Dan tiap tahun, ia selalu menjajakan kerajinannya di tempat yang sama dalam bulan Ramadan, hanya saja Ridwan mengaku kerap mengganti motif bentuk dan warna catnya. Adapun harga yang dipatok terbilang murah, dan uniknya Ridwan mengaku menerima penawaran dengan murah hati.

Foto. Dok. Ridwan bersama putranya santai melapakkan produk kerajinan obor ela-ela yang dibuatnya dari sampah plastik bekas

“Kalo mini obor 2 botol kecil itu harganya Rp 15.000, yang obor 4 botol harganya Rp.20.000,-. Sedang kalo yang tiang obor berbotol 2 dan 4 sumbu itu seharga Rp.40.000,- hingga Rp.50.000,- agak mahal karena buatnya agak susah, namun bila pembeli meminta penawaran, saya menyetujuinya, tentu sesuai kemampuan mereka para pembeli“ ujar Ridwan merendah diri.

Keuntungan bukan tujuan

Saya bertanya padanya mengapa ia lebih memilih sampah dan barang bekas dibanding bahan Bambu pada umumnya, padahal wadah Bambu sudah digunakan bertahun-tahun lamanya di Ternate. Ridwan menjawab dengan santainya.

“Orang Ternate sudah tidak kaget kalo bilang ela ela, apalagi dengan Bambu, mereka kan sudah berpikir bahwa obor ela-ela ini terbuat dari bambu. Menurut saya yang penting niatnya. Lagi pula saya niatnya tak mencari untung, sekedar mengkritisi dan berupaya mengurangi sampah, itu saja, tak lebih” ujar Ridwan.

Foto. Ridwan memperlihatkan sampah botol minuman keras yang didapatnya bertuliskan buatan 1978 yang ia jadikan botol obor. Botol itu sebagai bentuk kritiknya akan konsumsi Miras di Maluku Utara

Di Ternate, tradisi Ela-ela biasanya digelar dengan menggunakan bahan wadah Bambu, minyak tanah, dan kain sumbu. Bambu memang sering digunakan sebagai alat wadah yang digunakan menampung minyak tanah / kelapa dan kain sumbu yang siap dibakar. Bambu sendiri dapat dibuat dengan berbagai jenis. Namun yang sering digunakan adalah Bambu jenis Gigantochloa apus atau di Indonesia disebut ‘Bambu tali’.

Sebagian warga Muslim di Ternate memang jarang merakit sendiri obor ela-ela di rumah, selain tak semua warga adalah pengrajin kayu dan teknisi, kebanyakan warga lebih memilih mencari dan membelinya di luar.

Foto. Seorang ibu penjual menawarkan karya kerajinan obor ela ela nya di persimpangan Traffic light saat lampu merah di depan bekas Kantor Walikota Ternate

3 hari jelang malam ke-27 Ramadan, para pengrajin bambu sudah mengambil tempat di sekitaran Trotoar, bibir jalan, bahkan di persimpangan Traffic light. Entah bagaimana pendapat pemerintah soal kebebasan berdagang tersebut memicu keramaian di sekitar akses umum.

Desakan membuka lapak di jalan umum tak dibendung pemerintah dan Polisi lalu lintas, semua terjadi begitu saja, seolah normatif dan dibiarkan, padahal bila ditata, aktifitas konsumen dan produsen dapat diatur dan kemacetan justru mudah dikendalikan. (*)

Penulis :

Fatir M.N / Kru Jalamalut

Baca Lainnya