WARTA

Selasa, 29 Januari 2019 - 17:50

2 bulan yang lalu

logo

Ancaman Gelombang di Provinsi Kepulauan

Suasana panik terlihat di atas sebuah kapal cepat Bahari Expres rute Ternate Sofifi [PP]. Penumpang yang didominasi pegawai negeri sipil itu tampak histeris. Suara perempuan paling lantang. Hampir semua penumpang sudah mengenakan baju pelampung berwarna oranye.

Beberapa penumpang pria berusaha menenangkan penumpang lainnya. “Kalau [kapal] lari pelan begini tara [tidak] apa-apa. So mau masuk Tidore ini so tara apa-apa sudah,” ucap salah seorang penumpang pria, berusaha menenangkan penumpang perempuan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Tidore Kepulauan, Daud Muhammad, dalam salah satu grub WhatsApp mencoba memberikan keterangan terkait video berdurasi 1 menit 20 detik itu. “Video itu adalah suasana di atas kapal cepat dari Sofifi ke Ternate. Alhamdulillah mereka semua selamat,” sebut Daud.

Di ruang tunggu keberangkatan PT. Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Bastiong Ternate, sejumlah calon penumpang kapal ferry tampak mondar-mandir. Ada juga yang memilih duduk mengutak-atik gadget. Di area parkiran, sejumlah mobil truk berukuran besar terlihat menumpuk.

Sesaat kemudian: “Mohon perhatian. Diberitahukan kepada seluruh penumpang tujuan Sofifi, berhubung pertimbangan cuaca, sehingga keberangkatan kapal ferry ditunda. Pelayaran akan dibuka pukul 17.00 WIT, dengan kapal KMP Mutiara Berindo 06. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.”

Imbauan tersebut terdengar sebanyak dua kali dari pengeras suara. “Biasanya jam 15.30 WIT sudah berangkat,” ucap Sahdi MS, Security Pelabuhan ASDP Bastiong Ternate di hadapan calon penumpang, Selasa 29 Januari 2019.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Baabullah Ternate, telah mengeluarkan peringatan dini terkait gelombang tinggi di wilayah Provinsi Maluku Utara.

Dijelaskan BMKG, wilayah yang berpotensi terjadi gelombang setinggi 6 meter berada di perairan Pulau Morotai atau di utara Halmahera yang berhadapan dengan Samudera Pasifik. Sedangkan gelombang setinggi 2,5 – 4.0 meter berpotensi terjadi di perairan barat dan timur Halmahera.

Observer BMKG Stasiun Baabullah Ternate, Fahmi A Bachdar, dalam laporannya menjelaskan, hasil analisa BMKG, kondisi cuaca hingga tiga hari kedepan diperkirakan cerah, berawan, hingga hujan lebat. “Hujan lebat terjadi di Morotai, Tobelo Halmahera Utara, dan Ibu Halmehara Barat,” jelasnya.

Menurut Fahmi, kondisi cuaca yang melanda Maluku Utara disebut Sinopitik. Ini akibat dari siklon tropis riley di Samudera Hindia. Di mana, ada belokan udara di sebelah utara, sehingga terjadi penumpukkan massa udara yang signifikan. Ini menimbulkan penumpukan awan cukup besar, sehingga berdampak pada intensitas hujan.

Selain itu, kecepatan angin di Maluku Utara cukup tinggi, yakni 30 knot atau 60 kilometer perjam. Kecepatan tersebut memicu gelombang laut hingga mencapai 5 hingga 6 meter.

“Ketinggian gelombang maksimum diprediksi sewaktu-waktu berubah, bahkan mencapai dua kali lipat. Jadi kami mengimbau kepada warga yang menggunakan jasa transportasi laut, agar selalu berhati-hati,” jelasnya.

Sebelumnya, beredar foto dua unit mobil truck terguling di ruang palka Kapal Ferry KMP Portline 8 rute Ternate, Maluku Utara – Bitung, Sulawesi Utara. Foto tersebut tersebar di sejumlah lini media sosial.

Kepala Operasional ASDP Ternate, Ali Tamher, kepada Jalamalut menuturkan, awalnya sebelum berangkat, kondisi cuaca masih bisa diprediksi. “Gelombangnya masih 0 sampai 2,5 meter,” katanya.

Namun dalam perjalanan, tepatnya memasuki perairan Pulau Batang Dua, terjadi perubahan cuaca secara tiba-tiba. Tinggi gelombang mencapai 3,5 meter. “Saat itu tidak mungkin putar balik ke pelabuhan [Bastiong Ternate]. Karena sudah jauh. Sudah dekat Bitung,” katanya.

Beruntung, nakhoda dan anak buah kapal masih bisa mengantisipasi. Kapal dikabarkan berhasil sandar dengan selamat di pelabuhan tujuan. Namun dalam insiden itu, terdapat dua unit mobil truk yang terguling. Dua unitnya lagi lecet. “Tapi mereka tetap dapat asuransi,” jelas Ali.

Saat ini, kata Ali, pelayaran jarak dekat lintas Ternate-Sidangoli Halmahera Barat, Ternate – Rum Tidore dan Ternate – Sofifi Halmahera, masih dalam kondisi normal. Kecuali rute Ternate – Bitung Sulawesi Utara, dan Ternate – Pulau Batang Dua.

“Belum ada peringatan dini untuk tiga rute ini, kecuali ke Batang Dua dan Bitung. Tapi kami tetap mengacu pada BMKG jika seandainya ada peringatan dini terkait gelombang secara tiba-tiba,” jelasnya.

ASDP, kata Ali, sebagai operator tetap membangun kerjasama dengan berbagai pihak. Salah satunya Syahbandar. “Kalau tidak ada izin berlayar dari mereka, tentu kami tidak akan berangkatkan kapalnya,” katanya.

Dikatakan Ali, pada Senin kemarin, kapal tujuan Batang Dua direncanakan berlayar. Namun karena kondisi cuaca, pelayaran dibatalkan. Pihaknya akan menunggu hingga cuaca kembali normal.

Senada, Komandan Pos Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Pelabuhan Ferry Bastiong Ternate, Benyamin Naser, mengatakan untuk sementara rute pelayaran Ternate – Batang Dua belum diizinkan berlayar. Rute ini dilayari oleh KMP Bobara. “Karena laporan BMKG, tinggi gelombang masih 3 meter,” singkatnya.

Sedari Minggu, warga di Kelurahan Sulamadaha, Kecamatan Ternate Barat, digegerkan dengan temuan sebuah bangkai kapal di antara selat Sulamadaha dan Kecamatan Pulau Hiri. Kapal tersebut sudah dalam kondisi terbalik dan terapung di permukaan laut.

Sebelumnya, empat warga Lelewi, Kecamatan Pulau Batang Dua, atas nama Beron Lette, Asser Lette, Dominggus Rajalahu dan Areven Lette, diduga hilang dalam pelayaran dari Ternate menuju Batang Dua.

Perahu motor Berkat milik Mihcael Lette yang mereka tumpangi, dikabarkan keluar dari Ternate pada Minggu 27 Januari pukul 05.00 WIT. Namun hingga saat ini, belum tiba di Pelabuhan Mayau, Batang Dua.

“Kita dapat informasi begitu sejak kemarin,” ujar Muhammad Arafah, Kepala Badan Search And Rescue Nasional (Basarnas)Ternate kepada Jalamalut di Ternate, Senin 28 Januari 2019 kemarin.

Arafah menjelaskan, pada Senin pagi, pihaknya sudah mengarahkan satu unit kapal milik Basarnas. Namun kapal tersebut dihantam gelombang tinggi. Akibatnya, mesin bantu mengalami kerusakan. Kapal kemudian kembali ke Pelabuhan Perikanan Ternate untuk perbaikan.

Sebelumnya, Arafah mengaku mendapat informasi dari salah satu keluarga korban di Desa Tifure, Batang Dua, bahwa perahu motor Berkat diduga terdampar di sekitar perairan Batang Dua. “Tapi kami belum bisa memutuskan benar atau tidak [terdampar-red], karena kami belum punya dokumentasi korban,” jelasnya.

Dikonfirmasi terakhir, Arafah menjelaskan mesin kapal sudah selesai diperbaiki. Sejumlah tim gabungan yang terdiri dari keluarga korban, TNI Angkatan Laut Ternate, Polisi Perairan Polda Maluku Utara, serta Basarnas yang berjumlah 13 personil telah bergerak ke lokasi.

“Tim sudah bergerak ke Tifure. Mereka menumpangi kapal KN SAR 237 Pandudewanata. Perkembangannya akan kami kabarkan kembali,” jelasnya.

 

Penulis: Nurkholis Lamaau

Baca Lainnya