TELAAH

Kamis, 14 Maret 2019 - 19:20

2 bulan yang lalu

logo

Rahmat Mustari

Akal dan Kemandirian Berfikir

Keberfikiran atau proses berpikir meniscayakan konsep-konsep dalam pikiran, tanpa konsep-konsep proses berpikir mustahil berlangsung. Berfikir itu sendiri adalah upaya mencari kejelasan konsep-konsep atau realitas objektif yang berada dibalik konsep-konsep dalam pikiran.

Pikiran kemudian menyusun konsep-konsep yang hadir dalam pikiran agar proses berpikir dapat bergerak dengan benar dan pikiran dapat mencapai realitas objektif. Pendeknya, konsep-konsep itu adalah tiruan realitas dalam pikiran dan bukan realitas itu sendiri dan pikiran mencari hubungan korespondensi konsep-konsep itu dengan realitas objektifnya yang berada di alam eksternal. Meski begitu tidak semua proses berpikir dapat mencapai korespondensinya dengan realitas objektif, bahkan ada pemikiran yang tak sampai keluar dari kemuskilan konsep-konsep yang disusun dalam pikiran.

Tulisan ini akan melihat kemampuan kemandirian akal memperoleh pengetahuan yang objektif dalam epistemologi Islam. Epistemologi Islam di satu sisi mengakomodasi konsepsi persepsi-persepsi indriawi di sisi lain juga membenarkan konsep-konsep hasil persepsi akal murni. Melalui teori Disposesi yang secara umum dianut oleh para filsuf Muslim membangun integritas hubungan antara konsepsi-konsepsi indriawi dengan konsepsi-konsepsi akal murni.

Menurut para filsuf Muslim pengetahuan manusia bermula dari konsep-konsep indriawi, melalui konsep-konsep indriawi ini akal kemudian menemukan konsep-konsep yang murni berasal dari alam akal itu sendiri. Konsepsi indriawi mengkondisikan peran akal menemukan konsep-konsep yang berada di balik alam materi. Konsep-konsep akal murni misalnya seperti “hukum kausalitas atau hubungan niscaya atara sebab dan akibat”, “kemustahilan kebetulan, atau bahwa jika kebetulan itu mungkin aktual maka sifat keniscayaan hubungan kebergantungan satu fenomena alam pada fenomena yang lain akan gugur, dan hal ini berarti bahwa pondasi sains dan pengetahuan juga akan gugur.

Dan “nonkontradiksi” atau dua hal bertentangan mustahil bersatu dalam waktu bersamaan, misalnya pada yang sama ada sekaligus tidak ada. Atau jika kontradiksi dapat aktual di alam maka kita tidak bisa menghukumi suatu proposisi itu berjenis kelamin benar atau salah, karena proposisi itu bisa benar sekaligus salah pada saat yang sama karena kontradiksi.

Tanpa konsep-konsep akal murni manusia akan menolak ketiga cuplikan contoh di atas, karena keniscayaan nonempiris hubungan kausalitas tidak dapat ditangkap oleh pengalaman dan eksperimental pada saat yang sama manusia tidak punya penjelasan ilmiah dan logis bahwa fenomena alam tertentu disebabkan oleh fenomena tertentu yang lain pula. Keselarasan antara sebab tertentu pada akibat tertentu adalah realitas objektif yang terjadi di alam eksternal bukan terjadi dalam pikiran, pikiran menangkap hubungan keniscayaan nonempiris ini setelah dua fenomena alam empiris terjadi di alam.

Misalnya gerakan tangan menyebabkan gerakan pena saat sedang menulis. Sementara persepsi indriawi hanya menangkap dua peristiwa gerakan tangan gerakn pena secara bersamaan. Selanjutnya, jika kebetulan itu mungkin aktual di alam eksternal dan kontradiksi, maka tahapan pemikiran tidak dapat mencapai generalisasi dan universal karena tersandera oleh kebetulan, meski melalui prosedur induksi. Dan teori-teori yang dihasilkan dari eksperimen-eksperimen kebenarannya tak dapat diyakini karena mengandung kontradiksi, benar sekaligus salah. Ketiga konsepsi ini tidak bersumber dari pengalaman eksternal, tetapi hadir setelah kumpulan konsepsi indra hadir dalam pikiran, manusia memiliki peluang untuk menilai dan menegaskan prinsip-prinsip konsepsi akal murni yang digali dalam akal.

Fakta lain, jika akal tidak memiliki pengetahuan objektif, bagaimana kita bisa mengafirmasi keberadaan inti materi atau substansi materi. Persepsi indriawi hanyalah menyaksikan fenomena-fenomena materi dari inti materi. Misalnya bunga mawar, persepsi indriawi hanya menangkap kelopal bunga mawar, kemerahan bunga, mencium wewangian bunga mawar, meraba kelenturan bunga mawar, dan unsur-unsur bunga mawar lainnya. Pengalaman indriawi tidak menangkap substansi materi sebagai tumpuan dimana unsur-unsur bunga mawar tadi saling berhubungan. Tanpa persepsi akal yang objektif kita akan mengatakan tidak ada inti materi bunga mawar, karena inti materi tidak hadir dalam pengetahuan empiris. Di sini akal mengetahui secara pasti keberadaan inti materi bunga mawar setelah indra mempersepsi fenomena bunga mawar.

Meski betapa pun berartinya pengetahuan yang dihasilkan oleh eksperimental dan pengalaman dan tak dapat diragukan bahwa pengetahuan-pengetahuan eksperimental telah memberikan sumbangsi yang sangat luar biasa bagi kehidupan manusia. Tetapi penolakan terhadap kemampuan akal untuk memberikan pengetahuan yang objektif bagi manusia adalah kesalahan yang amat besar pula. Sebagaimana yang dilakukan oleh kaum eksperimental, yang mengungkung kemampuan akal manusia semata-mata sebagai alat. Sebagaimana yang tampak pada anggapan para filsuf empiris bahwa kesadaran dan pengetahuan manusia diawali setelah manusia memulai kehidupan praktis. Pengetahuan meluas seiring dengan meluasnya pengalaman dan pengetahuan manusia berkembang-bervariasi jenisnya seirisan dengan bentuk-bentuk pengalaman yang berbeda-beda pula. Atas dasar ini, kaum empiris menjadikan pengalaman sebagai kriteria umum pengetahuan.

Perlu ditegaskan, bahwa tahapan pengetahuan manusia selanjutnya bukan sekedar kerja akal sebagai alat yang semata-mata mengorganisir pengetahuan-pengetahuan indriawi, melainkan akal menemukan konsep-konsep baru melalui disposesi yang tidak bersumber dari pengalaman empiris yang bervariasi. Dan konsep-konsep yang dihasilkan akal bukanlah ide-ide bawaan lahir atau pemberian Tuhan saat manusia lahir.

Seperti yang telah diungkapkan di atas, bahwa pada tahap awal konsep-konsep yang hadir dalam pikiran seluruhnya bersumber dari persepsi indra secara langsung. Namun kemunculan konsepsi akal ini melalui suatu gerak substansial dan perkembangan dalam jiwa manusia. Jiwa manusia itu sendiri menyertakan pengetahuan awal ke dalam potensialitas, dan melalui gerakan substansial keberadaan jiwa meningkat intensitasnya sehingga objek-objek yang diketahui secara potensial menjadi diketahui secara aktual. Melalui gerak substansial inilah kita bisa memahami bagaimana pengetahuan akal aktual.

Penulis: Rahmat Mustari

Baca Lainnya