Puasa, Selarik Keinginan, dan Manusia Otentik

PUASA kini telah berada di pengujung bulan ramadan. Sebentar lagi kita menggapai fitrah. Sebulan penuh kita lewati puasa di tengah wabah pandemi dengan melatih elemen spiritualitas, egoisme, kesombongan, kerendahan hati, solidaritas, kepedulian, dan dimensi batiniah lain dengan berpayah-payah, melakukan qiyam al-lail dan perenungan eksistensial (i’tikaf) semata-mata merengkuh keridhaan-Nya.

Kita juga tanpa lelah menyelami jagat makna kepekaan sembari menajamkan hikmah keilahian agar lapisan-lapisan realitas ontologis dapat dipahami dengan mata batin. Puasa, tidaklah sekadar selarik keinginan sesaat yang dientaskan tatkala tiba waktu berbuka. Bukan pula medan menguji kedalaman dan kesalehan asketis pribadi setiap Muslim. Berpuasa di bulan ramadan, lebih merupakan upaya menggayuh kesadaran eskatologis. Menekan keakuan dan keangkuhan serendah-rendahnya.

Memenjarakan watak hedonisme yang kerap meluah hasrat sehari-hari untuk tidak longgar dan gegai di kemudian hari. Ramadan merupakan bulan penuh keistimewaan, di mana tiap subuh, pagi, siang, petang, malam, hingga pertiga malam, ibadah, tadarusan, kepasrahan, dan ketundukan lainnya dianyam dalam khusyu’ mencari ridha-Nya secara siklis. Di bulan penuh maghfirah ini, puasa ikut mendedahkan jati diri, memantapkan kedirian sebagai manusia yang sesungguhnya, mematangkan emosi meraih apa yang dijanjikan dalam sabda dan firman Ilahi. Mengejar ampunan-Nya.

Tidak sekadar sebagai ritual tahunan untuk mencapai maqam hakikat tertinggi sebagai insan paripurna. Lebih dari itu, puasa sebenarnya dan sepatutnya, menguatkan hakikat kedirian, meningkatkan soliditas, meneguhkan apa yang dirasakan kaum papa, memerdekakan naluri-naluri rendah yang tidak sepantasnya disandang manusia.

Puasa merupakan medan riyadhah, melatih diri untuk bertatih-tatih menuju puncak-puncak makrifat. Puasa merupakan medan latihan ruhaniah, penyucian lelaku dzalim dan keburukan yang pernah kita lakukan di alam kesengsaraan, alam samsara, alam inferno meminjam istilah Dante Alighieri (1265-1321) dalam buku kumpulan syairnya A Divina Comedia (1955/2003). Suatu alam di mana manusia berada dalam proses pengotoran nurani.

Foto : freepik.com

Puasa merupakan bulan penyucian diri atas berbagai kedzaliman dengan merenungi segala kesalahan, inilah alam Purgatorio, alam yang menjadikan manusia untuk kembali menjadi baik, meraih fitrah untuk kembali memasuki alam paradiso, alam yang membawa kebahagiaan.

Puasa, yang dilaksanakan umat muslim sedunia merupakan lahan penggemblengan pribadi mandiri, kukuh, dan sabar. Terlepas sebagai perintah imperatif Tuhan kepada kaum Muslimin, puasa merupakan medium efektif pembentuk pribadi-pribadi kuat, peduli, dan tunduk terhadap nilai-nilai moralitas ajaran Islam yang diharapkan dapat dibumikan dalam kehidupan sosialnya.

Pasca ramadan, pribadi-pribadi yang telah digembleng selama sebulan berpuasa untuk menjadi manusia otentik, dapat memberi resonansi bagi sikap, tutur kata, dan kepribadian fitri yang harus terejawantahkan dalam kehidupannya secara moralitas. Melatih bilah-bilah kepekaan di tengah problem sosial yang kian pekat. Apa yang telah diperoleh selama puasa, adalah menghunjamkan nilai-nilai keilahian dalam kehidupan sosial.

Manusia otentik (otentisitas), merupakan manusia yang menyadari dirinya yang memiliki nilai-nilai kebaikan dan kejujuran yang harus diwujudkan. Namun, pasca puasa, seringkali kita temukan pribadi-pribadi yang secara sosial justru bertolak belakang dengan nilai-nilai moral yang dikandung bulan ramadan itu.

Kita kembali mengagungkan keserakahan, ketidak-jujuran, dan mengabaikan kebaikan-kebaikan sosial bersama. Usai puasa, tentu kita akan dihadapkan dengan persoalan sosial yang tidak ringan. Bahkan mungkin begitu rumit. Terutama menghadapi wabah pandemi yang tak pasti kapan berakhir.

Persoalan-persoalan itu, mungkin saja akan menguji sejauh mana kedalaman makna puasa yang telah kita lakukan selama sebulan di tengah wabah pandemi yang membayang kehidupan kita dalam serba keterbatasan. Akankah kita mampu memberikan keteladanan dalam semua aspek : politik, ekonomi, sosial budaya, lingkungan, dan sebagainya. Atau justru meruap, dan kembali menjadi manusia yang mempraktikkan cara-cara tidak elok.

Kembali mempraktikkan tindakan-tindakan koruptif, menipu, dan mengambil hak orang lain dengan segala dalih, sembari menawarkan narasi-narasi agung dan suci. Menanamkan asumsi dan argumentasi tidak logis untuk kemudian orang meyakini sebagai orang suci dan baik. Kiranya puasa yang dilaksanakan dapat membentuk kita sebagai pribadi-pribadi otentik, jujur, teguh, dan menjadi lebih baik dalam menghadapi tantangan perubahan zaman yang demikian berat dan keras.

Jadi, dengan puasa, kita mengokohkan tonggak-tonggak waktu untuk tidak memperagakan keinginan-keinginan dan hasrat terendah yang terkadang usai puasa kita tak lagi berkomitmen merawatnya. Terjebak pada rutinitas yang membawa kita pada pertarungan-pertarungan memperjuangkan hasrat rendah.

Semoga puasa kali ini membentuk kita menjadi manusia otentik yang sabar dan tangguh. Manusia yang tidak hanya secara lahiriah terlihat saleh, tetapi juga secara sosial, mampu mengharmonikan ucapan, tindakan, dan lelaku. Manusia yang tahu menempatkan diri di tengah atmosfir makna dan ujian. Karena itu, puasa bukan soal selarik keinginan. Puasa lebih merupakan soal pencapaian jati diri meraih fitrah yang sejati, untuk mematangkan diri di tengah berbagai perubahan dan adaptasi dalam bimbingan Ilahi Rabbi. Minal ‘aidzin wal faidzin, Selamat Idul Fitri 1441 H.[ ]

Tinggalkan Balasan