Sib In, Cara Orang Patani Menangkap Ikan di Pesisir

Medio 2019 lalu, kali terakhir saya melawat ke Patani. Air laut sedang surut. Hamparan bebatuan membentang luas di muka laut. Seperti biasa, di pesisir Pantai Desa Tepeleo, Kecamatan Patani Utara, Halmahera Tengah, Maluku Utara, tampak anak-anak kecil berduyun-duyun ke pantai.

Tiba di pantai, tepat di atas hamparan bebatuan, mereka membentangkan potongan kain berukuran sekira 1-2 meter berbentuk persegi panjang. Dengan kain itu, kawanan bocah ini kemudian menangkap ikan-ikan kecil yang bersembunyi di balik bebatuan dan rumput laut.

Pada beberapa adegan, anak-anak itu memekik rasa gembira mereka saat sudah mendapat ikan. Dengan serentak, mereka berteriak, “Saro…!”

Artinya, hasil tangkapan sudah masuk di dalam jebakan. Mereka juga bertarung melawan panasnya terik matahari. Sesekali, anak-anak itu seolah lupa waktu untuk segera pulang.

Orang Patani, umumnya, menamai cara melaut ini dengan sebutan sib in, yang memiliki arti menangkap atau menjerat ikan. Sudah turun-temurun, cara melaut di pesisir itu, menjadi kebiasaan masyarakat. Tradisi ini masih dapat disaksikan pada sejumlah daerah pesisir di Patani, seperti Desa Tepeleo.

Bukan cuma anak-anak, sib in juga digeluti oleh kalangan remaja, hingga orang-orang tua (lansia). Sudah biasa, saat air laut sedang surut, orang-orang terlihat berbondong-bondong menuju pantai untuk menangkap ikan-ikan berukuran kecil itu.

Dua remaja perempuan menangkap ikan (sib in) di pesisir pantai Patani. Foto: Rian

Ada banyak jenis ikan yang ditangkap. Namun hasil tangkapan dari sib in tidak untuk dipasarkan, melainkan hanya untuk kebutuhan makan rumah tangga. Dikarenakan hasil tangkapan dari sib in biasanya lebih sedikit dibanding cara melaut lainnya.

Dari semua jenis ikan yang ditangkap kebanyakan adalah anak ikan dingkis (Siganus Canaliculatus), baronang (siganus sp/samandar) dan jenis ikan lainnya yang hidup di pesisir. Jika menyebut nama ikan, setiap daerah tentu memiliki istilah tersendiri.

Untuk jenis ikan dingkis dan baronang (keluarga siginidae), orang Patani, biasa menyebutnya ikan yowon dan silete. Begitu juga nama-nama ikan lainnya. Penamaan ikan ini, hidup subur pada artikulasi masyarakat setempat.

Orang Tionghoa, percaya bahwa ikan dingkis adalah ikan pembawa keberuntungan. Memasak ikan ini dalam rumah, berarti menghadirkan keberuntungan di lingkungan keluarga. Hal itu dilansir dalam sebuah artikel “kado imlek dari pelaut Cina selatan” yang memotret aktivitas orang Tionghoa kala memborong ikan dingkis saat perayaan imlek di Kepulauan Riau (Kepri).

Hamparan bebatuan yang muncul ke permukaan laut itu rupanya tidak hanya disambangi oleh mereka yang melakukan tradisi sib in. Cara lain untuk mendapat hasil laut juga hidup membanjiri aktivitas tersebut.

Siang itu, sekira pukul 13.00 WIT, masih di suasana pesisir, terlihat ada yang menelusuri bebatuan laut dengan menggenggam peralatan seperti peda (pisau besar yang sudah tumpul). Biasanya, mereka terlihat sedang mengeruk bebatuan dan pasir untuk mencari jenis kerang laut, biota, yang dapat disantap. Sebuah pemandangan yang telah diwariskan sejak dahulu.

Cara menangkap ikan ini hanya bisa dilangsungkan saat air laut sedang surut (dalam bahasa Patani: gete tubu). Orang-orang membanjiri sepanjang tepi laut itu untuk menemukan hasil melaut mereka di tengah ganasnya matahari, atau barangkali saat hujan sedang mengguyur.

Tiga remaja perempuan menangkap ikan (sib in) di pesisir pantai Patani. Foto: Rian

Memang ada banyak nama dan sebutan untuk ragam jenis tradisi melaut di pesisir ini. Maluku Utara (Malut) dengan dunia maritimnya selalu menyimpan banyak keindahan dan keunikan. Kekayaan alam bahari ini terhampar dari bibir pantai hingga ke dasar samudra.

Luas laut Maluku Utara berdasarkan data BKPM Malut, kurang lebih dari 113.796,53 km2 atau 69,08 persen. Sedangkan luas daratan 32.004,57 km2 atau 30,92 persen. Menunjukkan kawasan laut lebih besar dari daratan. Itulah mengapa, tradisi yang menghidupi pesisir pantai begitu marak dapat disaksikan dengan segala pemandangan yang begitu eksotik.

Cukup dengan peralatan sederhana dan seadanya, orang-orang pesisir di Maluku Utara dapat menangkap ikan. Sebut saja, tradisi yang hanya menggunakan sepenggal kain berukuran kurang lebih 1-2 meter di Patani itu.

Tak disangka, hasil tangkapan dari cara ini juga dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Hasil tangkapan dari sib in, paling tidak, akan diolah menjadi masakan bernama ikang kue (potongan ikan yang dicincang dan dicampur dengan tepung kemudian digoreng).

Walau begitu, sib in bukan satu-satunya tradisi melaut di Patani. Secara umum kosmologi mata pencaharian orang Patani adalah bertani. Mereka berpenghasilan dari sumber daya rempah-rempah seperti cengkeh, pala, kopra, dan sebagiannya menjadi nelayan. Dengan mata pencaharian itu, masyarakat pun hidup serba berkecukupan.

Alam dan pantai-pantai di Maluku Utara tidak hanya menawarkan pemandangan yang indah. Di sini, tersimpan banyak budaya dan cerita masyarakat yang hidup berdampingan dengan samudra. Cerita tentang manusia pesisir, hutan dan laut,  yang hidup saling membutuhkan, juga saling menghidupi satu sama lain. (*)

Tinggalkan Balasan