Mama Hajar dan Geliat Sagu di Tengah Wabah

Malam itu, Sabtu 28 Maret 2020, di kampung Topo, Kota  Tidore Kepulauan, udara begitu dingin. Seorang perempuan tengah duduk spapa, dibantu anak-anaknya mengupas singkong. Singkong itu kemudian dipisahkan menjadi dua ember, disikat dan dicuci hingga bersih.

Suara azan isya menembus ranting pala dan cengkeh dan masuk lewat ventilasi. Suara azan itu seolah menjadi penanda bahwa perkejaan hari itu harus usai.

Tidak ada pembicaraan atau perkejaan lain setelah membersihkan singkong. Mereka lekas istirahat. Bunyi engsel pintu tak beraturan serta suara derap melewati pintu depan—mereka menikmati malam sunyi, sementara anak-anak keluar menyusuri suasana perkampungan yang lengang.

Deru mesin parut kembali meraung. Om Mur lekas memindahakan dua ember plastik menuju belakang dapur, ruangan beralas papan dengan ukuran 3×4 meter berdinding seng dijadikan ruang khusus membuat sagu.

Mama Hajar tampak membuat sagu di atas alat yang sederhana. Foto: Thaty Balasteng

Sedangkan sang istri, Mama Hajar membututinya, memberi penerang menggunakan senter Handphone sebegai penerang di dalam pabrik kecil tersebut. Matahari masih nyenyak, jarum jam menunjukan masih pukul 05.30 WIT. Dibantu sang istri, singkong yang telah dibersihkan kemudian dimasukan dalam mesin parut—sebuah ember aluminium bercorak loreng siap menampung singkong yang berubah menjadi bubur.

Tak berselang lama dua bokor aluminium penuh, lalu dimasukan dalam bekas karung gula ukuran 50 kg, serta dijinjing menuju mesin peras manual. Balok kayu berbentuk persegi panjang vertikal dan dua helai papan ukuran panjang tangan anak kecil menjadi pengalas. Hanya dalam hitungan detik air putih susu menetes, berguyuran.

Saat itu, anak-anak di rumah cukup lelap menikmati liburan akibat pendemi Covid-19. Mama Hajar terlihat menyiapkan sarapan alakadarnya; empat potong sagu dan Rica Bai aroma cengkeh, jahe menyatu dengan pandan menarik rasa penasaran untuk dinikmati, dua gelas teh rempah dengan kepulan asap panas. Tampak pasangan suami-istri ini menikmati pagi dengan sederhana.

Om Mur lekas kembali ke belakang, memperbaiki letak kayu ditungku, disiapkan untuk pemanas Forno serta memindahkan singkong yang dirasanya kering. Tak ada lagi kandungan air, laki-laki paruh baya itu menuju mesin parut dan menenteng segepe yang siap untuk dihaluskan menjadi tepung.

Mesin parut kembali menyala, gumpalan singkong hasil perasan masuk satu per satu, hampir setengah jam berlalu dua bokor aluminium penuh dengan tepung singkong, beralas spapa mama Hajar menjaring tepung sagu menggunakan ting-ting memastikan tidak ada gumpalan atau pun kotoran yang tercampur di dalam tepung.

Alat pembakar yang digunakan untuk membuat sagu. Foto: Thaty Balasteng

Dua baskom tepung siap dicetak mejadi sagu. Om Mur melakukan penyaringan tepung di atas tungku. Tangan perempuan syarat pengalaman cukup lincah, dengan bastaka pembatas agar setiap tepung yang dituangkan tidak tercecer. Dipermukaan forno yang sudah diisi tepung ditutup rapat, dibiarkan sekitar 7-10 menit, tepung berubah padat—itulah sagu siap untuk dikonsumsi.

Perempuan pemilik nama lengkap Rusmiyati Kadir ini adalah salah satu pengelola sagu yang masih bertahan  dan konsinten hingga sekarang. Meskipun di tengah wabah Covid-19, ia tak menghentikan aktivitas membuat sagu.

Sejak 2018, ia memulai menjadi pengelola sagu. Ia mengetahui cara membuat sagu dari seorang temannya hingga kemudian membuatnya sendiri di rumah. Di samping karena pendapatan dalam penjualan sagu bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, juga untuk menyekolahkan kelima anaknya.

Dalam sebulan perempuan itu memperkirakan pedapatan dari hasil sagu berkisar tiga jutaan. Ia juga menyimpan uang dari jualan sagu di celengan, yang katanya dibutuhkan untuk keperluan sekolah anak-anak.

Dari sagu, perempuan berumur 40 tahun itu mampu menunjang hidup keluarganya. Suaminya pernah bekerja sebagai tukang bangunan. Namun sang suami memilih istirahat setelah jatuh sakit. Ia menceritakan, para konsumen sering memesan lewat telepon dan langsung diantar. Ada juga yang datang mengambil di rumah. Biasanya para konsumen di luar kampung pesanannya mencapai Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu per sekali membeli.

Mama Hajar mengaku, singkong sagu yang dibuatnya diproduksi sepekan dua kali. Dalam sekali produksi ia membutuhkan singkong dua karung beras 50 kg. Itu sudah bisa menghasilkan 100 lebih lempeng sagu atau kurang lebih sebanyak 21 forno.

Bulan ini Mama Hajar kebanjiran pesanan sagu. Wabah virus yang sedang melanda dunia saat ini ternyata membuat jumlah permintaan semakin banyak. Perempuan berkulit sawo matang itu bilang, para pemesan sebagiannya membeli untuk keperluan stok pangan untuk hadapi ancaman wabah corona. Menjelang Ramadan apalagi, kata dia, jumlah pesanan cukup terbilang banyak. Dari tangannya, sagu itu sebenarnya sedang bangkit kembali—saat orang-orang sedang merasa terancam dengan krisis pangan lain.

Catatan:

Forno: mal cetak sagu terbuat dari tanah liat

Sagu: makanan khas dari Maluku berbahan dasar tepung singkong

Rica Bai: sambal khas Tidore

Segepe: singkong yang diparut berat 50 Kg

Spapa: Alat duduk

Ting-ting: jaring untuk memisahkan gumpal tepung sagu

Bastaka: alat untuk membersihkan abu kayu dalam forno

Tinggalkan Balasan