Ternate: Pulau Geopark Nasional

Geopark global adalah kawasan yang memiliki warisan geologi bernilai internasional. Penetapan suatu kawasan dijadikan Geopark tak mudah, dimana warisan alam tersebut wajib digunakan untuk kemaslahatan masyarakat setempat secara berkelanjutan: berbasis konservasi, edukasi, dan ekonomi kreatif. Hal ini disepakati oleh Unesco.

Siang kemarin, tepatnya pada Rabu, 18 Maret 2020 di Grand Fatma Cafe, di kelurahan Moya, Ternate, Maluku-utara telah terlaksana kegiatan FGD (Focus Group Discussion) dengan tema “Menakar potensi Geoheritage pulau Ternate menuju Geopark Nasional” yang diprakarsai oleh Dinas Pariwisata Kota Ternate dan IAGI ( Ikatan Ahli Geologi Indonesia) Maluku Utara. Kegiatan ini juga dihadiri berbagai elemen seperti camat, pemerhati lingkungan, perwakilan dari beberapa komunitas, dan para awak media.

Kota Ternate di lihat dari puncak Gamalama. Pulau Tidore dan Maitara nampak terlihat. Foto: Ipang Mahardhika/jalamalut

Kegiatan FGD adalah salah satu dari beberapa langkah yang akan ditempuh oleh Dinas Pariwisata Kota Ternate dan IAGI menuju terbentuknya Pulau Ternate sebagai kawasan Geopark Nasional.

Hal ini senada dengan Perpres nomor 9 tahun 2019 yang salah satu butirnya berbunyi: Bahwa Keragaman Geologi (geodiversity) yang dimiliki Indonesia memiliki nilai Warisan Geologi (geoheritage) yang terkait dengan Keanekaragaman Hayati (biodiversity) dan Keragaman Budaya (culture diversity), serta dapat dimanfaatkan melalui konsep pengembangan Taman Bumi (geopark) yang berkelanjutan, utamanya dalam rangka pengembangan destinasi pariwisata.

Suasana FGD di Grand Fatma Cafe. tema FGD “Menakar potensi Geoheritage pulau Ternate menuju Geopark Nasional” Foto: Ipang Mahardhika/jalamalut

“Momentum dengan adanya Perpres nomor 9 tahun 2019 tentang pengembangan Geoheritage ‘memaksa’ daerah untuk menangkap potensi ini dan Ternate melihatnya sebagai sebuah potensi besar, karena secara eksistensi potensi Ternate sudah miliki, tugas kita sekarang adalah bagaimana kita menanta dan mengelola potensi tersebut,” ujar Rizal Marsaoly, Kepala Dinas Pariwisata Kota Ternate.

Sementa itu, Ketua IAGI Maluku Utara, Abdul Kadir D Arif mengatakan, tujuan Geopark ini adalah untuk edukasi, penelitian dan kemudian mampu mengangkat sumber daya ekonomi lokal.

Abdul Kadir juga menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap pemerintah kota dalam hal ini Wali Kota Ternate yang telah menandatangani pengusulan untuk kota Ternate sebagai Pulau Geopark Nasional dan Dinas Pariwisata yang telah mengambil langkah-langkah awal menuju suksesnya cita-cita tersebut.

Penandatanganan MoU Dinas Pariwisata Kota Ternate dan IAGI Maluku Utara di Grand Fatma. Foto: Ipang Mahardhika/jalamalut

Pulau Ternate sendiri memiliki 16 titik Geodiversity, salah satunya adalah kawasan Batu Angus yang terletak di kelurahan Kulaba, Ternate Barat, kota Ternate. Kawasan ini adalah tumpukan batuan lava skoria yang terbentuk sesaat setelah letusan maha dahsyat gunung Gamalama pada tahun 1673.

Kedepannya, setelah Pulau Ternate sudah ditetapkan sebagai kawasan Geopark Nasional, dengan minimal tiga kegiatan yang berlangsung yakni konservasi, pendidikan, dan geowisata, semoga selanjutnya bisa menjadi anggota GGN (Global Geopark Network).

Sampai saat ini, tercatat ada 35 negara telah tergabung dalam GGN dan baru 4 kawasan di Indonesia yang diakui GGN yakni Batur Global Geopark di Bali, Gunung Sewu Geopark di Yogyakarta, Rinjani Global Geopark, dan Ciletuh-Pelabuhan Ratu Global Geopark.

Mungkin ada yang bertanya apa itu Geopark? Geopark merupakan singkatan dari Geological Park, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Taman Geologi atau Taman Bumi. Awal tujuan Geopark adalah melindungi warisan geologi yang berada di negara-negara Eropa oleh organisasi non pemerintah bernama EGN (Europe Geopark Network) yang mulai diperkenalkan pada 2001.

Keberadaan Geopark oleh Badan dunia UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) dikembangkan dan difasilitasi dengan membentuk organisasi GGN (Global Geopark Network) pada 2004.

Pada kesempatan berikutnya akan dijelaskan tentang lokasi 16 titik Geodiversity yang telah diteliti oleh kawan-kawan IAGI ( Ikatan Ahli Geologi Indonesia), tunggu kelanjutannya.

Tinggalkan Balasan