Jangan ‘Remehkan’ Cap Tikus

Sejak wabah Corona virus (COVID-19), harga masker di pasaran kian melonjak, sanitizer berbahan etanol (ethyl alcohol) pun kian terbatas. Hal itu karena dua objek tersebut menjadi rekomendasi dalam upaya pencegahan penularan COVID 19. Akhirnya kepanikan terjadi usai produksi tersebut habis dan tak tentu diproduksi. Demikian juga di Maluku Utara.

Bio-ethanol

Sebenarnya, masyarakat tak perlu pesimis dengan berkurangnya stok produksi Bio-ethanol, sebab bahan baku bio-ethanol di Maluku Utara sangat mumpuni, hanya saja pemerintah tak memberdaya usaha para petani dalam menghasilkan ethanol di sana. Selain padi dan jagung, enau juga adalah sumber bio-ethanol yang baik karena kandungan fruktosa pada nira yang sangat tinggi dapat difermentasi menjadi ethanol.

Enau atau aren (Arenga Pinnata), atau di Minahasa dan sebagian Maluku Utara mengenalnya dengan nama ‘Seho’/‘Pohon Seho’, Maluku kuno juga mengenalnya dikenal dengan nama Pohon ‘Mana’/‘Nawa nawa’ (pemberi berkat, kesaktian dan keberanian). Tanaman yang berkeluarga dengan kelapa ini murni tanaman endemik Nusantara. Merupakan tanaman mayoritas yang dikelola oleh masyarakat. Di Indonesia, kawasan penghasil enau terbesar ada di pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, kepulauan Maluku, dan Maluku Utara.

Nira Aren hingga cap tikus

Di Minahasa, nira pada aren awalnya dicampur dengan husor (agar aren tak menjadi gula) lalu dimasak pada tungku kedap udara. Uap bening yang dihasilkan inilah kemudian dialirkan ke dalam batang bambu lalu ditampung dalam botol, maka jadilah sebuah cairan bening Bio-ethanol yang dikenal dengan nama Cap Tikus.

Minuman ini positif memabukan, sebab saat dikonsumsi, sulingan ethanol aren itu meningkatkan pelepasan Dopamin (Neurotransmitter) yang menimbulkan perasaan nyaman pada sistim saraf pusat, namun pada proses ini, otak biasanya merekam setiap perubahan Dopamin hingga sistim saraf mengalami Craving (kecanduan) untuk mencapai kapasitas Dopamin yang sama.

Penyalahgunaan dan kelebihan konsumsi ethanol inilah yang dikhawatirkan pemerintah pada konsumen, terutama pada anak, remaja, lansia, yang sudah barang tentu dapat merusak kalibrasi normal dopamin dalam tubuh dan ketahanan saraf yang berujung pada kematian bila dikonsumsi berlebihan (overdose) karena efek toxic. Namun pada mereka yang depresi, cap tikus mampu menjadi solusi untuk menenangkan tubuh disaat depresi, karena kurangnya produksi dopamin bila dikonsumsi dengan jumlah terbatas.

Selain berbahaya pada usia dini dan lansia, cap tikus juga bahaya bagi para pengendara kendaraan aktif yang sangat membutuhkan konsentrasi agar tidak berujung kecelakaan lalu lintas. Pada tahun 2008, dr.Wiargita yang bertugas di pusat trauma center Kota Denpasar (Bali) dalam tempointeraktif.com mengatakan sepanjang tahun itu, sebanyak 225 pasien masuk Unit gawat darurat (UGD) di Rumah Sakit, 40 % (120 orang) diantaranya masuk karena kecelakaan lalu-lintas yang disebabkan oleh intoksikasi Alkohol (mabuk).

Sanitizer darurat

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) untuk COVID-19 merekomendasi penggunaan Sanitizer atau Handscrub dengan kandungan bahan Alkohol minimal 70%. Pertanyaannya apakah Cap Tikus mampu andil sebagai Sanitizer pengganti? secara jenisnya berbeda, namun kadar alkoholnya secara positifistik mampu sebagai disinfektan bila ditingkatkan agar mencapai kadar maximal.

Hasil gambaran kadar alkohol pada Cap tikus memiliki rerata kandungan alkohol sebesar 25 %. Namun peneliti dari Balai Riset dan Standardisasi Industri Manado, Petrus Patandung mengatakan bahwa kadar alkohol dalam kandungan Cap tikus mampu ditingkatkan hingga 82% dengan menggunakan peran Kapur. Menurutnya, menaikan alkohol 25% pada Cap tikus ke 82 % membutuhkan sebanyak 150 gr kapur durasi suling maksimal 4 jam dengan ketahanan max suhu 80 derajat Celcius tidak pada pembuatan alkohol laiinya yang menggunakan panas hingga 100 derajat celcius. Tentu harus dikelola dengan pelatihan yang sederhana namun profesional.

Jaga dan lindungi aset berharga daerah

Seandainya kita mampu mengelola ini, tentu kita takkan bergantung pada produk Sanitizer di pasaran dan memiliki cadangan Bio-ethanol yang cukup. Peristiwa pembakaran pohon Seho (tanaman Aren) baru-baru ini sungguh disayangkan dengan tidak melihat asas pemanfaatannya kini. Pemerintah harus melarang kebijakan pemusnahan pohon seho yang tidak pro terhadap nilai-nilai prinsip produksi ekonomi lokal dan lingkungan hidup. Pemerintah juga diharapkan tidak memusnahkan produksi Cap Tikus agar bahannya dapat dikelola menjadi bahan cadangan disinfektan dikemudian hari kala terjadi kelangkaan Sanitizer pasaran kelak.

Kecepatan wabah tak bisa diprediksi, sebab bisa saja laju penularan lebih cepat daripada alat dan bahan pencegah seperti Sanitizer dan disinfektan di Indonesia yang bertujuan membantu masyarakat terlindungi paparan COVID-19. Belum lagi lambatnya sebaran produk terhambat karena adanya usaha penimbunan yang terjadi oleh oknum cukong.

Harapannya, pemerintah tentu harus mendukung usaha tani dan produksi lokal Cap Tikus dalam kelola bahan Bio-ethanol, agar Cap tikus tak hanya sebagai minuman keras lokal kedaerahan saja tapi dalam sudut pandang kuota cadangan pertahanan kesehatan wilayah agar produknya dikelola menjadi bahan darurat sanitizer/handscrub yang tidak terbuang sia-sia, atau termusnahkan lewat regulasi institusi dan paradigma sosial.

Panjang umur petani Maluku Utara!

Referensi

tempointeraktif.com
Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
Riset Petrus Patandung, Peneliti dari Balai Riset dan Standardisasi Industri Manado, dengan judul ‘THE EFFECT OF LIME FOR AN INCREASE IN ALCOHOL FROM ‘CAP TIKUS’. Jurnal Penelitian Teknologi Industri Vol. 10 No. 1 Juni 2018: 11-16 ISSN No: 2085-580X

Tinggalkan Balasan